.CO.ID – BANDUNGPT PLN Indonesia melalui perusahaan anaknya, PT PLN Nusantara Power (PLN NP), menyatakan adanya kemungkinan pengembangan daya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata hingga 550.megawatt ac (MWac).
Seperti yang diketahui, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata dilakukanPT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PT PMSE) yang merupakan kemitraan strategis antara PLN NP dengan Masdar, perusahaan energi terbarukan dari Uni Emirat Arab.
Selanjutnya, terkait target penambahan ini, Outreach & Stakeholder Manager PT PMSE Respati Adi Katmoyo menyampaikan, kapasitas PLTS Cirata telah mencapai145 MWac atau setara 192 megawatt puncak (MWp). Menurutnya, dengan potensi pengembangan sebesar 550 MWac, kapasitas PLTS Terapung Cirata dapat mencapai sekitar 700 MWac.
“Ke depan, PLTS terapung akan dikembangkan dengan kapasitas sekitar 550 MWac atau setara dengan 700 MWac ditambah saat ini,” kata Adi dalam sesi briefing media di Bandung, Kamis (18/12/2025).
Sebagai informasi, pembangkit listrik tenaga surya yang terapung dengan kapasitas 192 MWp ini menjadi yang terbesar di Indonesia dan kawasan ASEAN, sekaligus menjadi awal baru dalam pengembangan energi terbarukan berukuran besar di negeri ini.
Beroperasi secara komersial sejak November 2023, PLTS Terapung Cirata mampu memproduksi listrik hijau hingga 300 GWh per tahun dan menurunkan emisi karbon sekitar 214.000 ton CO? per tahun.
Meski menargetkan penambahan daya, Adi bilang, hingga saat ini pihaknya baru berada ditahap feasibility study atau studi kelayakan.
Dalam kesempatan yang sama Vice President Corporate Communication & CSR PLN Nusantara Power Harry Purnomo mengatakan hal yang serupa. Dia menyebut saat ini studi kelayakan masih di tahap awal, namun pihaknya terbuka untuk adanya investor baru selain Masdar.
“Rencana pengembangan ini masih di tahap studi awal, kita terbuka untuk menggandeng investor (baru),” ungkap dia.
Secara teknis, Adi menjelaskan, PLTS Terapung Cirata terdiri dari 13 pulau panel yang berisi 340.000 solar panel. Setiap pulau panel memiliki luas 10 hektare dengan kapasitas terpasang sekitar 15,7 MWp.
Ia menyebut, listrik yang dihasilkan PLTS Terapung Cirata dijual kepada PT PLN (Persero) sebagai single buyer. “Dan ini mampu melistriki sekitar 50.000 rumah tangga,” ucapnya.
Disisi lain, saat ini Indonesia menargetkan pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt (GW). Khusus di Pulau Jawa, kebutuhan listrik saat ini mencapai sekitar 30 GW, dengan karakteristik beban puncak yang berbeda.
Di Jawa Barat, misalnya, kebutuhan listrik tinggi justru terjadi pada siang hingga sore hari. Kondisi itu menjadikan PLTS Terapung Cirata relevan untuk mendukung pasokan listrik di wilayah tersebut.
Ke depan, PLTS Terapung Cirata akan mengadopsi teknologi battery energy storage system (BESS). Dengan begitu, listrik yang dihasilkan dapat digunakan siang dan malam atau saat sinar matahari tak nampak. Penggunaan BESS juga dinilai akan berpengaruh pada penurunan harga listrik per kilowatt hour (kWh).
Hal ini juga didukung dengan mulai menurunnya harga solar panel.
Adi menyebut, saat awal pembangunan PLTS Terapung Cirata harga satu unit solar panel berada di level Rp 7 juta. Namun, saat ini harga panel surya itu kian turun ke level Rp 1,8 juta per unit.
“Tanpa BESS ini kami bisa 5,88 sen per KWh. Nah, memang ke depan dengan yang tadi saya sampaikan dengan penurunan harga (panel surya) dan juga semakin feasible-nya BESS ini, saya sangat yakin akan menjadi menarik dengan harga yang mungkin akan sama atau mungkin lebih mahal sedikit, tapi memiliki kapasitas yang jauh lebih besar,” jelas Adi.
