Dalam foto tersebut, saya duduk bersila di lantai rumah, memegang durian seolah-olah itu adalah mahkota. Wajah saya separuh serius dan separuh puas—ekspresi khas orang yang tahu bahwa hidup, setidaknya selama beberapa menit ke depan, akan berjalan dengan baik. Di samping saya, tabung gas berdiri seperti penjaga istana: tabung berwarna hijau dan merah muda, tersusun rapi, seolah-olah ikut menjaga momen suci pembagian kerajaan buah. Lengkap sudah komposisinya: durian sebagai raja, manusia sebagai rakyat setia, dan dapur sebagai istana. Sebuah kerajaan kecil bernama kebahagiaan.
Mengenai durian, dunia hanya mengenal dua sikap yang ekstrem. Ada yang memuji buah ini dengan penuh keyakinan, dan ada pula yang membencinya karena alasan yang sangat logis sekaligus sederhana: baunya. Bagi para penggemar durian, aroma tersebut justru menjadi undangan untuk menikmati buah ini tanpa perlu izin resmi. Namun bagi yang tidak menyukainya, baunya sudah menjadi tanda bahaya, bahkan sebelum buahnya dibuka. Saya termasuk dalam kubu pertama. Bagi saya, durian bukan hanya tentang rasa manis yang melekat di lidah, tetapi juga tentang cerita yang selalu hadir bersama setiap suapan.
Setiap kali menikmati buah durian, pikiran saya selalu kembali ke masa kecil, ke sebuah tempat yang dikenal dengan nama tembawang. Di wilayah kami, di Kalimantan Barat, tembawang merupakan kebun buah yang berada di tengah hutan. Tempat tumbuhnya durian, rambutan hutan, cempedak, jantak, peluntan, serta berbagai jenis buah lain yang mungkin tidak pernah terlihat di etalase toko kelontong. Tembawang bukan hanya sekadar kebun. Ia adalah arsip hidup dari desa, tempat alam dan manusia saling menandai keberadaannya masing-masing.
Di musim buah, khususnya saat musim durian, tembawang berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Dari tempat yang sepi menjadi pasar malam alami. Hampir seluruh penduduk desa datang, tanpa undangan dan tanpa jadwal resmi. Tembawang biasanya dimiliki bersama. Tempat ini sering kali merupakan bekas lokasi desa lama yang ditinggalkan karena berbagai alasan: wabah penyakit, konflik, kebakaran rumah panjang, atau ancaman keamanan di masa lalu. Pohon-pohon buah yang tumbuh di sana adalah warisan tangan-tangan lama yang pernah menanam dengan harapan. Maka hasilnya pun menjadi milik bersama. Sebuah gagasan kepemilikan yang muncul jauh sebelum istilah “ekonomi berbagi” populer.
Bagi kami anak-anak, menjaga durian di tembawang merupakan pengalaman yang tak pernah terlupakan. Pondok-pondok kecil dibangun di sekitar kebun. Terkadang sederhana, terkadang memiliki dua lantai. Orang tua biasanya tinggal di lantai atas, sedangkan anak-anak di lantai bawah. Secara teknis terlihat aman, namun secara mental penuh dengan ketegangan. Karena setiap malam, sambil menunggu buah durian jatuh, orang tua mulai menceritakan kisah-kisah mereka. Dan anehnya, cerita favorit mereka hampir selalu berakhir dengan kisah hantu hutan.
Cerita-cerita tersebut sangat memengaruhi. Anak-anak yang sebelumnya berani berlari di kegelapan, tiba-tiba takut untuk keluar dari pondok sendirian. Masuk ke semak-semak menjadi hal yang menakutkan. Padahal, dalam keadaan biasa, anak-anak selalu yang paling cepat menemukan buah durian yang jatuh. Kami memiliki langkah paling ringan, paling berani, dan paling tidak sabar. Namun setelah mendengar cerita hantu yang terus-menerus, keberanian kami berkurang drastis. Kami memutuskan mengikuti langkah orang tua, dengan jarak yang aman dan doa singkat di hati.
Meskipun durian paling banyak jatuh menjelang pagi. Ketika suhu hutan berubah dari hangat menjadi dingin. Perubahan ini menyebabkan tangkai durian menjadi rapuh. Tiba-tiba terdengar suara yang paling dinantikan sepanjang malam: krsssk… bup… Suara durian meluncur melewati daun-daun dan mendarat di tanah. Suara yang mampu membangunkan siapa pun, bahkan yang pura-pura tidur agar tidak harus menjaga.
Bertahun-tahun setelahnya, saya akhirnya benar-benar memahami segalanya. Cerita hantu itu bukan hanya kisah pengantar tidur. Ia merupakan strategi. Strategi orang tua agar mereka juga bisa menemukan durian. Sebuah pelajaran hidup yang sederhana namun lucu: dalam kehidupan, terkadang hal yang paling efektif bukanlah kekuatan fisik, melainkan cerita yang tepat sasaran.
Kini, puluhan tahun telah berlalu. Saya tidak lagi tidur di rumah panggung, tidak lagi menantikan buah durian jatuh di tengah hutan. Kini saya duduk di rumah, membuka durian dengan tangan yang semakin tua. Namun setiap kali buah durian dipotong, yang muncul lebih dulu bukan dagingnya, melainkan kenangan. Dan saya tersenyum.
Maka layaklah durian dijuluki Sang Raja Buah. Bukan hanya karena rasanya dan teksturnya, tetapi karena ia menguasai wilayah kenangan, nostalgia, tawa, dan tipu daya kecil yang penuh kasih. Dan di hadapannya, saya tetap rakyat setia—siap mencium aromanya, mengingat masa lalu, serta bersyukur pernah hidup dengan kesederhanaan seperti itu.
