, BANGKA– Mitra Penggilingan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus berperan dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.
Sentra pertanian padi mencatat serapan gabah kering panen yang signifikan. Salah satunya Mitra Penggilingan Bulog Marsudi Tani yang berhasil menyerap ratusan ton gabah kering panen (GKP) selama periode panen pertengahan tahun 2025.
Di penggilingan tersebut seorang pekerja tampak mengoperasikan mesin pengolah gabah di dalam ruang produksi yang dipenuhi debu hasil gilingan.
Dengan posisi berjongkok, ia membuka tuas saluran mesin untuk mengeluarkan hasil olahan beras yang mengalir deras ke dalam ember plastik di bawahnya.
Mesin berwarna kusam itu menunjukkan aktivitas produksi yang intens, dengan sisa-sisa tepung beras dan dedak menempel di dinding mesin serta lantai sekitar.
Di sudut ruangan terlihat karung-karung gabah dan peralatan kerja sederhana, menegaskan suasana penggilingan tradisional yang terus beroperasi.
Aroma khas gabah dan debu halus tercium kuat, menyatu dengan deru mesin yang bekerja tanpa henti, menggambarkan denyut aktivitas pengolahan hasil panen petani.
Proses dilakukan secara bertahap untuk menjaga kualitas beras agar tetap memenuhi standar yang ditetapkan Bulog.
Mitra Penggilingan Bulog Marsudi Tani, Desa Rias, Iman Qolbi mengatakan bahwa pada periode pertengahan Juli hingga akhir Oktober 2025, pihaknya telah menyerap gabah kering panen sebanyak 411.875 kilogram.
Penyerapan tersebut dilakukan di sejumlah sentra produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan. Terutama di Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Desa Rias, Desa Serdang, Kecamatan Toboali dan Desa Pergam, Kecamatan Airgegas.
“Penyerapan dilakukan pada masa panen indeks pertanaman (IP-200) di beberapa wilayah pertanian sentra produksi padi di Kabupaten Bangka Selatan,” kata dia kepada , Minggu (28/10/2025).
Diakui Iman penyerapan gabah dilakukan sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan pemerintah pusat, yakni sebesar Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen.
Harga ini menjadi acuan utama dalam transaksi antara mitra Bulog dan petani. Menurutnya, keberadaan program penyerapan GKP oleh Bulog dan mitra penggilingan sangat dirasakan manfaatnya oleh petani.
Dengan adanya harga acuan yang jelas, harga padi di tingkat petani relatif stabil dan tidak mengalami penurunan signifikan saat panen raya. Harga beli GKP dari petani hingga saat ini tetap mengacu pada regulasi pemerintah pusat.
Khusus untuk beras putih milik petani, pembelian dilakukan sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini dinilai tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga mendorong peningkatan produksi padi secara nasional.
“Saat ini harga padi di tingkat petani masih standar, tidak terlalu jatuh. Karena sudah ada acuan harga dari Mitra Bulog sebesar Rp6.500 per kilogram GKP,” jelas Iman.
Namun demikian, selama proses penyerapan gabah, pihaknya juga menghadapi sejumlah kendala, terutama faktor cuaca. Curah hujan yang tidak menentu sepanjang musim panen menjadi tantangan utama dalam proses pengeringan gabah.
Kendala tersebut lebih dirasakan oleh mitra Bulog lainnya yang belum memiliki fasilitas pengering gabah modern. Proses penjemuran yang tertunda akibat hujan berpotensi menurunkan kualitas gabah dan beras yang dihasilkan.
Saat ini, Mitra Bulog Marsudi Tani belum melakukan penyerapan gabah karena petani di Bangka Selatan belum memasuki musim panen.
Penyerapan diperkirakan akan kembali dilakukan pada akhir Desember 2025 seiring masuknya panen padi IP-300. Dengan adanya HPP Rp6.500 per kilogram, penggilingan padi swasta lainnya harus menyesuaikan harga pembelian agar tetap dapat bersaing.
Bahkan, di lapangan terdapat penggilingan swasta yang berani membeli gabah kering panen di atas harga ketentuan pemerintah demi mendapatkan pasokan gabah.
“Dengan harga saat ini penggilingan swasta akan kewalahan karena harus mengimbangi harga Rp6.500 per kilogram. Bahkan ada yang membeli di atas harga ketentuan untuk mendapatkan gabah,” paparnya.
Melalui penyerapan gabah oleh mitra kerja pengadaan Bulog, pemerintah dapat memperkuat cadangan pangan pemerintah (CPP). Dengan demikian, produksi padi diharapkan meningkat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, serta mampu menjaga ketahanan pangan nasional agar lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk penyerapan lanjutan pihaknya masih menunggu instruksi resmi dari Perum Bulog.
Utamanya mengenai jadwal dan target penyerapan berikutnya. Ia berharap pada tahun 2026 mendatang, program penyerapan gabah oleh Bulog tetap berlanjut. Program ini menjadi harapan besar petani karena mampu menekan fluktuasi harga gabah di pasaran.
“Mudah-mudahan tahun 2026 penyerapan masih terus dilanjutkan. Harapan petani, program ini tetap berjalan karena sangat membantu menjaga harga padi,” pungkas Iman.
(/cepi Marlianto)
