Isi Artikel
Jakarta, IDN Times– Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, pada hari Senin (15/12/2025), memulai tahap pertama dari operasi pencarian jenazah warga Palestina yang terkubur di bawah puing-puing. Operasi ini dilaksanakan bersama dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, menyatakan bahwa tahap awal operasi fokus pada rumah-rumah yang menjadi target serangan Israel selama bulan-bulan awal konflik. Operasi kemanusiaan ini dimulai di rumah keluarga Abu Ramadan di pusat Kota Gaza, yang rusak parah akibat serangan udara yang intensif.
1. Tim perlindungan sipil bekerja dengan sumber daya yang terbatas
Menurut otoritas Gaza, sekitar 9.000 jenazah diperkirakan masih berada di bawah puing-puing akibat serangan udara Israel dalam dua tahun terakhir. Namun, keterbatasan peralatan, struktur bangunan yang tidak aman, serta cuaca hujan menghambat proses pencarian.
Dalam konferensi pers, Basal menyampaikan bahwa tim penyelamat sipil akan terus melanjutkan pencarian jenazah dengan sumber daya yang saat ini tersedia, sambil menunggu pihak lain menyediakan alat berat. Menurutnya, diperlukan setidaknya 20 bulldozer dan 20 ekskavator untuk mengangkut ribuan jenazah, sehingga keluarga dapat memandikan orang-orang yang mereka cintai dengan cara yang layak sesuai prinsip agama dan kemanusiaan.
Meski menghadapi keterbatasan, tim perlindungan sipil berhasil mengevakuasi 20 jenazah pada hari Senin, menurut laporan dariAl Jazeera.
2. Sekitar 100 orang terjebak di dalam rumah Abu Ramadan
Abu Ibrahim Salem dari Beit Lahia di Gaza utara mengungkapkan bahwa dirinya bersama keluarganya mencari tempat berlindung di Kota Gaza, wilayah yang mereka anggap aman dari serangan Israel, pada bulan Desember 2023. Menurut keterangannya, sekitar 113 kerabat tinggal di rumah keluarga Abu Ramadan, yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan dirinya.
“Rumah itu dibom saat semua orang masih berada di dalam—lansia, anak-anak, dan perempuan—tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Hanya 13 orang yang berhasil selamat, dengan kondisi luka yang berbeda-beda,” katanya, dilaporkan dariThe New Arab.
Ia menyampaikan bahwa 97 orang masih tertimbun di bawah puing-puing meskipun telah berulang kali mengajukan permintaan kepada lembaga-lembaga internasional, lokal, dan resmi.
“Respons yang kami terima selalu negatif hingga saat ini, ketika tindakan penting ini akhirnya diambil, sehingga akhirnya kami bisa berpamitan kepada keluarga kami dan menguburkan mereka dengan cara yang menghormati martabat kemanusiaan,” tambahnya.
3. Israel terus melanggar aturan yang tercantum dalam kesepakatan gencatan senjata
Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak bulan Oktober, pihak otoritas di Gaza menyatakan bahwa Israel masih melakukan serangan ke wilayah tersebut setiap hari. Kota Tel Aviv disalahkan melakukan hampir 800 serangan sejak gencatan senjata berlaku, yang mengakibatkan kematian hampir 400 warga Palestina serta menghambat distribusi bantuan kemanusiaan secara bebas.
Berdasarkan kesepakatan, setidaknya 600 truk bantuan harus masuk ke Gaza setiap hari. Namun, Ismail Al-Thawabteh, kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, menyatakan bahwa Israel hanya memperbolehkan kurang dari sepertiga pasokan bantuan yang diperlukan bagi 2,4 juta penduduk Gaza.
Selain itu, Israel terus menghalangi masuknya mesin dan alat berat yang diperlukan oleh tim pertahanan sipil untuk mengevakuasi jenazah korban dari bawah puing-puing. Tindakan ini, menurut Al-Thawabteh, merupakan pelanggaran nyata terhadap seluruh hukum kemanusiaan, sebagaimana dilaporkan dariAnadolu.
PBB Mengingatkan Bantuan ke Gaza Terganggu Akibat Pembatasan yang Diberlakukan Israel Ahli PBB: Israel dan Pendukungnya Perlu Menanggung Biaya Pembangunan Kembali Gaza Badai Musim Dingin Ekstrem Menghancurkan Gaza, 11 Orang Tewas dan Kerugian Capai Rp63 Miliar
