Setelah sekian lama vakum dari media sosial, mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, kembali muncul dengan sebuah pernyataan permintaan maaf yang mengejutkan. Pernyataan ini diunggah melalui akun Instagramnya pada hari Selasa (23/12/2025) dan langsung mendapat perhatian besar dari netizen. Di tengah respons yang beragam, banyak netizen yang mengangkat kembali pantun lama Ridwan Kamil yang sering dikaitkan dengan Aura Kasih, yang menjadi bahan lelucon dan candaan selama beberapa waktu.
Pantun yang sering digunakan oleh Ridwan Kamil dalam sambutannya terkait isu hubungan pribadi, kini kembali menjadi sorotan. Netizen mulai membanjiri kolom komentar dengan pantun-pantun yang mengacu pada tema tersebut. Salah satu contohnya adalah “Aura Kasih ke Baekasi, terima kasih udah klarifikasi,” yang menunjukkan bahwa netizen masih ingat akan gaya bicara Ridwan Kamil yang khas. Pantun lainnya seperti “Aura Kasih makan kerang, kenapa baru nyesel sekarang,” juga mencerminkan kritik dan sindiran yang tidak terlalu keras namun tetap menyentuh.
Ridwan Kamil dalam pernyataannya mengakui bahwa selama 29 tahun membina rumah tangga dengan Atalia Praratya, ia telah melakukan banyak kekhilafan dan dosa. Ia menjelaskan bahwa perpisahan antara dirinya dan istri adalah hak Atalia untuk meraih kebahagiaan tanpa adanya dirinya di dalamnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia telah belajar dari pengalaman hidupnya dan ingin memberikan ruang bagi keluarga untuk melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
Tidak hanya netizen, para pengamat politik dan media juga memberikan respons terhadap pernyataan ini. Beberapa dari mereka melihat bahwa langkah Ridwan Kamil untuk meminta maaf merupakan tindakan yang bijak dan penting untuk menjaga reputasi serta hubungan dengan publik. Meski ada yang skeptis, banyak pihak yang menghargai kejujurannya dan sikapnya yang rendah hati.
Pantun lama Ridwan Kamil yang kembali disebut-sebut oleh netizen menunjukkan betapa kuatnya pengaruhnya di dunia media sosial. Meskipun pernyataan permintaan maaf ini bisa dibilang sebagai langkah awal untuk memperbaiki citra, hal ini juga menjadi bukti bahwa dia masih memiliki pengikut setia yang peduli dengan perkembangan hidupnya.
Dengan demikian, peristiwa ini tidak hanya menjadi topik diskusi di kalangan netizen, tetapi juga menjadi pelajaran bagi tokoh-tokoh publik bahwa kejujuran dan sikap rendah hati tetap menjadi nilai penting dalam menjaga hubungan dengan masyarakat. Dalam konteks ini, pantun lama Ridwan Kamil menjadi simbol dari perjalanan panjang dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan pribadinya.
