BELAKANGAN ini, ada satu konten di media sosial yang membuat saya tercengang. Seorang kreator konten mengklaim bahwa golongan darah B tidak diterima bekerja di Jepang. Klaim ini memang mengejutkan, namun sayangnya tidak sepenuhnya mengada-ada. Di balik kemajuan teknologi dan modernisasi Jepang, terdapat fenomena unik yang masih bertahan hingga kini: kepercayaan bahwa golongan darah menentukan kepribadian seseorang, yang kemudian berujung pada praktik diskriminasi, khususnya terhadap pemilik golongan darah B.
Akar Sejarah: Dari Pseudosains hingga Fenomena Budaya
Kepercayaan ini berawal dari tahun 1927, ketika Takeji Furukawa, seorang psikolog dari Tokyo Women’s Teacher’s School, menerbitkan penelitian berjudul “The Study of Temperament Through Blood Type” di jurnal Psychological Research. Yang menarik, penelitian Furukawa ini sangat cacat secara metodologi. Ia hanya mengamati 11 anggota keluarganya sendiri dan menggunakan sampel yang sangat kecil hanya 10-20 orang, yang jauh dari standar statistik untuk bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih luas.
Motivasi di balik penelitian ini pun kelam. Furukawa terinspirasi dari peristiwa pemberontakan Taiwan terhadap pendudukan Jepang pada tahun 1930-1931 yang mengakibatkan ratusan warga Jepang tewas. Ia menemukan bahwa 41,2% sampel orang Taiwan memiliki golongan darah O, dan ia mengaitkan pemberontakan tersebut dengan sifat genetik mereka. Bahkan, Furukawa menyarankan peningkatan pernikahan campur antara Jepang dan Taiwan untuk mengurangi jumlah orang Taiwan bergolongan darah O.
Meskipun penelitian Furukawa ditolak oleh Japanese Society of Medicine pada tahun 1933 karena tidak memiliki basis ilmiah, gagasannya tetap populer di kalangan masyarakat. Pemerintah militer Jepang pada masa itu bahkan menugaskan penelitian untuk mengembangkan tentara ideal berdasarkan golongan darah.
Setelah sempat meredup pasca-Perang Dunia II, teori ini kembali bangkit pada tahun 1970-an berkat jurnalis Masahiko Nomi yang menerbitkan serangkaian buku tentang kepribadian berdasarkan golongan darah. Buku-bukunya terjual jutaan eksemplar meski Nomi tidak memiliki latar belakang medis sama sekali, ia lulusan teknik dari Universitas Tokyo. Setelah kematiannya pada 1981, anaknya Toshitaka Nomi melanjutkan misi tersebut dengan mendirikan Institute of Blood Type Humanics dan Human Science ABO Center.
Stereotip yang Merugikan Golongan Darah B
Dalam teori ketsueki-gata (kepribadian berdasarkan golongan darah), setiap golongan darah memiliki karakteristik tertentu. Golongan darah A (sekitar 40% populasi Jepang) dipandang sebagai sosok yang terorganisir, bertanggung jawab, dan pekerja keras, kriteria ideal bagi perusahaan Jepang. Golongan darah O (30% populasi) dianggap percaya diri dan optimis. Golongan darah AB (10% populasi) dipandang rasional namun misterius.
Sementara itu, golongan darah B (sekitar 20% populasi Jepang) mendapat label negatif: individualistis, egois, ceroboh, sulit diatur, tidak kooperatif, dan eksentrik (berfikir diluar pemikiran orang normal). Mereka dianggap kreatif dan penuh semangat, namun cepat bosan, suka kebebasan, dan tidak suka mengikuti sistem yang ada. Stereotip inilah yang kemudian memicu diskriminasi sistematis.
Realitas Diskriminasi: Fenomena “Bura-hara”
Di Jepang, diskriminasi berdasarkan golongan darah dikenal dengan istilah “bura-hara” (blood harassment). Fenomena ini bukan sekadar lelucon atau percakapan ringan, melainkan telah berdampak nyata pada kehidupan sosial dan profesional masyarakat Jepang.
Dalam dunia kerja, banyak perusahaan yang menanyakan golongan darah saat wawancara kerja meskipun pemerintah Jepang telah mengeluarkan peringatan. Bahkan, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang memasukkan larangan menanyakan golongan darah dalam “Guideline to a Fair Employment Selection Self-Inspection” karena banyak pelamar kerja bergolongan darah B dan AB yang didiskriminasi.
