Isi Artikel
Peningkatan Literasi Digital dan Pemberdayaan Ekonomi di Wonosobo
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo melalui Dinas Komunikasi dan Informatika menggelar Rangkaian Roadshow Pelatihan HerTech, Perempuan Berdaya AI. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai dari pagi hingga sore, dengan pendekatan praktik langsung. Acara ini bertujuan untuk memberikan keterampilan praktis dalam pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara produktif, aman, dan beretika, khususnya bagi perempuan dan pelaku UMKM.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Wonosobo dengan ICT Watch, sebagai upaya strategis membekali perempuan dengan pengetahuan teknologi digital. Staf Ahli Bupati Wonosobo Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Yusuf Hariyanto, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital, khususnya AI, tidak bisa dihindari. Ia menekankan bahwa AI bukan hanya alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian dari cara kerja, belajar, dan melayani masyarakat.
“Jika kita tidak memahami AI, kita akan tertinggal. Namun jika kita siap, AI justru menjadi peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan memajukan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Yusuf juga menyoroti besarnya potensi Wonosobo, mulai dari produk pertanian olahan, kuliner, kopi, jajanan khas, hingga industri kreatif seperti kerajinan, fesyen lokal, desain, dan konten digital. Ia menilai bahwa dengan pemanfaatan AI yang tepat, produk UMKM bisa dibuat lebih menarik, pemasarannya lebih luas, ceritanya lebih kuat, dan pasarnya tidak hanya lokal, tetapi menembus regional hingga nasional.
AI, lanjutnya, dapat menjadi alat bantu cerdas bagi UMKM untuk mempercepat proses kreatif, membaca tren pasar, menyusun strategi promosi, hingga meningkatkan efektivitas usaha tanpa menambah beban biaya besar.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap transformasi digital tidak sekadar menjadi agenda teknologi, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat ekonomi, perlindungan, dan kemandirian, terutama bagi perempuan dan pelaku UMKM.
Fokus pada Pemberdayaan Perempuan
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo, Kristhiana Dhewi, menjelaskan bahwa fokus utama program HerTech adalah pemberdayaan perempuan agar lebih bijak dan berdaya dalam menghadapi dunia digital dan perkembangan AI yang sangat pesat.
“Kami berharap peserta mendapatkan pemahaman yang memadai tentang AI, bagaimana memanfaatkannya secara positif untuk usaha, terutama UMKM, sekaligus mampu mengendalikan sisi negatifnya. Yang terpenting, memanfaatkan digital dengan kendali, bukan tanpa kendali,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian HerTech di Wonosobo akan dilanjutkan dengan 7 kelas pelatihan sampai hari Jum’at 19 Desember 2025 yang menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ASN, komunitas pemuda, mahasiswa, hingga pelajar SMA.
Pengembangan Teknologi dengan Pendekatan Etis
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menyampaikan bahwa program HerTech, Perempuan Berdaya AI telah dilaksanakan di 18 kota di Indonesia, dan Wonosobo menjadi kota ke-10 sekaligus salah satu daerah dengan jumlah peserta terbesar.
“Teknologi, termasuk AI, sering dipersepsikan membawa dampak negatif. Padahal, teknologi adalah keniscayaan. Yang terpenting adalah bagaimana kita tumbuh dan berkembang bersama teknologi agar mendapatkan manfaat sebesar-besarnya,” ujarnya.
ICT Watch menegaskan, meskipun AI memiliki risiko, pendekatan program HerTech adalah memaksimalkan manfaat dan meminimalkan dampak negatif melalui literasi, etika, dan kesadaran kritis.
Pelaksanaan di Wonosobo dinilai spesial karena mengadopsi model pelatihan penuh selama dua hari yang terintegrasi, berbeda dengan kota lain yang umumnya memisahkan sesi tatap muka dan daring.
Materi dan Praktik Langsung
Materi HerTech mencakup pengenalan fundamental AI, cara kerja AI, manfaat dan risikonya, hingga praktik pemanfaatan AI untuk kebutuhan sehari-hari, khususnya UMKM. Peserta diajak mencoba langsung penggunaan AI untuk membuat poster promosi, konten visual, foto produk menyerupai studio, hingga jingle lagu, hanya dengan perangkat sederhana seperti telepon genggam. Di sisi lain, peserta juga dibekali pemahaman untuk mengenali hoaks, disinformasi, serta penyalahgunaan AI.
Menurutnya, pemilihan Wonosobo didasarkan pada komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Wonosobo, melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, dalam mendukung literasi dan transformasi digital.
“Kami melihat komitmen yang nyata. Mulai dari kesiapan peserta, fasilitas, hingga dukungan penuh pemerintah daerah. Itu yang membuat kami senang bisa kembali hadir di Wonosobo,” pungkasnya.
