Isi Artikel
- 1 Suara Masa Lalu yang Dirampas
- 2 Kritik Pedas terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Saran Tajam untuk Komnas Perempuan dan Komnas HAM Pandangan Keras terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Tantangan Terbuka bagi Komnas Perempuan dan Komnas HAM Ulasan Menggugah terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Peringatan Tegas terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Kritik Mencolok terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Pandangan Tajam terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Keluhan Kuat terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Saran Kritis terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM
- 3 Sindiran Pedas terhadap Terduga Pelaku dan Ancaman Intimidasi
- 4 Respons Haru Aurelie Moeremans
Ringkasan Berita:
- Marcello Tahitoe dikenal sebagai Ello memberikan pernyataan mengenai buku Broken Strings yang diterbitkan oleh Aurelie Moeremans.
- Halo menyampaikan pesan kepada Aurelie Moeremans yang merupakan mantan kekasihnya.
- Ello mengucapkan selamat kepada Aurelie Moeremans atas peluncuran bukunya.
Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans tiba-tiba menjadi perhatian masyarakat setelah edisi Bahasa Indonesia resmi diterbitkan.
Karya ini mendapat banyak perhatian dan berbagai tanggapan, termasuk dari Ello, seorang musisi yang pernah memiliki hubungan romantis dengan Aurelie.
Ditemui setelah tampil di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Ello memutuskan memberikan respons singkat mengenai kesuksesan buku tersebut.
Ia terlihat enggan menghabiskan waktu lama membahas topik tersebut di depan para jurnalis.
“Oke setelah ini aku harus pergi. Singkat tapi padat,” kata Ello saat diwawancarai di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026).
Pada kesempatan tersebut, Ello mengucapkan selamat atas peluncuran buku yang kini mendapatkan perhatian besar dari masyarakat.
Ia menghargai karya sastra Aurelie tanpa menyebutkan isi buku, termasuk kisah yang sensitif tentang pengalaman penyalahgunaan anak yang diungkap dalamnya.
“Baik, saya hanya ingin mengucapkan selamat atas peluncuran karyanya. Sangat luar biasa mendapat apresiasi,” lanjutnya.
Setelah menyampaikan pernyataannya, Ello berpamitan. Ia menekankan bahwa ia ingin segera pulang untuk berkumpul dengan keluarganya.
“Sekarang saya akan pulang, bertemu dengan istri dan anak saya. Terima kasih,” ujarnya.
Seperti yang telah dilaporkan sebelumnya, Broken Strings menjadi perbincangan di kalangan netizen Indonesia karena menceritakan kisah gelap yang dialami Aurelie Moeremans.
Di dalam buku tersebut, ia menggambarkan pengalaman mengalami pemanggilan anak dan pengaruh emosional oleh seorang pria yang namanya diubah menjadi Bobby.
Tidak hanya itu, Aurelie juga menyebut beberapa tokoh dalam perjalanan hidupnya, termasuk kisah cinta setelah berpisah dengan Bobby.
Bagian tersebut diduga juga menyentuh keterkaitannya dengan Ello.
Aurelie Moeremans dan Ello dikenal pernah memiliki hubungan pada tahun 2015.
Namun, kisah asmara mereka berakhir setelah berlangsung hampir empat tahun.
Rieke Diah Pitaloka Bawa Isu Perkawinan Anak ke Meja DPR, Tanggapan Haru Aurelie Moeremans: Terima Kasih
Ketangguhan aktris Aurelie Moeremans dalam membuka rahasia gelap masa lalunya melalui buku berjudul Broken Strings kini menimbulkan reaksi besar di dunia politik.
Tidak hanya viral di media sosial, isu yang sensitif terkait child grooming ini secara resmi menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Senayan, Kamis (15/1/2026).
Yaitu Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi XIII DPR RI, yang dengan tegas menyampaikan kekhawatiran masyarakat di depan Komnas Perempuan dan Komnas HAM.
Tokoh yang biasa dipanggil Oneng ini terlihat penuh perasaan saat membahas ancaman predator anak yang selama ini menyembunyikan diri di balik hubungan emosional.
Suara Masa Lalu yang Dirampas
Isu ini muncul setelah Aurelie merilis e-book gratis dengan judul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Dalam buku harian tersebut, Aurelie secara terbuka menggambarkan bagaimana ia menjadi korban penyalahgunaan anak sejak berusia 15 tahun, yang berakhir dengan pernikahan dini yang penuh kekerasan dan luka batin yang mendalam.
