Nasib Kades Darusman tewas dibanting kawanan gajah, sempat ditelepon 3 kali oleh warga

Kepergian Darusman menyisakan duka mendalam bagi warga Desa Braja Asri, Lampung Timur. Sosok kepala desa yang dikenal tak pernah setengah-setengah mengabdi itu meregang nyawa setelah diserang kawanan gajah liar saat berupaya melindungi wilayah warganya.

Nama Darusman kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat setempat. Bukan tanpa alasan, pria yang menjabat sebagai Kepala Desa Braja Asri itu menghembuskan napas terakhirnya dalam situasi yang mencerminkan totalitas pengabdian seorang pemimpin desa.

Bacaan Lainnya

Demi memastikan keselamatan warga dan menyelamatkan lahan pertanian, Darusman turun langsung ke lapangan menghadapi kawanan gajah liar yang kerap masuk ke kawasan permukiman.

Namun upaya itu berujung tragedi.

Berhadapan Langsung dengan Kawanan Gajah

Insiden nahas tersebut terjadi ketika kawanan gajah liar masuk ke wilayah perladangan warga Desa Braja Asri. Kawanan gajah yang diperkirakan berjumlah sekitar 17 ekor itu membuat resah karena berpotensi merusak tanaman pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Sebagai wilayah penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Desa Braja Asri memang kerap berhadapan dengan konflik satwa liar, khususnya gajah Sumatra yang dilindungi undang-undang.

Gajah liar merupakan satwa yang hidup bebas di habitat alaminya, mencari makan, berkembang biak, dan bermigrasi secara alami tanpa campur tangan manusia. Namun menyempitnya ruang jelajah membuat konflik antara manusia dan gajah tak terhindarkan.

Pada Rabu (31/12/2025), Darusman ikut dalam tim penggiringan kawanan gajah agar kembali ke kawasan TNWK. Upaya ini dilakukan bersama ratusan warga yang terbagi dalam beberapa kelompok penjagaan.

Namun situasi berubah tak terkendali ketika kawanan gajah merasa terancam dan tiba-tiba mengamuk.

Luka Parah di Sekujur Tubuh

Darusman menjadi korban serangan saat kawanan gajah mendekat dari arah yang tak terduga. Ia dilaporkan terjatuh di tengah upaya penggiringan.

Dalam kondisi tersebut, dua ekor gajah menyerangnya secara brutal.

Akibat kejadian itu, Darusman mengalami luka serius di sejumlah bagian tubuh, mulai dari kaki, dada, hingga pelipis.

Warga yang berada di lokasi segera mengevakuasi Darusman dan membawanya ke rumah sakit terdekat di wilayah Lampung Timur.

Namun luka yang dideritanya terlalu parah. Nyawa Darusman tak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia.

Kabar duka itu pun cepat menyebar dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Braja Asri.

Kades yang Totalitas Mengabdi

Kakak kandung Darusman, Kusnan, mengenang adiknya sebagai sosok pemimpin desa yang tak pernah ragu turun langsung ke lapangan.

Menurut Kusnan, semangat Darusman sebagai kepala desa di kawasan rawan konflik satwa liar tidak pernah surut.

“Sebagai kakak, saya kehilangan adik. Sebagai warga Braja Asri, kami kehilangan pemimpin desa yang bekerja dengan penuh totalitas,” ujar Kusnan saat ditemui di kediamannya di Lampung Timur, Kamis (1/1/2026).

Kusnan menuturkan, setiap kali ada laporan gajah liar masuk ke wilayah desa, Darusman hampir selalu berada di barisan depan bersama warga.

Ia tak segan mendampingi masyarakat berjaga, bahkan hingga larut malam, demi mencegah kawanan gajah masuk lebih jauh ke permukiman.

Sebagian besar waktu Darusman dihabiskan di lapangan, membantu menyelesaikan persoalan-persoalan warga, terutama yang berkaitan dengan konflik manusia dan gajah.

Tiga Kali Telepon Sebelum Kejadian

Kusnan mengungkapkan, sebelum insiden maut itu terjadi, Darusman sempat menerima tiga kali panggilan telepon dari warga sekitar pukul 09.30 WIB.

Panggilan tersebut berisi laporan mendesak tentang kawanan gajah liar yang kembali masuk ke area perladangan.

Mendapat kabar itu, Darusman segera bersiap dan ikut bergabung dengan warga untuk melakukan penghalauan.

Sekitar pukul 10.30 WIB, ratusan warga yang terbagi dalam beberapa kelompok mulai bergerak. Kawanan gajah yang datang dari arah timur berusaha digiring menjauh menggunakan kembang api atau petasan.

Sementara itu, Darusman bersama kelompoknya berjaga dari arah barat.

Namun situasi di lapangan berubah cepat.

Saat kawanan gajah dari arah timur semakin mendekat dan berada di posisi berbahaya, Darusman diduga terpergok dan terjatuh.

“Di situlah dua ekor gajah menyerang Darusman,” tutur Kusnan, mengutip keterangan warga yang berada di lokasi kejadian.

Konflik Gajah yang Terus Berulang

Kusnan menambahkan, kejadian kawanan gajah liar masuk ke wilayah permukiman bukanlah peristiwa baru di tahun 2025.

Menurutnya, konflik tersebut sudah berulang kali terjadi dan menjadi persoalan menahun bagi warga desa penyangga TNWK.

Diduga, kawanan gajah masuk ke lahan pertanian warga untuk mencari sumber makanan, terutama tanaman jagung dan padi yang siap panen.

Situasi ini membuat para petani hidup dalam kecemasan.

“Menjelang panen, bukannya senang, warga justru tidak bisa tidur nyenyak. Mereka berjaga di ladang karena takut tanamannya habis dimakan gajah,” ujar Kusnan.

Ia pun mempertanyakan sampai kapan warga harus terus-menerus berada di garis depan menghadapi konflik tersebut.

Menurut Kusnan, masyarakat membutuhkan solusi nyata dan sikap tegas dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur serta instansi terkait.

Pasalnya, konflik gajah liar tidak hanya terjadi di Desa Braja Asri, tetapi juga meluas ke wilayah lain seperti Braja Selebah, Purbolinggo, dan Labuhan Ratu.

“Kalau tidak dihalau, habis tanaman petani dimakan gajah. Ini masalah yang sudah bertahun-tahun,” katanya.

“Kalau tidak ada solusi konkret, kejadian seperti ini akan terus berulang,” pungkas Kusnan.

Pos terkait