– Penunjukan John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia dan Timnas U-23 menandai fase baru dalam perjalanan sepak bola nasional.
Sosok asal Inggris itu dikenal memiliki rekam jejak kuat di level internasional, termasuk membawa Kanada menembus Piala Dunia, serta latar belakang akademik sebagai dosen sport science yang mengedepankan pendekatan ilmiah dan lintas disiplin dalam membangun tim.
Herdman merupakan figur pelatih yang terbilang tidak lazim.
Ia tidak berasal dari jalur mantan pemain profesional elite, namun hampir seluruh spektrum dunia sepak bola telah ia lalui, mulai dari pelatih akademi hingga pengajar ilmu keolahragaan.
Namanya tercatat dalam sejarah sebagai pelatih pertama yang sukses meloloskan tim nasional putri dan putra ke ajang Piala Dunia.
Sepanjang kariernya, sebagaimana dikutip dari ESPN, pelatih berusia 46 tahun itu aktif memperkaya perspektif kepelatihannya melalui berbagai disiplin ilmu.
Ia pernah berdiskusi dengan Dr Ceri Evans, mantan pemain internasional Selandia Baru, terkait pendekatan kepemimpinan tim rugby legendaris All Blacks.
Herdman juga mengadopsi pemanfaatan analitik dari Billy Beane, manajer Oakland A’s yang dikenal lewat konsep Moneyball.
Keberhasilan Kanada lolos ke Piala Dunia sempat dianggap sulit dibayangkan.
Dua tahun sebelum tiket ke Qatar diraih, peluang itu masih tampak jauh.
Format kualifikasi yang diumumkan sebelum pandemi Covid-19 bahkan menempatkan Kanada pada jalur berat.
Namun performa tim berkembang pesat dan stabil. Setelah melewati Kepulauan Cayman dan Aruba, Kanada melaju dengan kepercayaan diri tinggi.
Bahkan Meksiko dan Amerika Serikat gagal menghentikan langkah mereka.
Kanada mengakhiri kualifikasi sebagai pemuncak klasemen dan menjadi tim pertama dari kawasan tersebut yang memastikan diri tampil di Piala Dunia.
Sepanjang fase itu, mereka mencatatkan 11 kemenangan dan tiga hasil imbang, mencetak 50 gol, serta hanya kebobolan enam kali.
Dalam imajinasi olahraga Kanada, hoki es kerap menjadi simbol utama. Namun citra itu perlahan bergeser.
Salah satu momen ikonik terjadi saat bek Kanada, Sam Adekugbe, merayakan gol Cyle Larin ke gawang Meksiko dengan melompat ke tumpukan salju dalam laga kualifikasi 2022.
Kanada memenangi pertandingan tersebut dengan skor 2-1 dan mengamankan empat poin dari Meksiko, termasuk hasil imbang di Stadion Azteca.
Mereka juga meraih empat poin dari Amerika Serikat melalui hasil imbang di Nashville dan kemenangan 2-0 di Hamilton.
Meski terlihat seperti telah mencapai segalanya, Herdman belum pernah membawa tim nasional putra Kanada tampil di putaran final Piala Dunia. Keberhasilan itu tidak datang secara instan.
Sejumlah pemain Kanada memang tampil bersinar di Eropa, seperti Alphonso Davies yang menjuarai Liga Champions bersama Bayern Munchen pada 2020 serta Jonathan David yang meraih gelar Ligue 1 bersama Lille pada 2021.
Namun minimnya sejarah membuat Kanada harus menjalani kualifikasi panjang dan melelahkan.
Tanpa status unggulan, Kanada memulai dari babak awal, melakoni empat pertandingan, lalu menghadapi Haiti dalam duel dua leg.
Kondisi ini mendorong Herdman dan stafnya melakukan analisis mendalam terhadap lawan dan merancang pendekatan taktik yang presisi.
Pendekatan tersebut mencerminkan karakter Herdman yang detail dan adaptif.
Ia memaksimalkan fleksibilitas Alphonso Davies, terkadang memposisikannya sebagai bek kiri dalam skema empat pemain belakang, atau mendorongnya lebih ofensif di sisi sayap.
Sepanjang kualifikasi, Davies berkembang menjadi wing-back ideal, berbahaya saat menyerang namun tetap disiplin ketika bertahan.
Herdman menaruh respek terhadap kekuatan Amerika Serikat dan Meksiko, namun latar belakang hidupnya diyakini menjadi keunggulan tersendiri.
Tumbuh di Consett, County Durham, Inggris utara, membentuk mentalitas pekerja keras yang terus ia tanamkan dalam tim.
Ia meyakini bahwa tidak ada kemudahan dalam hidup, dan setiap peluang harus diperjuangkan. Prinsip tersebut menjadi fondasi budaya kerja yang ia bangun bersama para pemain.
Saat pertama kali menangani tim nasional putra Kanada pada Januari 2018, Herdman menilai suasana pemusatan latihan sebelumnya cenderung santai.
Ia kemudian mengubah budaya tersebut menjadi apa yang disebut para pemain sebagai “brother culture”, yakni lingkungan tanpa kepentingan pribadi dengan satu tujuan membela negara.
Di luar lapangan, Herdman dikenal sebagai pendidik. Ia pernah menceritakan pengalamannya berlari dari sesi latihan akademi Sunderland dan Hartlepool menuju kampus Northumbria University untuk mengajar.
Pada masa itu, ia sangat fokus mengembangkan kapasitas kepelatihannya.
Meski bangga dengan asal-usulnya, Herdman menyadari kariernya tidak akan berkembang jika tetap berada di Inggris, mengingat sistem kepelatihan elite di sana cenderung tertutup bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang pemain profesional.
Keputusan hijrah ke Oseania menjadi titik balik. Di Selandia Baru, ia menemukan lingkungan multidisipliner yang memperluas perspektif kepelatihannya.
Ia kemudian membawa tim nasional putri Selandia Baru tampil di Piala Dunia 2007 dan 2011, serta Olimpiade 2008. Konsistensi tersebut menarik perhatian Kanada.
Pada 2011, Herdman ditunjuk sebagai pelatih tim nasional putri Kanada.
Meski sempat diragukan, fondasi tim sudah tersedia, dengan Christine Sinclair sebagai andalan dan munculnya talenta-talenta baru.
Selama tujuh tahun, ia mempersembahkan dua medali perunggu Olimpiade dan membawa Kanada mencapai perempat final Piala Dunia 2015.
Pada 2018, Herdman mengambil langkah berani dengan beralih menangani tim nasional putra. Keputusan yang jarang terjadi itu terbukti efektif.
Kanada kini menjelma menjadi kekuatan sepak bola yang diperhitungkan, baik di level putra maupun putri.
Meski kerap diragukan, Herdman justru menjadikan keraguan sebagai pemicu untuk mengubah wajah sepak bola sebuah negara.
Kini, tantangan baru menanti John Herdman bersama Timnas Indonesia, dengan harapan menghadirkan transformasi serupa di panggung sepak bola nasional.
Artikel ini telah tayang di Tribunbengkulu.com dengan judul Kisah John Herdman, Mantan Dosen dan Penganut Sport Science yang Kini Bakal Pelatih Timnas Indonesia
