Ringkasan Berita:
- Kasi Humas Polresta Mamuju Herman Basir dan putranya Agustony Sakti naik pangkat di akhir tahun 2025; Herman menjadi Iptu dan Agustony menjadi Briptu.
- Herman Basir menekankan kenaikan pangkat sebagai amanah dan motivasi, untuk meningkatkan pengabdian profesional dan humanis kepada Polri dan masyarakat.
- Herman memiliki karier panjang sejak 1994, lolos seleksi tanpa bantuan orang dalam, dan kini fokus memperkuat sinergi Polri dengan masyarakat serta media di Mamuju.
TRIBUN-SULBAR.COM,MAMUJU– Kasi Humas Polresta Mamuju Herman Basir dan anaknya Agustony Sakti bertugas di Subdit Jatanras Polda Sulbar sama-sama diberikan pangkat baru di penghujung akhir tahun 2025.
Herman Basir kini menyandang pangkat baru Inspektur Polisi Satu (Iptu) naik satu tingkat lebih tinggi.
Sedangkan Agustony kini berpangkat Brigadir Polisi Dua (Briptu).
Di penghujung tahun 2025, momen kenaikan pangkat ini menjadi berkah dan kebahagiaan tersendiri bagi Iptu Herman Basir.
Kebahagiaan tersebut semakin terasa disaat putranya turut diberikan pangkat baru di institusi kepolisian.
Iptu Herman Basir menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan Polri.
Ia menegaskan bahwa kenaikan pangkat ini bukan hanya sebuah kebanggaan.
Namun juga amanah dan tanggung jawab yang harus diemban dengan lebih profesional dan humanis.
“Ini merupakan motivasi bagi saya dan keluarga untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada institusi Polri dan masyarakat,” ujar Iptu Herman Basir kepada Tribun-Sulbar.com, Rabu (31/12/2025).
Dengan pangkat barunya, Herman Basir akan terus meningkatkan kinerja kehumasan Polresta Mamuju.
Memperkuat sinergi Polri dan masyarakat serta media dalam menjaga kemanan ketertiban di wilayah hukum Polresta Mamuju adalah sesuatu yang dibangun.
Profil Herman Basir dan Pengalaman Jadi Polisi
Kepala Seksi (Kasi) Humas Kepolisian Resor Kota (Polresta) Mamuju, Iptu Herman Basir lulus sebagai anggota kepolisian pada 1994 tanpa dekkeng (bantuan orang dalam).
Lahir di Jeneponto, 10 Desember 1975, Herman menceritakan masa mudanya sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Sejak lulus di salah satu kejuruan di Makassar, dia tidak pernah berfikir untuk menjadi polisi melainkan sebagai karyawan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Namun, Herman mulai merasa jenuh setelah ditinggal lima orang teman sekampungnya mendaftar anggota polisi di Makassar.
“Setelah lulus, saya kembali ke Jeneponto dan pada saat itu penerimaan karyawan di PLN belum ada, jadi saya terpaksa ikut mendaftar polisi karena sepi ditinggal teman,” ungkapnya.
Dengan berbekal uang Rp 50 ribu, ia berangkat menyusul kelima temannya.
IPDA Herman tidak menyangka, dua tahap seleksi telah dilalui.
“Saya telpon orangtua, karena semua didampingi keluarganya,”
Akhirnya tahapan demi tahapan dilalui, justru hanya dirinya yang lolos menjadi anggota Polri pada saat itu.
“Lima anggota saya tadi tidak lulus pada tahun itu, tapi tahun berikutnya mereka lulus dan hanya satu yang tersisa, beliau pun sudah meninggal dunia,”
Di masa itu, tidak ada istilah orang dalam atau bayar membayar untuk masuk sebagai anggota Polri.
Peserta harus melewati semua tahapan dan hal yang tersulit adalah melawan stigma orang dekat presiden.
“Inilah buah dari doa orangtua, karena waktu itu sangat kental dengan nepotisme,”
Begitu dengan tiga orang saudara laki-lakinya yang sekarang juga berprofesi sebagai anggota polisi.
IPDA Herman tumbuh dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya yakni H M Basir, dan Hj Sitti Minasa yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Menikah tahun 1999 dengan kekasih tercintanya dan sudah dikaruniai tiga orang anak yang salah satunya juga sedang berjuang mendaftar sebagai anggota Polri.
“Kedua orang tua sudah berpulang, untuk sodara saya sendiri dua di Polda Kaltim dan satu di Polda Sulawesi Tenggara,” tutupnya. (*)