Mengungkap Saham Paling Menguntungkan 2025, Bisa Melonjak Lagi 2026?

https://mediahariini.com, JAKARTA – Saham-saham terafiliasi konglomerat menjadi primadona di pasar sahamsepanjang tahun 2025. Saham seperti DCII, MORA, serta BUMI menjadi anggota daftartop leaders di Indeks Harga Saham Gabungan sejak awal tahun (year-to-date/ytd).

Melihat harga saham-saham tersebut yang semakin tinggi, para investor mulai mengevaluasi prospek dan penilaian harga saat ini dengan mempertimbangkan kelayakan untuk dibeli atau menambahkan akumulasi.

Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan memberikan tiga contoh mengenai saham-sahamtop leaderstahun ini yaitu DCII, MORA, dan BUMI. Saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) menurutnya saat ini mulai memasuki tahapdowntrend.

“Harganya tetap stabil dan melemah meskipun laba pada kuartal III/2025 meningkat signifikan. Ini menunjukkan bahwa momentum pembeli mulai berkurang,” katanya kepadaBisnis, Jumat (12/12/2025).

Pada perdagangan Kamis (11/12), DCII berakhir datar di Rp244.750. Dalam sebulan terakhir, harga tersebut menunjukkan penurunan sebesar 6,52%, meskipun secara year to date saham perusahaan milik Otto Toto Sugiri tersebut naik 481,35%. Secara fundamental, laba bersih DCII pada kuartal III/2025 masih meningkat 83,54% dibanding tahun sebelumnya (YoY).

Sementara itu, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) pada penutupan hari Kamis lalu berada di angka Rp11.950. Harga ini menunjukkan kenaikan sebesar 359,62% dalam sebulan terakhir, tetapi pada perdagangan Kamis mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 14,95%. Namun, secara tahun berjalan (YtD), saham MORA telah mengalami kenaikan yang sangat tinggi, yaitu 2.442,55%. Dari sisi dasar perusahaan, laba bersih MORA pada kuartal III/2025 masih tumbuh sebesar 16,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“MORA possible top[potensi harga telah mencapai titik tertingginya]. Meskipun dasar pasar masih berkembang, laju kenaikan harga terlalu tinggi dibandingkanearning growth,” jelasnya.

Setelah penutupan hari Kamis (11/12), saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) masih naik 10,43% menjadi Rp360. Harga saham ini meningkat sebesar 140% dalam sebulan terakhir, sehingga sejak awal tahun saham BUMI telah melonjak 205,08%. Meskipun demikian, laba bersih perusahaan pada kuartal III/2025 mengalami penurunan sebesar 73,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau saham BUMI masih uptrend. Price actionagresif dengan volume tinggi menunjukkanstrong moneymasih tergolong, berisiko tinggi,” jelas David.

Sesuai dengan kenaikan harga saham yang melonjak ratusan hingga ribuan persen sejak awal tahun, valuasinya juga menjadi lebih tinggi. Contohnya, rasio price to earnings (PE) annualised(diperkirakan) saham MORA berada pada angka 835,86 kali dengan rasioprice to book value(PBV) sebesar 34,38 kali. Sementara itu, PE BUMI berada pada level 215,88 kali dengan PBV 5,31 kali. Bahkan, PE DCII mencapai 530,50 kali dengan PBV 152,41 kali.

Menilik jajaran saham top leadersselainnya, saham PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) yang harganya melonjak mencapai Rp100.000, memiliki rasio PE sebesar 211,50 dengan PBV 27,70 kali. Atau, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang naik 127,08% secara YtD pada hari Kamis (11/12), menunjukkan rasio PE sebesar 798,77 kali dengan PBV 53,01 kali.

David melihat bahwa saham-saham dari para pemimpin teratas saat ini tidak memiliki valuasi yang cukup menarik. Namun, hal ini bukan berarti saham-saham tersebut kehilangan potensi pertumbuhan lagi pada tahun mendatang.

Secara umum memiliki valuasi yang tidak wajar, sehingga pendekatan yang dapat dilakukan adalah analisis teknikal danmoney flow,” ujarnya.

David menjelaskan, pada dasarnya dalam siklusmarketsetiap saham pasti memiliki masa kejayaannya masing-masing. Artinya, saham-saham yang mengalami pertumbuhan signifikan tahun ini, belum tentu akan terus berkembang.uptrend di 2026. 

“Apalagi kenaikan sahamnya tidak diimbangi dengan laba yang sesuai, hal ini menyebabkan jarak antara dasar fundamental semakin lebar,” tegasnya.

DisclaimerBerita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. https://mediahariini.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pos terkait