Patung macan putih Kediri viral karena bentuk tak lazim, pembuat ungkap dikerjakan 18 hari dibayar Rp 2 juta

RUBLIK DEPOK – Patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur tengah menjadi sorotan publik usai viral di media sosial karena bentuknya dinilai tidak proporsional dan berbeda dari wujud macan pada umumnya. Patung tersebut bahkan ramai diperbincangkan karena tampilannya lebih menyerupai zebra dibanding macan, sehingga memancing reaksi beragam dari warganet.

Dikerjakan 18 Hari oleh Suwari dan Dibayar Rp 2 Juta

Pembuat patung, Suwari (60), mengaku mengerjakan patung itu selama 18 hari seorang diri tanpa bantuan kuli atau pematung lain. Ia menyebut hanya bekerja setengah hari setiap harinya karena faktor usia. Suwari yang sebelumnya merupakan pelaku seni ludruk sekaligus pemukul kendang mengatakan dirinya telah membuat patung sesuai permintaan Kepala Desa.

Bacaan Lainnya

Menurut Suwari, wujud patung mengikuti ilustrasi yang diberikan, hanya saja corak loreng dibuat putih untuk menyesuaikan cerita lokal di desa. Ia menyebut ongkos pengerjaan patung senilai Rp 2 juta dibayarkan langsung oleh kepala desa melalui sistem borongan, sedangkan material seperti semen, pasir, kawat, dan besi telah disiapkan.

Total Anggaran Disebut Rp 3,5 Juta dan Bukan dari Dana Desa

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menegaskan biaya keseluruhan pembuatan patung mencapai Rp 3,5 juta termasuk ongkos kerja dan bahan material. Ia menyatakan secara tegas bahwa dana tersebut murni berasal dari kantong pribadinya, bukan dana desa ataupun anggaran pemerintah. Safi’i menyebut patung dibangun untuk mempercantik lingkungan dan menjadi ikon desa yang terinspirasi dari cerita lokal mengenai macan putih.

Fenomena patung ini kemudian berkembang luas di publik usai tersebar di berbagai platform media sosial. Foto-foto yang menunjukkan seseorang menaiki patung tersebut menambah ruang diskusi dan candaan di kalangan warganet. Sejumlah komentar muncul menyebut bentuk kepala dan tubuh macan kurang sesuai anatomi asli, sementara lainnya menilai keberadaan patung menjadi hiburan tersendiri bagi warga.

Ramai Jadi Perbincangan, Patung Macan Justru Menarik Wisatawan Lokal

Meski menuai kritik, patung ini mendadak menjadi objek wisata baru. Warga sekitar dan pengunjung dari luar daerah datang untuk berfoto langsung di lokasi. Beberapa bahkan sengaja menjadikan patung tersebut konten hiburan di media sosial. Kondisi ini mendorong pemerintah desa mulai menata area sekitar agar lebih rapi dan nyaman bagi pengunjung.

Sejumlah tokoh seni daerah juga memberi tanggapan bahwa keunikan patung menjadi bagian dari ekspresi seni rakyat yang tidak selalu mengikuti pakem realis. Patung-patung desa semacam ini pada masa lalu kerap dibangun sebagai simbol budaya atau penanda wilayah. Meski bentuknya menuai perdebatan, karya Suwari dinilai memiliki nilai historis terkait proses kreatif masyarakat desa.

Rencana Perawatan dan Penyempurnaan Patung ke Depan

Setelah viral, beberapa tokoh masyarakat mengusulkan agar dilakukan penyempurnaan bentuk agar lebih mirip macan atau peningkatan cat agar tampil lebih artistik. Usulan ini disambut positif dan terbuka kemungkinan dilakukan perawatan ulang untuk memperindah tampilan patung. Desa juga mempertimbangkan menjadikan area patung sebagai ruang publik terbuka yang dapat menunjang pariwisata lokal.

Fenomena patung macan ini menjadi contoh bagaimana karya seni sederhana dapat tiba-tiba menjadi pusat perhatian nasional. Bukan hanya perihal bentuk yang memicu diskusi, cerita pengerjaan yang dilakukan seorang diri dengan biaya terbatas turut menambah sorotan publik. Kini, masyarakat menunggu langkah lanjutan pemerintah desa apakah akan mempertahankan bentuk asli sebagai identitas humoris atau memperbaikinya menjadi lebih realistis.

Pos terkait