Beberapa perusahaan dilaporkan membentuk tim kerja berdasarkan golongan darah, merancang pelatihan khusus untuk karyawan berdasarkan golongan darah mereka, bahkan ada tim olahraga nasional yang menyesuaikan program latihan atlet berdasarkan golongan darah. Di lingkungan pendidikan, terdapat laporan sekolah yang mengelompokkan siswa berdasarkan golongan darah atau menyesuaikan metode pengajaran.
Diskriminasi ini juga merambah ke kehidupan sosial. Pemilik golongan darah B kerap menjadi korban bullying sejak masa sekolah. Bahkan dalam hubungan percintaan, golongan darah sering menjadi pertimbangan kompatibilitas. Tak sedikit pemilik golongan darah B yang menjadi “closet Bs” mereka berbohong tentang golongan darahnya untuk menghindari stereotip negatif.
Kasus paling ironis terjadi pada 2011 ketika Menteri Rekonstruksi Jepang, Ryu Matsumoto, mengundurkan diri setelah membuat komentar tidak pantas tentang korban gempa bumi dan tsunami Tohoku. Dalam konferensi pers pengunduran dirinya, ia malah menyalahkan golongan darahnya: “Golongan darah saya B yang artinya saya bisa mudah marah dan bertindak tanpa pikir panjang.”
Sains Membantah: Tidak Ada Hubungan Signifikan
Komunitas ilmiah secara luas menolak teori kepribadian berdasarkan golongan darah sebagai pseudosains. Kengo Nawata, seorang psikolog sosial, melakukan studi besar-besaran terhadap lebih dari 10.000 orang dari Jepang dan Amerika Serikat pada tahun 2014. Hasilnya? Golongan darah hanya menjelaskan kurang dari 0,3% dari total variasi kepribadian angka yang sangat kecil dan bisa saja hanya kesalahan statistik.
Studi besar lainnya di Kanada, Taiwan, dan Australia juga menolak adanya korelasi antara golongan darah dan kepribadian. Bahkan G.N. Thompson Jr pada 1936 sudah mengkritik penelitian Furukawa sebagai cacat secara ilmiah dan metodologis.
Beberapa penelitian memang menemukan korelasi signifikan secara statistik, namun efeknya sangat kecil dan kemungkinan besar merupakan hasil dari self-fulfilling prophecy orang Jepang yang meyakini stereotip golongan darah akhirnya bertingkah sesuai ekspektasi tersebut karena tekanan sosial.
Upaya Pemerintah Melawan Diskriminasi
Menyadari dampak negatif kepercayaan ini, pemerintah Jepang telah mengambil beberapa langkah. Selama dua dekade terakhir, rumah sakit dilarang melakukan tes golongan darah pada bayi yang baru lahir. Orang tua diperbolehkan tidak mengisi kolom golongan darah anak saat pendaftaran Taman Kanak-Kanak. Tes golongan darah kini hanya dilakukan saat akan melakukan transfusi darah.
Namun, upaya ini belum sepenuhnya berhasil menghapus kepercayaan yang sudah mengakar selama hampir satu abad. Survei tahun 2016 menunjukkan bahwa sekitar 99% populasi Jepang mengetahui golongan darah mereka. Meskipun hanya 29% pria dan 45% wanita yang mempercayai teori ini, pengaruhnya tetap luas dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi: Homogenitas dan Kebutuhan akan Pembeda
Profesor Shigeyuki Yamaoka, psikolog sosial yang melakukan penelitian ekstensif membantah mitos ini, mengatakan: “Tidak ada basis ilmiah untuk menilai karakter berdasarkan golongan darah. Tapi bahkan di negara seperti Jepang di mana sekitar 98% populasinya adalah etnis yang sama, orang masih menemukan cara untuk mendiskriminasi dan mengelompokkan orang ke dalam cetakan yang nyaman.”
Inilah ironinya. Di tengah homogenitas Jepang yang tinggi, teori golongan darah menjadi alat untuk menciptakan perbedaan buatan di antara masyarakat yang sangat mirip secara etnis dan budaya. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa diskriminasi tidak selalu berdasar pada perbedaan yang kasat mata seperti ras atau agama, tapi bisa juga pada hal-hal biologis yang sepenuhnya di luar kendali individu.
Klaim bahwa golongan darah B “tidak diterima kerja” di Jepang mungkin berlebihan, namun diskriminasi nyata terhadap mereka memang terjadi. Ini adalah pengingat penting bahwa bahkan di negara maju sekalipun, stereotip dan prasangka yang tidak berdasar sains masih bisa bertahan dan merugikan banyak orang. Sudah saatnya masyarakat global, termasuk Jepang, meninggalkan praktik diskriminatif ini dan menilai seseorang berdasarkan kemampuan dan karakter nyata mereka, bukan berdasarkan golongan darah yang bahkan tidak bisa mereka pilih sendiri. [IM]
