SUMEDANG BAGUS– Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPCI) Jawa Barat terus berupaya meningkatkan kemandirian atlet dan mantan atlet disabilitas dengan memberikan pelatihan keterampilan wirausaha. Salah satu tindakan nyata dilakukan melalui kegiatan “Pelatihan Keterampilan Atlet dan Mantan Atlet” yang diadakan di Hotel Serela, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung.
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan 27 pengurus cabang (Pengcab) NPCI kabupaten/kota di Jawa Barat dan berlangsung selama dua hari, 18–19 Desember 2025. Pelatihan bertujuan memberikan bekal kepada atlet dan mantan atlet agar memiliki sumber penghasilan yang stabil di luar bidang keatletan.
Salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta adalah kesempatan menjadi wirausaha dengan dasar dedikasi, kesetiaan, dan kepekaan. Topik ini disampaikan oleh pengusaha kuliner Rumah Makan (RM) Ampera, Yuheni, yang dianggap memiliki pengalaman serta kemampuan yang memadai dalam dunia bisnis.
Lulusan Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) ini secara jujur membahas peluang bisnis kuliner yang dianggap sangat terbuka bagi anggota NPCI Jabar. Yuheni adalah putri kelima dari pasangan H. Tatang Sujani dan St. E. Rochaety, pendiri RM Ampera yang telah berdiri sejak tahun 1963.
Menurut Yuheni, setiap individu memiliki dorongan untuk berkembang, termasuk atlet dan mantan atlet yang memiliki disabilitas. Ia menekankan bahwa keterbatasan tubuh bukan halangan untuk mencapai keberhasilan.
“Kehidupan memang penuh tantangan, membutuhkan usaha, upaya, dan doa. Teman-teman disabilitas ini semuanya memiliki kemampuan, mereka luar biasa dan telah menjadi pemenang dalam berbagai kompetisi. Saya justru merasa kalah, karena mereka telah membuktikan prestasi mereka,” kata Yuheni di tengah pelatihan.
Mengenai usaha pertama, Yuheni menekankan bahwa setiap bisnis pasti dimulai dari awal dan tidak selalu memerlukan modal yang besar. Keberanian dalam memulai menjadi faktor utama.
“Tidak perlu modal besar. Ayah saya dulu juga memulai tanpa modal yang besar. Intinya adalah berani terlebih dahulu. Cukup dengan Bismillah. Setiap orang memiliki keahlian, dan keahlian tersebut bisa dijadikan sebagai bisnis,” katanya.
Yuheni juga memberikan kesempatan kepada atlet disabilitas untuk melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di RM Ampera, sesuai dengan kemampuan dan keterampilan masing-masing. Ia menambahkan, RM Ampera cukup ramah terhadap disabilitas, terutama dari segi aksesibilitas.
“Saya berharap teman-teman disabilitas ini menjadi seorang bos. Menjadi seorang bos memang memerlukan proses, tetapi hal itu harus dilalui. Berproseslah,” katanya.

Di sisi lain, Ketua I Bidang Organisasi NPCI Jawa Barat, Komara, mengatakan bahwa bonus prestasi yang diterima oleh atlet disabilitas seharusnya digunakan secara efektif, salah satunya dengan memulai usaha sendiri.
“Kami menghadirkan pembicara dari RM Ampera karena mereka telah terbukti berhasil melalui proses yang panjang. Harapannya, atlet menjadi lebih termotivasi agar bonus prestasi tidak hilang begitu saja tanpa meninggalkan dampak positif untuk masa depan,” kata Komara.
Menurutnya, salah satu hambatan utama atlet disabilitas dalam memulai usaha adalah rasa tidak percaya diri dan rendahnya kepercayaan diri. Oleh karena itu, motivasi yang berasal dari diri sendiri, keluarga, serta lingkungan organisasi sangat diperlukan.
“Jika kita mengikuti filosofi ‘Man jadda wajada’, yang dalam bahasa Sunda disebut keyeng tangtu pareng—jika benar-benar tekun, tujuan pasti akan tercapai—maka rintangan tersebut bisa diatasi. Jika memungkinkan, bantuan dari pengcab juga dapat digunakan untuk mendukung usaha para atlet,” tambahnya.
