Rencana Indah Maria Sebelum Tewas Dilecehkan Dosen UNIMA,Toga and Cincin Tunangan Tak Pernah Terpakai

Ringkasan Berita:

  • Evia Maria (21), mahasiswi FIPP Unima asal Kepulauan Sitaro, ditemukan meninggal tidak wajar di kosnya di Tomohon
  • Evia merupakan anak harapan keluarga. Orang tua menggantungkan masa depan dan semangat hidup pada dirinya
  • Sebelum meninggal, Evia dijadwalkan mengikuti ujian proposal skripsi pada 6 Januari 2026 dan memiliki rencana pribadi pasca-wisuda

 

Bacaan Lainnya

Duka mendalam menyelimuti keluarga besar dan civitas akademika Universitas Negeri Manado (Unima), Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.

Kepergian Anthonieta Evia Maria Mangolo, atau yang akrab disapa Evia Maria (21), meninggalkan luka yang tak terperi, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pendidikan yang mengenalnya sebagai sosok mahasiswa berprestasi dan penuh harapan.

Evia Maria merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Unima yang ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar kosnya pada Selasa (30/12/2025).

Mahasiswi asal Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara itu mengembuskan napas terakhir di sebuah indekost yang berlokasi di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon.

Kabar Duka yang Mengguncang Sulawesi Utara

Kabar wafatnya Evia Maria sontak menggemparkan masyarakat Sulawesi Utara, khususnya lingkungan kampus Unima.

Suasana duka menyelimuti rekan-rekan mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan yang selama ini mengenal Evia sebagai pribadi yang pendiam, tekun, dan memiliki semangat belajar tinggi.

Semasa hidupnya, Evia Maria dikenal sebagai mahasiswa dengan rekam akademik yang sangat baik.

Ia bukan sosok yang banyak bicara, namun kegigihannya tercermin dari prestasi dan konsistensi dalam menempuh studi.

Mahasiswi Berprestasi dengan Nilai Nyaris Sempurna

Kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali, mengungkapkan bahwa almarhumah merupakan mahasiswi berprestasi dengan capaian akademik yang nyaris sempurna.

“Nilainya 4 koma, semua nilainya A,” ujar Tatali kepada Tribun Manado, Jumat (2/1/2026).

Menurut Cyprus Tatali, Evia bukan sekadar mahasiswa biasa.

Ia adalah anak harapan bagi kedua orang tuanya, yang menaruh asa besar pada masa depan putri mereka. 

Oleh karena itu, pihak keluarga mendesak agar penyebab kematian Evia diusut secara tuntas dan transparan.

“Ini harus diusut tuntas,” tegasnya.

Anak Harapan yang Jadi Penyemangat Keluarga

Di balik prestasi akademiknya, Evia Maria adalah sumber kekuatan bagi keluarganya. Ayah Evia, Antonius Mangolo, mengenang putrinya sebagai penyemangat hidup yang membuatnya terus bertahan bekerja keras sebagai buruh.

Ia menaruh harapan besar agar Evia kelak sukses dan mampu membahagiakan keluarga yang telah berjuang membesarkannya.

“Dia penyemangat saya. Harapan itu besar, tapi api itu sudah padam,” ucap Antonius dengan suara bergetar.

Ungkapan pilu tersebut menggambarkan betapa besar kehilangan yang dirasakan keluarga atas kepergian Evia di usia yang begitu muda.

Kenangan Sang Ibu: Rajin dan Penurut

Hal senada juga disampaikan sang ibu, Sofia Mangolo. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengenang Evia sebagai anak yang rajin belajar dan selalu patuh kepada orang tua.

“Dia rajin dan penurut,” kata Sofia singkat, namun sarat makna.

Bagi keluarga, Evia bukan hanya kebanggaan karena prestasi, tetapi juga karena sikap dan kepribadiannya yang lembut serta penuh tanggung jawab.

Pengakuan Kerabat

Zefanya Brenda Montung (19), sepupu dekat Evia dari pihak ibu, mengenang almarhumah sebagai pribadi yang sangat tertutup, lembut, dan jauh dari kesan suka mengeluh.

Kepada Tribun, Zefanya mengaku memiliki kedekatan yang tak terpisahkan dengan Evia sejak kecil.

Korban adalah kakak sepupu Zefanya, dan hubungan mereka telah terjalin sejak masa kanak-kanak.

“Dari kecil torang dua so dekat (dari kecil kita berdua sudah dekat.

Di keluarga kami dia dipanggil Atang, saya Yaya,” ujar Zefanya, Kamis (1/1/2026) malam.

Sosok Pendiam yang Cerdas dan Berprestasi

Menurut Zefanya, Evia kerap menghabiskan waktu liburan di rumah keluarganya di Manado. Meski dikenal pendiam, Evia adalah pribadi yang sangat pintar dan tekun.

Sejak remaja, Evia sudah dikenal sebagai siswa berprestasi. Bahkan, prestasinya pernah membawanya jauh dari kampung halaman.

“Waktu SMP saja dia pernah ke Bali karena prestasi,” ujar Zefanya melalui sambungan telepon.

Saat berada di Manado, Evia sering kali disibukkan dengan urusan akademik.

Waktunya banyak dihabiskan di depan laptop, mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Masih Aktif Kuliah dan Punya Rencana Masa Depan

Sebelum ditemukan meninggal dunia di Tomohon, Evia diketahui masih aktif menjalani proses akademik di Unima.

Ia bahkan memiliki sejumlah agenda penting dalam waktu dekat yang menunjukkan bahwa almarhumah tengah menata masa depannya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, Evia dijadwalkan akan mengikuti ujian proposal pada 6 Januari 2026 sebagai salah satu tahapan penting dalam penyusunan skripsi.

Tak hanya fokus pada pendidikan, Evia juga memiliki rencana pribadi setelah wisuda.

Salah satunya adalah rencana pertunangan, sebuah fase baru kehidupan yang sudah mulai ia persiapkan.

Namun semua rencana itu kini tinggal cerita. Kepergian Evia Maria meninggalkan tanda tanya besar sekaligus duka mendalam yang belum terjawab.

***

(TribunTrends/Sebagian artikel diolah dari TribunManado)

Jangan lewatkan berita-berita tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook

Pos terkait