Membangun pendidikan hakiki dengan kolaborasi

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

PENDIDIKAN seringkali dipersepsikan sebagai arena kompetisi: memperebutkan ranking, nilai tertinggi, dan pengakuan sebagai yang terbaik. Sistem ini, meski dianggap memacu prestasi, ternyata menyimpan banyak kelemahan.

Bacaan Lainnya

Ia tidak hanya berpotensi memicu kelelahan mental (burnout) dan kecemasan berlebihan, tetapi juga, dalam perspektif yang lebih dalam, dapat menumbuhkan bibit-bibit kesombongan (takabbur), sifat yang secara tegas dibenci Allah SWT.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mentransformasi paradigma pendidikan menuju pembangunan yang lebih hakiki, dengan mengedepankan kolaborasi dan sinergi, selaras dengan ajaran Al-Qur’an dalam Surah Hud ayat 115-119 yang mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan, kebaikan, dan bahaya perpecahan.

Data Kompetisi dan Konsekuensinya

Fakta di lapangan menunjukkan betapa kompetisi telah mengakar. Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis OECD menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam literasi, matematika, dan sains.

Respons umum terhadap data ini seringkali berupa dorongan untuk berkompetisi lebih keras lagi dengan negara lain, tanpa menyentuh akar masalah.

Di tingkat mikro, survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI dan sejumlah lembaga seperti I-NAMHS (Indonesian National Adolescent Mental Health Survey) menunjukkan peningkatan gejala kecemasan dan depresi pada pelajar, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan akademik dan ketakutan akan ketertinggalan.

Lebih jauh, budaya kompetisi ekstrem menciptakan manusia-manusia individualis yang hanya memandang kesuksesan sebagai pencapaian personal.

Mereka yang berhasil bisa terjebak dalam rasa ‘ujub (bangga diri) dan akhirnya takabbur, merasa pencapaiannya semata-mata karena kecerdasan dan kerja kerasnya sendiri, melupakan peran Allah, guru, orang tua, dan lingkungan.

Sementara mereka yang “kalah” bisa tenggelam dalam rasa inferior dan putus asa. Padahal, Allah SWT berfirman: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Hud: 115). Ayat ini mengisyaratkan bahwa esensi dari usaha adalah ‘berbuat kebaikan’ (al-muhsinin), bukan sekadar mengalahkan orang lain.

Kolaborasi: Fondasi Ilmu dan Peradaban

Tidak ada peradaban besar yang dibangun oleh seorang jenius sendirian. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah buah dari kolaborasi lintas generasi, geografi, dan disiplin ilmu. Isaac Newton berkata, “Jika saya melihat lebih jauh, itu karena saya berdiri di pundak raksasa.” Pernyataan ini adalah pengakuan hakiki akan kolaborasi intelektual.

Dalam konteks pendidikan, metode pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) seperti project-based learning (PjBL) telah terbukti secara empiris meningkatkan kemampuan pemecahan masalah kompleks (problem-solving), kreativitas, dan keterampilan sosial.

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal “Review of Educational Research” menyimpulkan bahwa siswa yang belajar secara kolaboratif menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi, retensi informasi yang lebih baik, dan motivasi intrinsik yang lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang belajar secara kompetitif atau individualistik.

Ini sejalan dengan semangat Al-Qur’an yang menekankan ‘ta’awun’ (tolong-menolong).“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Pendidikan hakiki harus menjadi wadah latihan ‘ta’awun’ ini. Melalui kerja kelompok yang tulus, diskusi yang menghargai perbedaan pendapat, dan proyek sosial yang memecahkan masalah nyata di komunitas, siswa belajar bahwa kekuatan terbesar justru terletak pada kemampuan untuk menyinergikan kelebihan dan menutupi kekurangan masing-masing.

Kesombongan vs Kerendahan Hati

Surah Hud ayat 116-119 memberikan refleksi mendalam tentang nasib umat-umat terdahulu. Kehancuran mereka ditenggarai oleh absennya “orang-orang yang mempunyai keutamaan” yang mencegah kerusakan, sementara mayoritas sibuk dengan “kenikmatan dan kemewahan” (ayat 116).

Dalam konteks pendidikan, “kenikmatan dan kemewahan” bisa dimaknai sebagai kepuasan semu atas prestasi individu, piala, dan pujian yang membutakan.

