Isi Artikel
– Foto bisa menjadi “penjelajah waktu” untuk menyusuri kembali kenangan masa lalu.
Saat ini, foto kerap menampilkan keceriaan, memotret beragam momen, hingga berbagai pose ekspresif lainnya.
Akan tetapi, pemandangan ini jauh berbeda saat kita membuka foto-foto lawas yang kerap menampilkan wajah tanpa ekspresi.
Wajah-wajah kaku dan tatapan mata yang tajam ini sering kali membuat orang modern berasumsi bahwa nenek moyang kita adalah pribadi yang pemarah, dingin, atau hidup dalam penderitaan tanpa kegembiraan.
Lantas, mengapa orang jaman dulu jarang senyum saat foto?
Proses pemotretan butuh waktu lama
Dikutip dari Time, kurangnya senyum dalam foto-foto lawas adalah proses pemotretan yang membutuhkan waktu lama.
Karena itu, orang-orang dalam foto tidak dapat mempertahankan senyum cukup lama.
“Jika Anda melihat proses awal di mana Anda memiliki waktu pencahayaan yang lama, Anda akan memilih pose yang nyaman,” kata kurator teknologi di Museum George Eastman, Todd Gustavson.
Namun, menurutnya, teknologi telah terlalu dibesar-besarkan sebagai faktor pembatas.
Pada tahun 1850-an dan 1860-an, dalam kondisi yang tepat, dimungkinkan untuk mengambil foto hanya dengan beberapa detik waktu pencahayaan.
Bahkan, pada dekade-dekade berikutnya, pencahayaan yang singkat menjadi lebih banyak tersedia.
Artinya, teknologi yang dibutuhkan untuk menangkap ekspresi sekilas seperti senyum telah tersedia jauh sebelum ekspresi seperti itu menjadi umum.
Senyum saat foto dikaitkan dengan hal buruk
Profesor yang menulis artikel tentang sejarah senyuman dalam fotografi jepretan, Christina Kotchemidova juga tak setuju dengan argumen teknologi.
Meskipun secara umum mungkin bersifat bawaan, tersenyum di depan kamera bukanlah respons naluriah.
Para ahli mengatakan, alasan yang lebih dalam di balik kurangnya senyum pada foto lawas adalah panduan dari kebiasaan yang sudah ada dalam seni lukis.
Dalam seni lukis, banyak orang menganggap seringai tidak sopan dan tidak pantas untuk potret.
“Senyum dikaitkan dengan kegilaan, kecabulan, kebisingan, kemabukan, segala macam keadaan yang tidak terlalu sopan,” kata penulis buku A Brief History of the Smile, Angus Trumble.
Oleh karena itu, fotografer studio kelas atas akan menciptakan latar yang elegan dan mengarahkan subjek bagaimana harus berperilaku, menghasilkan ekspresi tenang yang sangat familiar dalam foto-foto abad ke-19.
Foto yang mereka buat juga bersifat formal dan sesuai dengan biaya pembuatan potret.
Perubahan norma fotografi
Seiring dengan banyaknya jenis foto dan pose untuk potret, hal itu pada gilirannya memperluas rentang ekspresi yang dapat diterima.
Karenanya, hal yang mungkin paling mengubah ekspresi formal tersebut adalah munculnya fotografi jepretan cepat (snapshot photography).
Seiring waktu, fotografi dan lukisan mulai berinteraksi, dengan mencoba memanfaatkan kelebihan masing-masing.
Pelukis akan mencoba meniru kejelasan dan spontanitas foto, sedangkan fotografer akan mencoba membangkitkan keindahan lukisan.
Trumble menuturkan, hal itu juga berlaku untuk senyuman, karena orang-orang mulai tersenyum dengan cara yang bersemangat dalam potret lukisan selama periode Edwardian, sekitar tahun 1895-1914, setelah perubahan yang sama terjadi dalam fotografi.
Pada Perang Dunia II, perubahan norma fotografi hampir selesai.
Sebuah studi terhadap foto-foto buku tahunan sekolah menengah di AS yang diambil dari rentang tahun 1905 hingga 2005 menceritakan kisah serupa tentang perubahan ekspresi standar.
Para peneliti merata-ratakan gambar pria dan wanita berdasarkan dekade. Mereka menemukan, rata-rata lengkungan bibir meningkat seiring waktu.
Studi itu juga mengungkap bahwa wanita memimpin tren senyum lebar, rata-rata lebih banyak tersenyum daripada pria pada dekade tertentu.
