Isi Artikel
- 1 Sejarah Kue Puthu yang Menggugah Selera
- 2 Dari Puthu Celaket ke Puthu Lanang
- 3 Resep Tradisional yang Tak Berubah
- 4 Menyentuh Semua Lapisan, dari Rakyat hingga Kepala Negara
- 5 Masih Ramai, Masih Relevan
- 6 Sekilas Sejarah Kue Puthu dari Negeri Tirai Bambu hingga Tersurat di Serat Centhini
- 7 Pangan Lokal yang Tetap Penting di Masa Kini
- 8 Hampir Satu Abad Bertahan
Sejarah Kue Puthu yang Menggugah Selera
Hujan sering kali membuat kita ingin menikmati kudapan hangat. Di sore hari, banyak pilihan kuliner yang bisa memanjakan perut. Salah satu pilihan kudapan hangat, manis, dan pas di kota Malang adalah kue puthu. Kue puthu yang populer adalah Puthu Lanang.
Setelah Maghrib, saya tak sengaja mampir ke Puthu Lanang yang selama ini ada di gang buntu di kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto dekat tempat kerja saya. Seperti biasanya, selalu tampak para pembeli rela mengantre demi kudapan legendaris di kota Malang ini. Setiap sore, kawasan dekat studio foto ini berubah menjadi titik keramaian. Puluhan orang mengantre rapi, menunggu seporsi kudapan hangat yang aromanya khas: gula merah, kelapa, dan bambu kukusan. Jajanan tradisional ini telah hadir sejak tahun 1935 dan masih bertahan di tengah era modernitas.
Meski sederhana, keberadaan Puthu Lanang menunjukkan bagaimana pangan lokal dapat menjadi identitas budaya dan daya tarik kuliner yang tidak lekang oleh waktu.
Dari Puthu Celaket ke Puthu Lanang
Ibu Supiah, sang perintis, mulai berjualan puthu pada tahun 1935. Kala itu, masyarakat Malang mengenalnya sebagai Puthu Celaket, sesuai lokasi awal berjualan. Popularitasnya meluas bukan hanya di Malang, tetapi hingga luar kota. Bahkan, banyak penjual puthu lain ikut memakai nama yang sama.
Perubahan nama menjadi “Puthu Lanang” baru terjadi pada awal 2000-an. Siswoyo, putra Ibu Supiah sekaligus generasi penerus, menyampaikan alasan sederhana di balik penamaan tersebut.
“Saat itu ibu saya belum punya cucu laki-laki, ya saya spontan bilang pakai nama ‘Puthu Lanang’. Selain itu kan sudah ada puthu ayu, jadi sekalian ada pasangannya,” ujar Pak Siswoyo saat saya datang memesan tumpeng jajan pasar di rumahnya di Jalan Grindulu 13 beberapa waktu lalu.
Nama baru inilah kemudian resmi dipatenkan dengan dibantu oleh seorang pelanggan yang bekerja sebagai notaris. Hak paten tersebut sekaligus mengukuhkan identitas asli usaha keluarga ini.
Resep Tradisional yang Tak Berubah
Kue puthu yang dijajarkan keluarga Ibu Supiah tetap berpegang pada cara pembuatan tradisional. Adonan tepung beras dimasukkan ke dalam tabung bambu, diisi gula merah, kemudian dikukus hingga matang. Aroma khas bambu dan kukusan menjadi ciri yang sulit ditiru.
Pada mulanya, Ibu Supiah hanya menjual kue puthu. Namun permintaan pelanggan mendorong penambahan menu lain seperti cenil, lupis, kelepon, hingga tumpeng jajanan pasar berisi tiwul, gatot, gethuk, horog-horog, ketan, hingga grontol atau bledhus. Meski menambah variasi, resep dan metode pengolahan tetap terjaga.
Konsistensi ini berasal dari satu prinsip yang diwariskan turun-temurun: “Jual mau, beli mau.” Artinya, penjual harus mau mengonsumsi produk yang ia jual. Prinsip tersebut melahirkan standar mutu yang menjamin bahan yang segar, pengolahan yang bersih, dan cita rasa yang stabil.
Menyentuh Semua Lapisan, dari Rakyat hingga Kepala Negara
Ketenaran Puthu Lanang tidak hanya berhenti pada warga lokal. Pada era 1980-an, Presiden RI ke-2, Soeharto memesan langsung kepada Siswoyo dan memintanya datang ke kediaman Cendana untuk membuat puthu di tempat. Permintaan serupa terjadi dua kali.
Tak kalah menarik, banyak orang Belanda dan Jepang yang pernah bermukim di Malang kerap kembali untuk mencicipi jajanan ini. Kemampuan Ibu Supiah berbahasa Jepang membuat komunikasi lebih dekat dan menjadi alasan pelanggan mancanegara betah kembali.
Masih Ramai, Masih Relevan
Meski hanya berjualan di sebuah gang kecil, Puthu Lanang tidak pernah kekurangan pembeli. Mereka buka setiap hari pukul 17.00–21.00 WIB, namun sering kali dagangan sudah habis sebelum jam tutup. Satu porsi dibanderol Rp 15.000,-, harga yang cukup terjangkau untuk jajanan legendaris yang bertahan hampir satu abad.
Menu yang ada di Puthu Lanang antara lain adalah:
* 8 biji puthu
* 8 biji kelepon
* 8 biji cenil
* 8 biji lupis
* 8 biji campur (puthu, kelepon, cenil, lupis)
Puthu Lanang juga melayani tumpeng jajan pasar mulai dari harga Rp 150.000,- yang biasanya untuk perayaan atau event-event tertentu; ulang tahun, dan lain sebagainya.
Kebertahanannya membuktikan bahwa jajanan pasar bukan sekadar pelengkap kuliner, tetapi bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat.
Sekilas Sejarah Kue Puthu dari Negeri Tirai Bambu hingga Tersurat di Serat Centhini
Sebagaimana pernah saya ulas dalam tulisan saya tentang puthu, bahwa puthu berawal dari datangnya imigran dari China ke bumi nusantara untuk menetap dan berdagang. Di negara Tirai Bambu kue ini dikenal dengan xiao roe xiao long yang berarti kue dari tepung beras yang diisi kacang hijau. Dimasak dengan cetakan bambu kemudian dikukus hingga matang. Kue ini menjadi kudapan kesukaan kaisar kerajaan China.
Selain itu puthu merupakan salah satu 24 kue tradisional Jawa yang tersurat di serat Centhini naskah yang ditulis ketika masa Kerajaan Mataram (1814). Di dalamnya dikisahkan bahwa terdapat jajanan tradisional Jawa bernama puthu pada tahun 1630 di Desa Wanamarta, Probolinggo, Jawa Timur.
Keberadaan kue puthu merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya dalam hal kuliner tradisional. Seiring dengan akulturasi dengan budaya masyarakat, kue dari negeri China ini diserap dan dimodifikasi. Jika di negeri China kue puthu atau disebut dengan xiao roe xiao long ini berisi kacang hijau, maka masyarakat nusantara mengisinya dengan gula aren atau gula merah karena gula aren mudah didapat dan melimpah.
Pangan Lokal yang Tetap Penting di Masa Kini
Puthu Lanang menjadi contoh bagaimana pangan lokal dapat tetap relevan di tengah derasnya makanan modern dan industri. Dengan bahan sederhana, proses ramah lingkungan, dan biaya produksi rendah, jajanan tradisional seperti ini dapat menjadi alternatif pangan yang sehat, berkelanjutan, sekaligus memperkuat kebudayaan lokal.
Lebih dari itu, keberadaan Puthu Lanang menegaskan bahwa mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perubahan, tetapi memilih untuk merawat nilai-nilai yang tak dapat digantikan.
Hampir Satu Abad Bertahan
Delapan puluh sembilan tahun sudah berlalu sejak Ibu Supiah mulai berdagang puthu. Namun aroma kukusan bambu, suara pelanggan yang bercanda, dan antrean panjang yang mengular setiap sore seakan menegaskan satu hal bahwa tradisi yang dibuat dengan kesungguhan akan selalu menemukan tempatnya.
Puthu Lanang merupakan cerita keluarga, budaya, dan rasa yang diwariskan lintas generasi, yang tetap hidup, tetap hangat, dan tetap dirindukan. Kalau ke Malang, coba dulu Puthu Lanang ya… Salam Lestari!
