Ringkasan Berita:
- Kinerja perekonomian wilayah Banyumas Raya menunjukkan tren yang semakin solid pada triwulan III 2025.
- Bahkan, pertumbuhan ekonomi empat kabupaten di Banyumas Raya berada di atas rata-rata nasional.
- Pertumbuhan ekonomi Cilacap paling tinggi, mencapai 54,79 persen, dibandingkan Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara.
, PURWOKERTO – Kinerja perekonomian wilayah Banyumas Raya menunjukkan tren yang semakin solid pada triwulan III 2025.
Bahkan, pertumbuhan ekonomi empat kabupaten di Banyumas Raya berada di atas rata-rata nasional.
Hal itu didorong kuat oleh belanja pemerintah serta aktivitas ekonomi lintas sektor yang terus menggeliat.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Purwokerto Christoveny menyampaikan, capaian positif tersebut menjadi sinyal kuat terjaganya momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi regional di tengah dinamika global dan nasional.
“Secara umum, pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya pada triwulan III 2025 cukup baik dan berada di atas rata-rata nasional,” ujar Christoveny dalam Media Briefing di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Jalan Ahmad Yani No 30 Purwokerto, Jumat (19/12/2025).
Berdasarkan data Bank Indonesia, Kabupaten Banyumas mencatat pangsa ekonomi sebesar 25,1 persen (5,94 persen)
Sementara itu, Kabupaten Cilacap, menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 54,79 persen (4,86 persen)
Adapun perekonomian Kabupaten Purbalingga, tumbuh sebesar 10,7 persen (4,26 persen).
Dan, Kabupaten Banjarnegara sebesar 9,46 persen (4,23 persen).
Christoveny menjelaskan, kuatnya pertumbuhan ekonomi di Banyumas Raya terutama dipicu oleh realisasi belanja pemerintah yang cukup ekspansif sepanjang triwulan III 2025.
Belanja tersebut memberikan efek pengganda yang signifikan terhadap berbagai sektor usaha.
Dari sisi lapangan usaha, kontribusi pertumbuhan ekonomi datang dari sektor primer, sekunder, hingga tersier.
Di Kabupaten Banyumas, sektor primer masih didominasi sektor pertanian, seiring dengan berlangsungnya musim panen yang mendorong peningkatan produksi.
Pada sektor sekunder, industri pengolahan menjadi penopang utama, khususnya industri tekstil dan pakaian jadi yang masih menunjukkan kinerja positif.
Sementara, sektor tersier, ditopang sektor perdagangan serta akomodasi dan makan-minum yang tumbuh cukup signifikan.
“Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh di atas 5 persen.”
“Hal ini juga didukung oleh banyaknya event, baik kebudayaan, olahraga, maupun kegiatan lainnya yang mendorong pergerakan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah di seluruh kabupaten Banyumas Raya tercatat sangat tinggi dan seluruhnya berada di atas capaian nasional.
Kondisi ini mempertegas peran APBD sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
Selain itu, konsumsi rumah tangga juga menunjukkan pertumbuhan yang solid, bahkan berada di atas rata-rata Jawa Tengah dan nasional.
Hal tersebut mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga secara baik.
Realisasi investasi pun tumbuh positif di kisaran 5 persen, lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional, menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Banyumas Raya masih kuat.
Sementara, dari sisi stabilitas harga, BI mencatat, tingkat inflasi hingga akhir November 2025 relatif rendah.
Inflasi di wilayah Purwokerto dan Cilacap berada di bawah angka nasional dan masih dalam sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5 persen.
Adapun komoditas yang menjadi penyumbang inflasi antara lain, emas perhiasan serta sejumlah komoditas sayuran dan hortikultura, seperti bawang merah, jeruk, kacang panjang, dan wortel.
Menghadapi momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), BI Purwokerto mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi.
Mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat cukup tinggi, sementara curah hujan yang masih tinggi berpotensi memengaruhi produktivitas dan kelancaran distribusi barang.
Selain itu, masa tanam pertanian serta libur panjang yang mendorong arus masyarakat dari luar daerah kembali ke kampung halaman juga menjadi faktor yang perlu dicermati.
“Koordinasi dan kesiapan seluruh pihak sangat diperlukan agar momentum pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya tetap terjaga dan inflasi tetap terkendali,” tutup Christoveny.
Pihaknya menyampaikan, meskipun mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat cukup tinggi akan tetapi diimbau berbelanja secara bijak. (*)
