Ringkasan Berita:
- Kadin Surabaya menilai keluhan pedagang Pasar Atom dan Pasar Turi sebagai masalah struktural, bukan insiden sesaat.
- Data menunjukkan trafik pengunjung turun 25–35 persen dan omzet pedagang menurun 20–30 persen pascapandemi.
- Kadin mendorong reposisi pasar, integrasi digital, serta perbaikan akses, kenyamanan, dan promosi.
- Dialog terbuka dinilai penting agar pasar tradisional tetap relevan, adaptif, dan berdaya saing.
| SURABAYA – Kadin Surabaya mencermati secara serius keluhan yang disampaikan para pedagang Pasar Atom dan Pasar Turi sepanjang tahun 2025, termasuk yang sempat mencuat ke ruang publik pada Desember lalu.
“Fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai insiden sesaat, melainkan sebagai sinyal struktural bahwa pasar tradisional dan grosir tengah menghadapi tekanan besar di tengah perubahan pola konsumsi, disrupsi digital, dan pergeseran pusat aktivitas ekonomi kota,” kata M Ali Affandi, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya, Minggu (28/12/2025).
Berdasarkan dialog Kadin dengan asosiasi pedagang dan data Dinas Perdagangan, terjadi penurunan trafik pengunjung sekitar 25 – 35 persen dibanding periode pra-pandemi, dengan penurunan omzet rata-rata pedagang berada di kisaran 20 – 30 persen sepanjang 2024–2025.
Keluhan utama pedagang meliputi menurunnya kunjungan, tingginya biaya operasional dan service charge, serta belum optimalnya strategi promosi dan repositioning pasar oleh pengelola.
Viralnya protes pedagang, khususnya di Pasar Atom, sejatinya adalah ekspresi kegelisahan ekonomi, bukan sekadar konflik pengelolaan.
“Kita harus jujur melihat realitas, model bisnis pasar grosir konvensional tidak bisa lagi berjalan dengan pendekatan lama. Konsumen hari ini menuntut kemudahan akses, pengalaman belanja yang nyaman, terintegrasi dengan digital, serta konektivitas transportasi yang baik. Pasar yang tidak beradaptasi akan tertinggal, betapapun kuatnya sejarah dan nama besar yang dimiliki,” jelas Mas Andi, sapaan akrab M Ali Affandi.
Butuh Reposisi Strategis
Dia juga menyebut solusi tidak cukup dengan insentif jangka pendek.
“Yang dibutuhkan adalah reposisi strategis,” tegas Andi.
Pertama, redefinisi fungsi pasar.
Pasar Atom, sebagai pasar legendaris Surabaya, harus direposisi bukan hanya sebagai pusat belanja, tetapi sebagai destinasi perdagangan dan budaya, menggabungkan grosir, UMKM unggulan, kuliner khas, dan event tematik rutin.
Pengalaman belanja harus menjadi alasan orang datang, bukan sekadar harga murah.
Kedua, integrasi digital dan omnichannel.
Pedagang perlu difasilitasi untuk masuk ke ekosistem online, baik melalui marketplace bersama, katalog digital, maupun layanan reseller dan grosir daring.
Data menunjukkan pedagang yang mengombinasikan offline–online mampu menjaga omzet 10–15 persen lebih baik dibanding yang sepenuhnya konvensional.
Ketiga, penataan ulang akses dan kenyamanan.
Ketersediaan parkir, kebersihan, keamanan, serta konektivitas transportasi publik sangat menentukan.
Kota-kota besar di Asia menunjukkan bahwa revitalisasi pasar yang berhasil selalu dimulai dari perbaikan akses dan kenyamanan dasar.
Keempat, dialog terbuka dan transparansi pengelolaan.
Kadin Surabaya mendorong pengelola dan pedagang duduk bersama secara rutin, dengan pendekatan data dan keberpihakan pada keberlanjutan usaha.
Tanpa kepercayaan, tidak akan ada transformasi.
“Pasar Atom dan Pasar Turi adalah bagian dari denyut sejarah ekonomi Surabaya. Tantangannya hari ini bukan mempertahankan masa lalu, tetapi menemukan relevansi baru di masa depan,” papar Andi.
Kadin Surabaya siap menjadi jembatan, antara pedagang, pengelola, dan pemerintah, agar pasar-pasar ini tidak hanya bertahan, tetapi kembali hidup sebagai simpul ekonomi rakyat yang adaptif, modern, dan berdaya saing.
“Karena pada akhirnya, kota yang besar bukan kota yang meninggalkan pasar tradisionalnya, melainkan kota yang mampu mengangkat tradisi ke level berikutnya melalui inovasi dan tata kelola yang cerdas,” pungkas Andi.