Rieke menghargai tindakan berani Aurelie yang telah memecahkan batasan yang selama ini dianggap tabu di Indonesia.
“Saya ingin menyampaikan bahwa kasus yang sedang viral di media sosial adalah child grooming. Hal ini selama ini dianggap tabu di Indonesia. Namun, ada seorang perempuan bernama Aurelie Moeremans yang merilis buku e-book gratis berjudul Broken Strings Fragments of a Stolen Youth yang menceritakan bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas,” kata Rieke di tengah persidangan.
Kritik Pedas terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Saran Tajam untuk Komnas Perempuan dan Komnas HAM Pandangan Keras terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Tantangan Terbuka bagi Komnas Perempuan dan Komnas HAM Ulasan Menggugah terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Peringatan Tegas terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Kritik Mencolok terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Pandangan Tajam terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Keluhan Kuat terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM Saran Kritis terhadap Komnas Perempuan dan Komnas HAM
Dengan suara yang meninggi, Rieke mengkritik sikap diam lembaga negara terhadap peristiwa ini.
Bagi dia, penggiringan anak bukan hanya soal cinta biasa, tetapi merupakan metode tindak pidana yang terstruktur.
“Ini merupakan buku harian yang menggambarkan kisah kehidupan yang nyata. Dan hal ini bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk anak-anak kita, ketika negara diam, kami yang berada dalam posisi seharusnya bersuara, memberikan refleksi diri bahwa kami diam, saya belum mendengar adanya suara yang jelas dan serius dari Komnas HAM serta Komnas Perempuan terkait kasus ini,” tegas Rieke.
Ia menjelaskan bahwa pelaku atau groomer biasanya menciptakan kepercayaan dalam jangka waktu yang panjang guna memanfaatkan korban secara seksual.
“Perbuatan penculikan anak ini bukanlah tindak pidana yang terpisah, melainkan metode yang digunakan, dengan proses yang terstruktur. Ketika pelaku atau penjebak membangun hubungan emosional, kepercayaan, dan ketergantungan terhadap anak atau remaja. Tujuan akhirnya adalah kekerasan atau eksploitasi seksual,” tambahnya.
Sindiran Pedas terhadap Terduga Pelaku dan Ancaman Intimidasi
Rieke juga menyoroti adanya tindakan pembelaan diri yang dilakukan oleh tersangka pelaku, yang justru berpotensi memperkuat pembenaran kekerasan.
Ia bahkan menyebut adanya tekanan terhadap sesama rekan artis, seperti Hesti Purwadinata, yang turut memberikan dukungan kepada Aurelie.
Bahkan, Rieke tidak ragu mengajukan pemanggilan seseorang yang diduga sebagai pelaku, yaitu Roby Tremonti, untuk diberikan kesempatan memberikan keterangan dalam rapat DPR.
“Bisa saja ada hukuman yang berlapis. Orang yang diduga sebagai pelaku ini bersikap penuh percaya diri, bahkan menyatakan agar Komnas Perempuan memanggilnya. Atau jika boleh dipanggil ke sini. Karena menurut saya, dia melakukan kampanye terkait child grooming dengan cara seperti ini, yaitu melegitimasi kekerasan seksual dengan alasan pernikahan berdasarkan keyakinan agama,” ujar Rieke dengan nada tajam.
Di akhir pernyataannya, Rieke memberikan peringatan tajam kepada siapa pun yang melakukan tindakan serupa di luar sana.
“Pelaku di luar sana, tidak bisa tenang saja,” tutupnya.
Respons Haru Aurelie Moeremans
Mendengar perjuangannya mendapatkan panggung di tingkat legislatif tertinggi, Aurelie Moeremans tidak mampu menyembunyikan rasa terima kasihnya.
Dengan pesan singkat, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Rieke atas bantuan yang telah dilakukannya agar isu ini tidak lagi dianggap remeh.
“Terima kasih,” kata Aurelie secara singkat namun penuh makna.
Sekarang, bola panas berada di tangan pemerintah dan lembaga terkait guna memastikan bahwa Broken Strings berikutnya tidak akan pernah lagi muncul di bumi Indonesia.
(/Grid.ID/TribunBogor.com)
Jangan lewatkan berita menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook
