Isi Artikel
Tren Kehilangan Biodiversitas di Pulau Sumatera
Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Syartinilia, menyampaikan bahwa Pulau Sumatera menunjukkan tren kehilangan biodiversitas tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Analisis yang dilakukan pada skala meso di Pulau Sumatera menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) menunjukkan bahwa berdasarkan data global periode 2017–2020, Sumatera mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia.
Dalam skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen, sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11 persen. Peneliti melakukan analisis lebih lanjut terhadap habitat spesies kunci dan karismatik, seperti gajah, orangutan, dan harimau sumatera. Pada skenario bisnis, habitat gajah diproyeksikan menurun hingga 66 persen, sedangkan pada skenario keberlanjutan terdapat potensi peningkatan habitat sekitar 5 persen. Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan.
Rekomendasi Aksi Adaptasi
Berdasarkan hasil analisis kajian ini, Syartinilia merekomendasikan berbagai aksi adaptasi, antara lain restorasi terfokus, konservasi berbasis masyarakat, pengelolaan lanskap terpadu, mitigasi ancaman langsung, serta investasi konservasi berskala besar dengan Pulau Sumatera sebagai wilayah prioritas.
Proyeksi Ekosistem Indonesia 2050
Syartinilia juga memaparkan kajian proyeksi ekosistem Indonesia dalam perspektif antropogenik dan perubahan iklim. Kajian ini menyoroti dinamika kerentanan ekosistem nasional hingga tahun 2050 sebagai dasar perumusan prioritas aksi adaptasi perubahan iklim. Pendekatan yang digunakan dalam riset ini adalah pendekatan multiskala, mulai dari tingkat nasional hingga pulau. Pada skala nasional, tim peneliti melakukan analisis overlay antara keterpaparan iklim dan kualitas ekosistem terestrial yang diukur melalui indeks vegetasi. Dari dua variabel tersebut, disusun tingkat kerentanan lanskap dalam sembilan level.
Hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional Indonesia masih didominasi oleh kerentanan rendah hingga sedang, meskipun terdapat wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi. Ketika dianalisis berdasarkan tipe ekosistem, ditemukan bahwa ekosistem lahan basah dan ekosistem pegunungan merupakan dua tipe ekosistem yang paling rentan secara nasional. Secara spasial, Pulau Sumatera tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi, diikuti Papua, Kalimantan, dan Maluku.
Kajian untuk Dokumen National Communication
Syartinilia mengatakan kajian ini merupakan bagian dari analisis yang disusun IPB University untuk dokumen National Communication, khususnya pada sektor adaptasi perubahan iklim di bidang ekosistem. Analisis dilakukan tidak hanya berbasis data historis, tetapi juga memproyeksikan kondisi ekosistem ke depan berdasarkan dinamika perubahan yang telah terjadi. Kajian ini tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga mencoba memproyeksikan ke depan berdasarkan dinamika perubahan yang ada.
Ia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia dalam skala lanskap. Fenomena kenaikan suhu, pergeseran pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, serta perubahan biodiversitas merupakan proses yang saling terkait. Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia.