Pendidikan yang kompetitif ekstrem, tanpa penanaman karakter yang kuat, berisiko menghasilkan elit-elit intelektual yang justru “berdosa” karena abai terhadap kerusakan di sekitarnya, sibuk membanggakan diri sendiri.

Ayat 117 menegaskan: “Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” Negeri dengan pendidikan yang baik adalah negeri yang penduduknya menjadi pelaku kebaikan (muhsinin), bukan sekadar kompetitor yang haus pujian. Pendidikan hakiki harus mampu mencetak insan yang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan, mencegah kerusakan (munkar), dan membangun peradaban.

Ayat 118-119 kemudian menjelaskan akar perbedaan dan perselisihan, serta bahwa rahmat Allah-lah yang menyelamatkan. Ini adalah pesan penting: dalam keragaman potensi dan kecerdasan siswa (multiple intelligences), pendekatan kolaboratif yang inklusif jauh lebih mencerminkan rahmat Allah daripada sistem ranking yang memukul rata dan memicu perselisihan.

Tujuan penciptaan manusia, sebagaimana tersirat dalam ayat ini, adalah untuk hidup dalam tuntunan rahmat-Nya, bukan dalam perlombaan yang penuh dengki.

Membangun Ekosistem Pendidikan Kolaboratif

Transformasi menuju pendidikan kolaboratif membutuhkan perubahan sistemik: Pertama Kurikulum dan Assesmen: Pergeseran dari ujian standar berbasis hafalan ke penilaian autentik (authentic assessment) yang menilai proses, portofolio, dan hasil proyek kolaboratif. Penilaian tidak lagi membandingkan siswa satu dengan lain (norm-referenced), tetapi mengukur pencapaian terhadap kompetensi dan kontribusi pada kelompok (criterion-referenced).

Kedua Peran Guru: Guru berubah dari instruktur menjadi fasilitator dan desainer pembelajaran yang menciptakan skenario kerja sama. Pelatihan guru perlu ditingkatkan untuk menguasai teknik memimpin diskusi, mengelola konflik dalam kelompok, dan mengidentifikasi kontribusi unik setiap anak.

Ketiga Budaya Sekolah. Sekolah perlu menciptakan iklim yang menghargai proses, ketekunan (sebagaimana pesan “bersabarlah” dalam QS. Hud: 115), dan kebersamaan. Program mentoring sebaya (peer tutoring), proyek sains sosial bersama, dan kegiatan gotong royong harus menjadi tulang punggung kegiatan sekolah.

Keempat Pemahaman Orang Tua. Sosialisasi kepada orang tua bahwa kesuksesan anak tidak semata dilihat dari ranking, tetapi dari kemampuannya bekerjasama, berempati, memimpin, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Menuju Kejayaan yang Diridhai

Pendidikan bukanlah lomba sprint 100 meter, tetapi perjalanan marathon membangun peradaban. Kompetisi yang sehat tetap diperlukan untuk memacu diri, tetapi ia tidak boleh menjadi jiwa dari sistem pendidikan. Jiwa itu haruslah kolaborasi—semangat ‘ta’awun’—yang melahirkan kerendahan hati, empati, dan tanggung jawab sosial.

Dengan mengedepankan kolaborasi, kita bukan hanya membangun manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga secara spiritual dan sosial. Kita melahirkan “orang-orang yang berbuat kebaikan” yang akan menjaga negeri dari kerusakan (QS. Hud: 117). Kita menjauhi kesombongan yang dibenci Allah, dan sebaliknya, menanamkan kerendahan hati bahwa ilmu apa pun yang kita capai adalah hasil dari jaringan pengetahuan yang dianugerahkan Allah melalui orang lain.

Pada akhirnya, pendidikan hakiki adalah yang mampu membawa manusia pada pengakuan yang tulus:“Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.”(QS. Hud: 119). Mari jadikan pendidikan sebagai jalan meraih rahmat-Nya, melalui ikhtiar cerdas dan ikhlas untuk bersinergi, bukan saling menjatuhkan. Hanya dengan cara inilah pembangunan pendidikan akan kokoh, bermakna, dan diridhai oleh Allah SWT.

Pos terkait