Peluang pemulihan aset kripto pada 2026, Bitcoin ditarget sentuh US$140.000

, JAKARTA — Harga sejumlah aset kripto seperti Bitcoin ambruk pada 2025. Terdapat peluang pemulihan pada tahun ini, dengan target harga aset kripto terbesar Bitcoin menyentuh level US$140.000 per koin.

Berdasarkan data CoinMarketCap, sejumlah harga aset kripto memang melorot pada 2025. Harga Bitcoin misalnya telah turun 7,2% dalam setahun. Hari ini, Jumat (2/1/2025), Bitcoin terparkir di level US$89.603 per koin.

Bacaan Lainnya

Kemudian, harga Ethereum turun 11,77%, Solana melorot 37,64%, dan XRP turun 20,84% dalam setahun. Bahkan, harga Dogecoin ambruk 61,34% dalam setahun.

Financial Expert Ajaib Panji Yudha mengatakan Bitcoin sendiri menandai penurunan tahunan pertamanya sejak 2022. Bagi Bitcoin, secara khusus pada kuartal terakhir 2025 menjadi sorotan karena mencatatkan penurunan signifikan sebesar 23%.

Melemahnya momentum dipicu oleh tekanan makroekonomi global serta aksi jual masif dari entitas whale dan investor bermodal besar yang menyebabkan harga terkoreksi.

“Memasuki 2026, Bitcoin memiliki peluang untuk bangkit dan melampaui angka enam digit, dengan zona target potensial di kisaran US$120.000 hingga US$140.000,” ujar Panji kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2025).

Namun, skenario tersebut membutuhkan dukungan data ekonomi yang suportif dan akumulasi on-chain yang kuat. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, skenario yang lebih mungkin adalah konsolidasi panjang di dalam rentang harga yang lebar atau wide band.

Adapun, sejumlah katalis pemulihan nasib aset kripto pada 2026 adalah aliran dana dari rekening pensiun AS. Pasca perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada Agustus 2025, pintu investasi aset kripto untuk dana pensiun kini terbuka lebar.

Katalis lainnya adalah rencana Komisi Sekuritas dan Bursa AS atau SEC untuk memberikan keringanan regulasi bagi startup kripto untuk menguji produk baru mulai Januari 2026. Kemudian, Pemerintah AS kini memiliki cadangan sekitar 233.736 BTC yang berfungsi sebagai perisai psikologis pasar.

Selain itu, Tether secara konsisten menambah cadangan Bitcoin mereka, termasuk transaksi terbaru sebesar 8.888,88 BTC. Sementara itu, perusahaan Strategy kini memegang 672.497 BTC dengan posisi keuntungan belum direalisasi sekitar 16%. Ditambah, bank besar seperti Morgan Stanley dan Bank of America kini aktif memberikan saran investasi kripto.

“Pasar kripto 2026 memiliki landasan fundamental yang kuat berkat kejelasan regulasi dan potensi masuknya dana pensiun AS. Meskipun tekanan makro dari The Fed masih ada, reformasi pajak di berbagai negara, seperti Jepang yang memangkas tarif menjadi 20% dan langkah strategis institusi memberikan sinyal pemulihan jangka panjang bagi investor,” ujar Panji.

Di sisi lain, Co-founder Cryptowatch Christopher Tahir cenderung pesimis terhadap prospek aset kripto pada tahun ini dikarenakan minimnya katalis penggerak harga.

“Alangkah lebih baik untuk memantau update terkini dari kondisi perekonomian dan juga perubahan likuiditas yang dapat terjadi pada kuartal pertama tahun ini untuk mendapatkan kejelasan dari peluang mengalirnya likuiditas ke kripto pada umumnya,” ujar Christopher kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2025).

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menjelaskan pergerakan Bitcoin sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026 berada di area support struktural yang sangat penting. Bitcoin mampu bertahan di atas area US$80.000 pada penutupan bulanan, yang secara historis menjadi zona stabilisasi harga.

“Namun, tekanan masih terlihat dari sisi likuiditas dan sentimen global,” katanya dalam keterangan tertulis pada Rabu (31/12/2025).

Data on-chain menunjukkan adanya sinyal yang saling bertolak belakang. Indikator permintaan institusional dari AS, yakni Coinbase Premium tercatat berada di zona negatif dalam waktu yang cukup panjang. Kondisi ini menandakan tekanan jual dari investor AS masih berlangsung dan menjadi faktor utama tertahannya pergerakan harga Bitcoin di bawah level US$90.000 per koin. 

Fyqieh menilai, selama premi Coinbase belum kembali positif secara konsisten, pasar masih berpotensi mengalami fluktuasi dan koreksi terbatas.

Di sisi lain, tekanan jual mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Arus keluar dari ETF Bitcoin Spot memang masih terjadi, namun volumenya terus menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. 

“Ini mengindikasikan bahwa tekanan distribusi tidak lagi sekuat sebelumnya. Dalam beberapa siklus historis, kondisi seperti ini sering menjadi fase transisi menuju konsolidasi yang lebih sehat,” ujar Fyqieh.

Arah Pasar Kripto 2026

Adapun, memasuki 2026, pasar kripto diperkirakan masih berada dalam fase transisi antara tekanan makroekonomi global dan potensi pertumbuhan jangka menengah yang semakin kuat. Dinamika suku bunga global, arus institusional, serta perilaku investor jangka panjang akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar kripto sepanjang 2026.

Dari sisi makroekonomi, kebijakan Bank Sentral AS masih menjadi tantangan utama bagi pasar kripto. Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan bahwa The Fed cenderung mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama, dengan peluang pemangkasan suku bunga baru terbuka setelah Maret atau bahkan April 2026, jika inflasi benar-benar melandai.

Kondisi higher for longer membuat likuiditas global tetap ketat dan membatasi katalis kenaikan harga kripto dalam jangka pendek.

Pada awal 2026, risiko pasar kripto masih cenderung ke downside apabila data inflasi dan tenaga kerja tidak mendukung pelonggaran kebijakan moneter. Namun, tekanan ini bersifat makro dan bukan karena melemahnya fundamental kripto itu sendiri,” kata Fyqieh.

Dari sisi regulasi, 2026 diperkirakan menjadi fase penting bagi industri kripto global. Di AS misalnya, regulasi yang lebih komprehensif seperti Clarity Act berpotensi disahkan dan memberikan kepastian hukum yang lebih jelas bagi pelaku industri. 

Dia juga menjelaskan ke depan, arah pasar berpotensi semakin jelas ketika Bitcoin keluar dari area konsolidasinya. Jika Bitcoin tembus US$105.000 per koin, maka dapat membuka ruang penguatan lanjutan. Di sisi lain, penurunan harga Bitcoin di bawah US$80.000 bisa memicu koreksi lebih dalam.

________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pos terkait