Ringkasan Berita:
- PWI Sampang membuka Pameran Seni Rupa “Waspada! Kilas Balik Tujuh” yang digelar Komunitas Perupa Sampang (KPS) secara rutin tahunan di Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sampang sebagai ruang refleksi perjalanan KPS hingga 2025.
- PWI Sampang mengapresiasi peran KPS dalam menghadirkan seni sebagai media refleksi sosial, kritik, dan kesadaran publik, serta menegaskan bahwa seni rupa dan jurnalistik saling melengkapi dalam membangun dialog kritis dan berkeadaban.
Laporan Wartawan , Hanggara Pratama
, SAMPANG – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sampang, Madura dipercaya membuka acara Pameran seni rupa di Geldung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat, (27/12/2025) malam.
Pameran bertajuk “Waspada! Kilas Balik Tujuh” tersebut digelar secara rutin setiap tahunnya oleh, Komunitas Perupa Sampang (KPS).
Kegiatan yang dikemas dengan konsep ngobrol santai ini menjadi ruang refleksi perjalanan Komunitas Perupa Sampang (KPS) yang telah bertahan dan terus eksis hingga tahun 2025.
Ketua PWI Sampang, Hanggara Pratama Syahputra, mengapresiasi konsistensi Komunitas Perupa Sampang dalam menghadirkan ruang ekspresi seni yang sarat dengan pesan sosial.
“Atas nama Persatuan Wartawan Indonesia, kami mengapresiasi KPS yang secara konsisten menghadirkan seni rupa sebagai medium refleksi sosial, kritik, dan kesadaran bersama. Tema ‘Waspada!’ adalah seruan moral agar kita lebih peka terhadap realitas sosial,” ujarnya.
Menurutnya, seni dan jurnalistik memiliki ruh yang sama dalam menjaga nurani publik.
“Seni rupa berbicara tanpa kata, sementara jurnalisme menyampaikan fakta dengan kata. Keduanya saling melengkapi dalam membangun peradaban yang kritis dan berkeadaban,” jelasnya.
Melalui pameran ini, lanjut Hanggara, diharapkan lahir dialog sehat antara seniman, masyarakat, dan media.
“Karya-karya ini tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi juga direnungkan dan didiskusikan sebagai pemantik kesadaran kolektif,” terangnya
Sementara, Ketua Komunitas Perupa Sampang, Hairil Alwan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut, khususnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kabupaten Sampang.
“Ini menjadi titik balik ke tujuh. Tujuh tahun kita berjalan, tujuh tahun kita evaluasi, dan tujuh tahun kita refleksi. Harapannya ke depan tentu lebih baik,” katanya.
Hairil menjelaskan, KPS secara resmi berdiri sejak tahun 2003, meski sebelumnya telah ada sejumlah komunitas perupa di Sampang yang belum mengatasnamakan KPS.
“Perjalanan kami cukup panjang. Respon yang kami terima memang sempat sangat kecil, tapi itu tidak mematahkan semangat. Alhamdulillah sampai 2025 kami masih eksis dan terus berjalan,” tuturnya.
Dia juga mengungkapkan mimpi besar KPS agar seni rupa dari Sampang, yang kerap dilabeli sebagai daerah tertinggal, dapat dikenal hingga ke tingkat nasional bahkan internasional.
“Kami ingin seni rupa Sampang bisa terbaca sampai luar negeri. Itu mimpi kami. Karena itu slogan yang selalu kami bawa adalah dari Sampang, oleh KPS, untuk Indonesia,” tegasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews
