Ringkasan Berita:
- Pemerintah Kabupaten Kediri melalui organisasi Karang Taruna bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) terus berupaya menciptakan petani muda yang kompeten dan menguasai teknologi.
- Inisiatif ini diwujudkan melalui acara Urban Farming Kalcer Fest yang berlangsung di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Dusun Sugihwaras Desa Klanderan Kecamatan Plosoklaten, pada hari Kamis dan Jumat (11-12/12/2025).
- Tindakan ini diambil sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi oleh rendahnya jumlah petani muda di Kabupaten Kediri.
https://mediahariini.com, KEDIRI– Pemerintah Kabupaten Kediri melalui organisasi Karang Taruna bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) terus berupaya menciptakan petani muda yang kompeten dan memahami teknologi.
Inisiatif ini diwujudkan dalam acara Urban Farming Kalcer Fest yang berlangsung di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Dusun Sugihwaras Desa Klanderan Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, pada hari Kamis dan Jumat (11-12/12/2025).
Tindakan ini diambil sebagai respons terhadap tantangan yang menghadapi tingkat regenerasi petani yang rendah di Kabupaten Kediri.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, dari 226.104 petani yang terdapat di Kabupaten Kediri, hanya 0,80 persen memiliki usia antara 15 hingga 24 tahun.
Kelompok usia 25-34 tahun tercatat sebesar 7 persen, usia 35-44 mencapai 19 persen, usia 45-54 berada pada angka 27 persen, sedangkan petani dengan usia di atas 55 tahun mendominasi dengan 38 persen.
Situasi ini memaksa Pemkab Kediri untuk mengambil tindakan yang tepat agar sektor pertanian tetap dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pertanian perkotaan Kalcer Fest disiapkan sebagai tempat pembelajaran dan penguatan minat kalangan muda dalam mengambil peran di bidang pertanian.
Kegiatan pada hari pertama dihadiri oleh 160 peserta yang berasal dari berbagai kecamatan di Plosoklaten. Peserta menerima pembekalan mulai dari cara mengolah tanah, pemanfaatan lahan rumah, hingga budidaya tanaman yang hasilnya tinggi tetapi mudah dalam perawatannya.
Mereka juga mendapatkan hasil pertanian yang berkelanjutan dari lahan BPP.
Beberapa jenis tanaman yang dapat menjadi contoh dalam bercocok tanam dengan hasil yang optimal, seperti sawi, pakchoi, bayam, terong, kacang panjang, mentimun, dan jagung, ditampilkan dalam acara Urban Farming Kalcer Fest ini.
Ketua Karang Taruna Kabupaten Kediri, Danang Saputro mengungkapkan bahwa konsep kegiatan ini sengaja dirancang dekat dengan lingkungan pemuda.
“Benar kita mengajak untuk bertani dengan memanfaatkan lahan yang ada. Sementara istilah Kalcer adalah istilah dari Gen Z saat ini, bisa diartikan sebagai gaya hidup atau budaya,” ujar Danang saat diwawancarai di lokasi, Jumat (12/12/2025).
“Tujuan dari acara ini adalah menggugah minat generasi muda bahwa dunia pertanian merupakan hal yang menarik,” katanya.
Laki-laki yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Kediri menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan agar generasi muda dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.
Terutama Plosoklaten adalah salah satu pusat produksi cabai di Kediri.
“Kami berharap teman-teman dapat memenuhi kebutuhan dasar setiap keluarga agar menekan inflasi pangan,” katanya.
Banyak tanaman yang ditanam di area praktik, mulai dari bayam, kangkung, cabai, terong, timun hingga jenis jagung manis dan jagung ketan yang memiliki harga jual yang tinggi.
Meski demikian, Danang mengakui masih terdapat tugas yang perlu dikerjakan terkait pemasaran produk dari hasil budidaya.
Melalui kegiatan seperti Urban Farming Kalcer Fest, Pemerintah Kabupaten Kediri berharap semakin banyak pemuda yang memandang pertanian sebagai kesempatan masa depan, bukan hanya pekerjaan konvensional.
Reformasi para petani menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pangan wilayah serta langkah untuk mengatasi tantangan krisis petani muda.
“Masalah pemasaran ini yang harus kita selesaikan bersama,” katanya.
Di sisi lain, seorang petani muda dari Desa Brenggolo, Galur Dwi Mahandani yang ikut dalam kegiatan tersebut menganggap kegiatan Urban Farming Kalcer sangat penting bagi proses regenerasi petani.
“Menurut saya hal ini sangat baik. Terlebih lagi promotor kami, Ketua Karang Taruna, sudah sangat paham tentang pertanian dan antusias terhadap pemuda,” katanya.
Galur mengatakan bahwa di desanya, minat pemuda dalam berkebun mulai meningkat. Ia menceritakan bahwa antusiasme berkebun di kalangan pemuda mulai berkembang sejak wabah pandemi. Banyak pemuda beralih ke bidang pertanian setelah terdampak secara ekonomi.
“Kami awalnya usaha kecil menengah, lalu pendapatan menurun. Ada juga yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Ternyata jika mengelola lahan secara perlahan, hasilnya bagus. Bahkan cukup untuk kehidupan selama setahun,” katanya.
“Di Bergolo terkenal dengan cabainya. Saat ini, 60 persen petani cabai adalah orang tua dan 40 persen adalah pemuda. Dengan kegiatan seperti ini, saya berharap pemuda semakin banyak terlibat,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, Galur dan teman-temannya mulai memperluas area pertanian mereka. Hasil pertanian yang baik membuat mereka percaya bahwa berkebun memiliki peluang yang sama menjanjikan dibandingkan bekerja di pabrik atau kantor.
“Semakin lama berjalan, ternyata tidak kalah dibandingkan bekerja di kantor atau pabrik,” ujar Galur.
(Isya Anshori/https://mediahariini.com)
Editor : Sri Wahyunik
