Renungan Harian Katolik: Maria Memuji Allah Ketika Ia Dipuji

Renungan Harian Katolik

Bacaan Lainnya

Senin, 22 Desember 2025

Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD

MARIA MEMUJIKAN TUHAN SAAT IA DIPUJI

(1Sam 1:24-28; Mzm 1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd; Luk 1:46-56)

“Jiwa ku memuji Tuhan, dan hatiku bersuka cita karena Allah, Penebusku.” (Luk 1:46-47).

Pujian, penerimaan, dan apresiasi terhadap prestasi yang membanggakan sering kita temui. Berita mengenai Maria yang akan menjadi Ibu Yesus Tuhan mulai menyebar di kalangan keluarga. Tanda-tanda fisik ia mengandung melalui Roh Kudus semakin jelas terlihat.

Kedatangannya ke rumah Elisabet disambut dengan hangat dan penuh pujian bahagia karena statusnya sebagai Pengantin Roh Kudus dan Ibu Putra Allah.

Ia mengakui dengan tulus bahwa apa yang terjadi kepadanya adalah perbuatan besar Tuhan. Maka ia menyadari bahwa segala pujian atau apresiasi yang diterimanya, ia harus membalasnya dengan melanjutkan pujian tersebut kepada Sang Pemilik yang telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Semua keturunan dapat mengatakan dia bahagia, namun yang lebih bahagia dan layak dipuji adalah Allah yang menginginkan semua orang selamat dengan percaya kepada Sang Sabda, Mesias Imanuel: Allah bersama kita yang sedang ia kandung dan akan segera lahir ke dunia.

Keyakinan yang taat dan setia kepada Tuhan membuat Maria sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Hal ini mencerminkan rasa takut yang memperkuat iman kita bahwa tanpa Tuhan kita tidak ada, tanpa iman terhadap kehendak-Nya bagi kita, tidak akan terjadi mukjizat, dan harapan akan keselamatan pun hilang.

Kita memerlukan berkat Tuhan dalam kehidupan. Berkat ini hanya diberikan secara khusus kepada mereka yang takut kepada-Nya (Luk 1:50). Seseorang yang takut kepada Tuhan seperti Maria terus-menerus menerima aliran berkat Tuhan yang tak pernah putus hingga kekekalan.

Hana yang datang menghadap Eli, hamba Tuhan, untuk berdoa bersama-sama agar diberi anak dan akan menyerahkan anaknya kembali kepada Tuhan jika ia melahirkan. Tuhan mengabulkan doanya, dan Samuel, putranya, diserahkan ke rumah Tuhan di Silo. Di bawah bimbingan Eli, Samuel mendengar suara Tuhan dan patuh kepada-Nya.

Pemazmur merespons Firman Tuhan dalam lagunya, “Tuhan membangkitkan orang yang rendah dari tengah debu, dan mengangkat orang dari kotoran, sehingga duduk di antara para bangsawan, serta memberinya tempat kemuliaan.” (1Sam 2:8abcd).

Ketika kita dipuji, siapa yang kita puji sebagai balasannya? Diri sendiri? Orang tua? Atau orang-orang yang pernah membantu dalam kehidupan kita?

Pernahkah Anda memohon sesuatu kepada Tuhan, lalu setelah mendapatkannya kembali menyerahkan-Nya?

Waktu kedatangan Tuhan semakin mendekat. Apakah kita sudah menyadari bahwa hanya melalui kasih sayang surgawi Tuhan, orang-orang yang dianggap hina seperti Maria, Ibu Yesus, dan kita semua bisa ditinggikan? Apakah kita juga memperhatikan sesama yang lemah dan tidak berdaya di sekitar tempat tinggal kita?

Apakah kita khawatir akan kerusakan lingkungan yang semakin memburuk, iklim yang tidak stabil, tanah longsor dan banjir besar yang semakin sulit dikendalikan? Apakah kita telah menerima Sakramen Tobat sebagai persiapan hati dan jiwa untuk menerima Yesus Kristus dalam diri kita?

Ibu Maria, datanglah dan berilah kami kunjungan, agar kami tidak merasa percaya diri secara berlebihan, tetapi malah membanggakan Yesus, Putramu yang menjadi Juruselamat kami.

Semoga bersama Bunda Maria, iman, harapan, dan kasih kami semakin berkembang agar dapat membanggakan Tuhan dan tetap setia melayani sesama yang lemah serta tidak berdaya.

Selamat menjalani kegiatan hari ini. Tuhan memberkati kalian semua.(RP. FF. Arso Kota, Senin/Minggu Adven IV/A/II, 221225)

Pos terkait