Jakarta – Kebijakan penghapusan pajak bagi korban bencana alam diharapkan dapat memberikan bantuan finansial yang signifikan. Namun, di tengah situasi tersebut, harga sembako menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 justru mengalami kenaikan yang cukup tajam. Hal ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, terutama masyarakat yang sedang mempersiapkan liburan akhir tahun.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan bahwa peningkatan harga komoditas pangan seperti cabai rawit merah, ayam ras, dan telur ayam ras disebabkan oleh keterbatasan suplai. “Banyak distributor yang masih tutup karena libur, sehingga suplainya menjadi terbatas,” ujar Budi dalam Konferensi Pers Capaian 2024 dan Program Kerja 2025, di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin.
Selain itu, kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh keterlambatan panen. Budi memperkirakan bahwa pada pertengahan Januari nanti, akan ada panen cabai yang diharapkan dapat menstabilkan harga. Saat ini, cabai juga sedang memasuki musim tanam.
Dikutip dari laman resmi Badan Pangan Nasional, selama sepekan, terhitung dari 30 Desember 2024-6 Januari 2025, harga rata-rata nasional untuk sejumlah komoditas pangan mengalami peningkatan. Contohnya, harga daging ayam ras naik dari Rp37.900 per kg pada 30 Desember 2024, menjadi Rp38.580 per kg pada 1 Januari 2025, sebelum turun menjadi Rp37.920 per kg pada 6 Januari 2025.
Sedangkan, untuk cabai rawit merah, peningkatan terus terjadi, dari Rp58.600 per kg pada 30 Desember 2024, naik menjadi Rp60.380 per kg pada 1 Januari 2025, dan terus naik menjadi Rp71.000 per kg pada 6 Januari 2025.
[IMAGE: Pajak Dihapus untuk Korban Bencana Harga Sembako Nataru Menggila]
Meski demikian, Budi menjelaskan bahwa kenaikan harga yang terjadi pada periode Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 relatif stabil. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat pada momen tersebut. Meskipun begitu, para konsumen tetap merasa khawatir dengan fluktuasi harga yang terjadi.
Perlu diperhatikan bahwa meski pajak untuk korban bencana dihapus, masyarakat tetap menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang lebih efektif untuk menstabilkan harga sembako dan melindungi masyarakat dari beban ekonomi yang berlebihan.
