Psikolog Unair: Optimalkan waktu liburan bisa dukung proses tumbuh kembang anak

– Libur panjang Natal dan tahun baru (nataru) menjadi momen yang dinanti oleh anak-anak.

Pasalnya setelah menjalani satu semester penuh dengan rutinitas sekolah, masa libur kerap dimanfaatkan sebagai waktu jeda dari aktivitas akademik.

Bacaan Lainnya

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (Unair), Dr Nur Ainy Fardana Nawangsari MSi Psikolog menilai bahwa waktu liburan memberikan berbagai manfaat bagi anak dalam mendukung proses tumbuh kembang mereka.

Menurut Neny, sapaan akrabnya, liburan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak.

Masa libur jadi momen yang tepat untuk kembalikan energi anak

Pasalnya, anak-anak telah menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas kegiatan yang menguras kemampuan kognitif, fisik, dan emosional mereka. Karena itu, masa libur menjadi momen yang tepat untuk mengembalikan energi anak.

Sekaligus memberi ruang untuk mengeksplorasi pengalaman baru di luar rutinitas akademik.

“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” jelas Nur Ainy Fardana dikutip dari laman Unair, Minggu (28/12/2025).

Liburan tidak harus mahal

Lebih lanjut, Neny menilai bahwa pengalaman baru tersebut tidak selalu harus hadir melalui kegiatan liburan yang membutuhkan biaya besar.

Menurutnya, orangtua dapat merancang berbagai aktivitas sederhana di rumah yang memberi ruang bagi anak untuk keluar dari rutinitas akademik.

Pada momen inilah, liburan juga dapat momentum mempererat kebersamaan antara anak dan keluarga.

Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orangtuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana.

“Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat. Itu bisa jadi pengalaman baru untuk mereka,” ujarnya.

Kendati demikian, Neny menegaskan bahwa aktivitas selama masa liburan sebaiknya tidak dibingkai dalam target atau tuntutan tertentu. Menurutnya, tekanan semacam itu justru dapat mengurangi manfaat liburan bagi anak.

Ia menilai, masa libur harus menjadi ruang bermain dan berekspresi. Agar anak memiliki kesempatan untuk mengenali kepribadiannya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat.

Peran orangtua

Neny menambahkan, peran orangtua menjadi aspek penting dalam memastikan pengalaman liburan anak benar-benar bermakna. Sebab setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.

Sehingga orangtua perlu peka dalam mendampingi dan memfasilitasi aktivitas selama masa libur.

“Orangtua bisa bertanya apa yang ingin anak lakukan selama libur. Kalau memang tidak bisa bepergian, anak tetap bisa memilih aktivitas yang mereka sukai di rumah,” tambahnya.

Pada akhir, Neny menekankan kendati masa liburan kerap dipandang sebagai masa ‘bebas’ bagi anak, pendampingan orangtua tetap perlu.

Ia mengingatkan agar waktu luang yang lebih panjang tidak membuat anak terpapar aktivitas atau informasi yang berisiko terhadap perkembangan dan keselamatan mereka.

“Orangtua perlu memfasilitasi aktivitas yang menggugah kreativitas anak, memberi kebebasan anak mengeksplorasi potensi-potensi positif yang mereka miliki. Sekaligus tetap memantau aktivitas anak selama libur dan menjaga kesehatannya. Baik fisik maupun mental,” pungkasnya.

Pos terkait