Isi Artikel
Awal yang Penuh Keraguan
Kehadiran Ramon Tanque di Persib Bandung awalnya memicu perdebatan. Di tengah tren klub yang lebih memilih pemain asing dari Eropa atau Amerika Selatan, Persib justru mendatangkan striker dari Liga Kamboja. Meski statistiknya menjanjikan, adaptasi tidak berjalan instan.
Di BRI Super League 2025-2026, Ramon kesulitan memanfaatkan peluang menjadi gol. Gol tak kunjung datang, dan kritik mulai bermunculan. Namun, Ramon memilih sabar dan fokus mematangkan diri. Di sisi lain, Bojan Hodak mulai melihat kualitas anak asuhnya itu.
Titik Balik Ramon
Perlahan, perubahan mulai terlihat sejak awal Desember. Ramon mencetak gol perdananya saat Persib menang 3-1 atas Borneo FC pada laga tunda pekan ke-14, pada 5 Desember 2025. Gol itu menjadi pembuka kran kepercayaan diri. Bukan sekadar angka di papan skor, tetapi momentum psikologis yang selama ini hilang.
Setelah itu, Ramon mencetak gol kemenangan penting saat Persib menundukkan Bangkok United 1-0 di AFC Champions League Two, laga penentu lolos dari fase grup. Puncaknya, ia mencetak brace saat Persib menaklukkan Bhayangkara FC 2-0 di pekan ke-15 Super League. Hasil ini sesuai harapan demi mamangkas gap dengan Borneo FC.
Menariknya, gol-gol Ramon lahir bukan di laga pesta, melainkan di pertandingan genting yang menuntut efektivitas dan mental kuat.
Rahasia Bojan Hodak Mengubah Ramon
Kebangkitan Ramon tak lepas dari kecerdikan Bojan Hodak membaca karakter pemainnya. Sang pelatih berhenti memaksakan Ramon menjadi striker yang harus berlari mengejar bola. Sebaliknya, ia mengubah peran Ramon menjadi target man murni. Tugasnya sederhana namun vital: berdiri di depan, menahan bola, menarik bek lawan, membuka ruang, lalu masuk ke posisi finishing.
Dengan pendekatan ini, alur serangan Persib menjadi lebih rapi. Tom Haye mendapat opsi umpan yang jelas, lini kedua lebih leluasa naik, dan bek lawan kehilangan fokus. Meski memiliki tinggi 1,88 meter, Ramon tidak selalu mengandalkan duel udara. Ia lebih sering menang lewat positioning, membaca arah bola, dan menyelesaikan peluang dengan satu sentuhan efektif.
Pendekatan Mental yang Menentukan
Selain taktik, faktor mental menjadi kunci. Bojan Hodak memilih pendekatan suportif alih-alih tekanan. Ia menegaskan tak pernah memberi ultimatum kepada Ramon saat gol tak kunjung datang. Tim pelatih justru terus memberi motivasi dan kepercayaan penuh.
Hodak melihat profesionalisme Ramon dalam setiap sesi latihan. Sang striker terus bekerja keras, berusaha memahami sistem, dan tak pernah menunjukkan sikap menyerah. Kepercayaan itulah yang akhirnya terbayar.
Mesin Gol yang Akhirnya Panas
Kini, Ramon Tanque bukan lagi pemain yang dipertanyakan. Ia telah menjadi bagian penting dari skema Persib, terutama di laga-laga krusial. Transformasinya menjadi bukti bahwa adaptasi membutuhkan waktu, dan pelatih yang memahami karakter pemain bisa mengubah “mesin diesel” menjadi senjata mematikan.
Begitu panas, Ramon tak lagi melambat. Ia melaju turbo, tepat di saat Persib paling membutuhkannya.
