Perjuangan Manusia Silver Bertahan Hidup, Rela Kulit Rusak demi Keluarga



JAKARTA – Banyak orang mencari cara untuk mendapatkan uang, termasuk dengan menjadi manusia silver. Mereka mewarnai tubuhnya dengan cat sablon berwarna silver dan melakukan aksi di lampu merah Jakarta agar bisa mendapatkan sedikit rezeki dari pengendara.

Cat sablon yang digunakan biasanya dicampurkan dengan minyak sayur agar lebih mengkilap. Dengan tampilan yang menarik, mereka berharap bisa menarik perhatian orang-orang dan membuat mereka memberikan uang.

Bacaan Lainnya

Salah satu contoh adalah Wahyu Ningsih (23), seorang perempuan asal Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia memilih menjadi manusia silver setelah di PHK sebagai house keeping. Karena hanya memiliki ijazah SD, ia kesulitan mencari pekerjaan lain. Ia pun ikut suaminya yang juga menjadi manusia silver.

Namun, profesi ini tidak mudah. Ningsih sering merasa gatal dan panas karena paparan cat sablon. Ia harus menahan rasa tersebut demi kebutuhan keluarganya, termasuk membayar kontrakan dan menghidupi anaknya yang masih bayi.

Manusia silver lain, Lita (20), juga merasa takut akan kerusakan kulit akibat cat sablon. Ia merasa malu karena harus berlumuran cat setiap hari, tetapi ia terpaksa melakukannya karena butuh uang.

Anak-anak juga turut serta dalam profesi ini. Iin (33) mengajak dua anaknya yang usianya 10 dan 9 tahun untuk menjadi manusia silver selama libur sekolah. Ia merasa bahwa hal ini adalah cara untuk membantu perekonomian keluarga.

Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika dari RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr. Irwan Saputra Batubara, menjelaskan bahwa cat sablon yang digunakan mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kardio. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan iritasi kulit, luka, bahkan kanker.

Selain itu, logam berat tersebut juga berpotensi merusak organ tubuh lainnya, seperti ginjal, saraf, dan paru-paru. Bahaya ini lebih besar bagi anak-anak karena kulit mereka lebih tipis dan rentan terhadap keracunan.

Banyak manusia silver membersihkan cat sablon dengan sabun cuci piring, namun hal ini justru meningkatkan iritasi kulit. Dr. Irwan menyarankan agar menggunakan sabun bayi yang lembut dan air mengalir untuk membersihkannya.

Ia juga menyarankan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penggunaan cat sablon. Selain itu, pemerintah disarankan untuk melarang penggunaan cat sablon untuk kulit.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai bahwa menjadikan anak-anak sebagai manusia silver merupakan bentuk eksploitasi. Ia meminta pemerintah segera bertindak untuk mengatasi masalah ini.

Menurut Rakhmat, penyebab munculnya manusia silver adalah masalah ekonomi. Pemerintah diharapkan bisa memberikan lapangan pekerjaan, pelatihan, dan pendekatan berbasis ekonomi agar warga tidak terus bergantung pada profesi ini.

Pos terkait