Populer Kaltim: HUT ke-66 Kabupaten Paser, hingga imbauan tanpa kembang api di malam tahun baru

Ringkasan Berita:

  • HUT ke-66 Kabupaten Paser, momentum refleksi dan akselerasi pembangunan daerah
  • Dulu primadona, wisata Teluk Lombok di Kutai Timur kini terancam abrasi dan buaya
  • Bupati Kukar Aulia Rahman imbau warga tak nyalakan kembang api saat malam tahun baru, isi dengan muhasabah

, BALIKPAPAN –Beberapa artikel mengenai peristiwa atau informasi terkini di kota dan kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur menjadi berita populer dalam 24 jam terakhir hingga hari ini, Selasa (30/12/2025).

Bacaan Lainnya

Berikut tiga berita paling populer di Kaltim:

1. BREAKING NEWS: HUT ke-66 Kabupaten Paser, Momentum Refleksi dan Akselerasi Pembangunan Daerah

Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kabupaten Paser dimeriahkan dengan berbagai rangkaian kegiatan yang berlangsung di Halaman Kantor Bupati Kabupaten Paser, Senin (29/12/2025).

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran video sejarah Paser dan kaleidoskop keberhasilan pembangunan Kabupaten Paser tahun 2025.

Antusiasme dari warga terlihat sejak pagi, yang memadati lokasi upacara untuk mengikuti jalannya peringatan hari jadi kabupaten yang dikenal dengan julukan Bumi Daya Taka.

Upacara dipimpin langsung Bupati Paser, Fahmi Fadli.

Dalam sambutannya, Bupati Fahmi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-66 kepada seluruh masyarakat Kabupaten Paser.

“Ini momen kita semua, satu hal yang patut disyukuri bersama, bahwa di tahun pertama Paser Tuntas, kita bisa menghadirkan perayaan ulang tahun yang spektakuler dan penuh makna,” ujar Fahmi di hadapan peserta upacara dan masyarakat yang hadir.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam perayaan ulang tahun ini, dengan menganggap setiap individu yang hadir dan berkontribusi merupakan bagian penting dari sejarah Kabupaten Paser.

“Ini akan menjadi kenangan tersendiri, yang akan selalu dikenang dan diceritakan kepada generasi selanjutnya,” tambahnya.

Diakui Fahmi, di tahun pertama kepemimpinannya bersama Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Paser, Ikhwan Antasari tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi.

Namun juga tak sedikit pencapaian yang telah diraih, sebagai upaya dalam mewujudkan masyarakat Paser yang Tangguh, Unggul, Transformatif, Adil dan Sejahtera (Tuntas).

“Karena itu kami selalu mengajak seluruh komponen pemerintahan, baik forum koordinasi pimpinan daerah, legislatif, instansi vertikal, BUMN, BUMD, dunia usaha hingga masyarakat luas untuk terus menyatukan langkah dalam membangun Kabupaten Paser,” ungkapnya.

Ditekankan Fahmi, masukan dari berbagai pihak, baik secara langsung, maupun melalui media dan kanal komunikasi selalu menjadi perhatian sebagai masukan yang memiliki makna mendalam untuk pengambilan keputusan.

Dengan berbagai pencapaian yang diraih, posisi Kabupaten Paser saat ini perlahan bergeser dari mengejar ketertinggalan.

“Kita perlahan mengejar ketertinggalan menjadi daerah yang layak untuk dijadikan contoh oleh daerah lain dalam beberapa aspek pembangunan,” ungkapnya.

Salah satu persembahan pemerintah untuk peningkatan kualitas aparatur ialah dengan mengangkat 4 ribu tenaga honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kinerja (PPPK), yang dilakukan pada April dan Oktober lalu.

“Ini adalah bentuk perhatian yang luar biasa, dengan harapan pelayanan masyarakat yang optimal, dimulai dari kecakapan dan kompetensi para pegawai yang ada di instansi-instansi pemerintahan,” tutup Fahmi.

Pada akhir acara, juga dirangkai dengan persembahan lagu Paser, kesenian paguyuban serta berbagai hiburan lainnya. 

  • BREAKING NEWS: HUT ke-66 Kabupaten Paser, Momentum Refleksi dan Akselerasi Pembangunan Daerah >>>

2. Dulu Primadona, Wisata Teluk Lombok di Kutai Timur Kini Terancam Abrasi dan Buaya

Destinasi wisata Teluk Lombok di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), yang sempat menjadi primadona bagi wisatawan lokal, kini kondisinya kian memprihatinkan. 

Padahal, Pantai Teluk Lombok tak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Kutai Timur, kurang lebih 45 menit menggunakan kendaraan roda 4.

Akses jalan juga mudah dilalui, meskipun masih berupa tanah merah.

Akan tetapi, kondisinya saat ini telah tergerus abrasi yang menghilangkan garis pantai berpasir serta ancaman keberadaan buaya menjadi tantangan serius bagi pengembangan kawasan ini di masa depan.

Plt. Camat Sangatta Selatan, Rusmiati, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pengunjung sangat terasa, terutama saat momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 kemarin. 

Jika dulu bibir pantai dipenuhi kendaraan wisatawan dari ujung ke ujung, kini jumlahnya merosot tajam.

“Tahun 2016 lalu, di satu titik lokasi saja bisa mencapai 17 mobil. Dulu itu (antrean kendaraan) panjang sekali dari depan sampai ujung Pertamina. Sekarang jauh berkurang,” ujar Rusmiati, Senin (29/12/2025).

Menurut Rusmiati, salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya keindahan pasir pantai akibat abrasi.

Saat ini, hanya beberapa titik yang masih memiliki hamparan pasir, itu pun berkat upaya mandiri pengelola setempat atau Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

“Tempat yang masih bagus itu karena pengelolanya rajin menggali pasir secara mandiri. Yang lain sudah abrasi, pasirnya sudah tidak ada lagi,” tambahnya.

Meski demikian, secercah harapan muncul melalui program pengembangan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta usulan desa yang telah disampaikan melalui audiensi virtual bersama DPR dan Dinas Pariwisata.

Rencananya, Teluk Lombok akan dipoles kembali dengan fasilitas yang lebih lengkap, termasuk kemungkinan menghidupkan kembali wahana water sport seperti banana boat.

Hal yang paling menarik dari rencana pengembangan ini adalah usulan pembangunan penangkaran buaya.

Rusmiati menyebutkan bahwa ini merupakan bagian dari 50 program prioritas yang tengah digodok.

Mengingat kondisi alam Sangatta yang merupakan habitat buaya, pemerintah setempat memilih untuk bersahabat dengan alam ketimbang melawannya.

“Sepemahaman saya, namanya alam, kita tidak bisa melawan bentangan dan kodratnya. Namun, kita harus bersahabat dengan alam. Hal itu tidak bisa dipungkiri karena kita hidup berdampingan,” tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Rusmiati mendorong pemerintah desa agar proaktif melakukan jemput bola dengan belajar ke Penangkaran Buaya Teritip di Balikpapan.

Ia berharap pengelolaan potensi ini bisa dikerjasamakan dengan pihak ketiga melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Saya mendorong desa untuk kunjungan atau silaturahmi ke Teritip Balikpapan. Polanya nanti bisa dikelola pihak ketiga atau melalui BUMDes yang berjalan. Ini langkah awal agar aspek safety atau keamanan bagi wisatawan juga terlengkapi,” pungkasnya. 

Baca berita selengkapnya:

  • Dulu Primadona, Wisata Teluk Lombok di Kutai Timur Kini Terancam Abrasi dan Buaya>>>

3. Bupati Kukar Aulia Rahman Imbau Warga tak Nyalakan Kembang Api, Isi dengan Muhasabah

Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan malam pergantian tahun dengan pesta kembang api.

Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk empati terhadap saudara-saudara di daerah lain yang tengah mengalami musibah bencana.

Bupati Aulia Rahman Basri menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Kukar telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait penggunaan kembang api pada malam tahun baru.

Untuk penggunaan kembang api kami sudah berkoordinasi dengan pihak Polres bahwa tidak ada izin yang dikeluarkan dari pihak Polres untuk penggunaan kembang api.

“Melihat kondisi kita akhir-akhir ini memang sebaiknya di malam tahun baru itu kita isi dengan bermuhasabah,” ujar Aulia, Senin (29/12/2025).

Ia menegaskan, ajakan tersebut didasari rasa kepedulian terhadap masyarakat di sejumlah daerah yang saat ini sedang tertimpa musibah.

“Karena apa? Karena masa kita disini berpesta pora sementara saudara-saudara kita di Sumatera lagi dalam kesusahan,” jelasnya.

Menurut Aulia, dana yang biasanya digunakan untuk membeli kembang api akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk membantu korban bencana, baik di Sumatera maupun di Kalimantan Selatan.

“Mending kalau Bapak Ibu kami menghimbau bagi yang membeli kembang api. Uangnya dikumpulkan disumbangkan ke Sumatera atau ke Kalsel. Kalsel kan habis kena banjir juga,” lanjutnya.

Ia juga menyebut, imbauan tersebut ditujukan khususnya bagi masyarakat yang telah menyiapkan anggaran untuk perayaan malam tahun baru.

“Nah jadi bentuk bagi yang mungkin ada yang sudah nabung untuk persiapan pesta kembang api. Ya uangnya disumbangkan ke saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tuturnya.

Terkait masih adanya aktivitas penjualan kembang api, Aulia menegaskan bahwa pemerintah akan mengedepankan langkah persuasif dan koordinasi dengan aparat keamanan.

“Ya kalau melihat apa namanya melihat pemberitahuan yang disampaikan kepada pihak keamanan ya sepertinya kita akan melakukan proses penghimbauan itu tidak ada pelarangan,” ucapnya.

Namun demikian, Aulia juga memahami bahwa penjual kembang api memanfaatkan momentum pergantian tahun sebagai bagian dari aktivitas usaha tahunan.

“Kita juga paham bahwa saudara-saudara kita yang berjualan itu juga melihat momentum kan tiap tahun kita selalu melakukan kegiatan kembang api di malam tahun baru,” ucapnya.

Meski begitu, ia meyakini para pedagang akan tetap mematuhi ketentuan yang berlaku apabila nantinya ada larangan resmi dari pihak berwenang.

“Sebagai insan pengusaha tentunya tidak ingin ketinggalan momentum ya mereka memproviding itu tapi saya yakin dan percaya teman-teman itu pasti mematuhi aturan hukum kalau seandainya nanti dilarang ya mungkin akan dirapikan sebagaimana,” pungkas Aulia. 

Baca berita selengkapnya:

  • Bupati Kukar Aulia Rahman Imbau Warga tak Nyalakan Kembang Api, Isi dengan Muhasabah>>>

Demikian berita populer di Kaltim dalam 24 jam terakhir. 

Ikuti berita-berita terkini tentang kabupaten/ kota di Kalimantan Timur serta IKN hanya di .(/Syaifullah Ibrahim/Nurila Firdaus/Patrick Vallery Sianturi)

Pos terkait