Masuk Bandung Zoo hanya bayar tiket masuk seikhlasnya, bantu penuhi kebutuhan satwa

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

, BANDUNG – Tepat pukul 14.00 WIB, pengunjung Bandung Zoo mulai bergerak menuju pintu keluar.

Bacaan Lainnya

Sebagian masih berteduh di bawah pepohonan besar, sebagian lain mempercepat langkah karena jam kunjungan dibatasi hingga siang hari.

Setelah hampir empat bulan tutup sementara, kebun binatang di jantung Kota Bandung itu kembali ramai dari biasanya.

Wisatawan yang hendak berkunjung ke Bandung Zoo dibatasi hingga pukul 13.00 WIB.

Momentum libur Natal 2025 dimanfaatkan warga untuk berkunjung. Informasi pembukaan Bandung Zoo menyebar cepat lewat media sosial.

“Dapat infonya dari Instagram sama media sosial lainnya,” ujar Niko, salah satu pengunjung saat ditemui di Bandung Zoo, Sabtu (27/12/2025).

Warga Cicaheum, Bandung ini yang datang bersama keluarga sejak pukul 10.30 WIB.

Tak ada tiket masuk.

Pengunjung hanya diminta berdonasi seikhlasnya. 

Bahkan, sebagian membawa makanan untuk satwa.

Skema ini baru berjalan tiga hari, namun langsung memantik antusiasme.

Bagi pria berusia 34 tahun ini, Bandung Zoo telah lama melekat dalam ingatannya, terutama saat musim liburan tiba.

“Terakhir ke sini tahun lalu,” kata dia.

Sebelumnya, Bandung Zoo sempat terseret persoalan sengketa lahan pada awal Februari 2025 yang berujung penutupan sementara sejak Agustus 2025.

Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa kawasan kebun binatang belum dapat dibuka untuk kunjungan umum.

Penegasan itu merujuk pada surat Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bandung Nomor 162-BKAD/2025 tentang larangan kunjungan ke Kebun Binatang Bandung.

Meski baru dibuka beberapa hari, animo kunjungan tak ditampik oleh pengelola.

Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, menyebut jumlah kunjungan bisa mencapai sekitar 500 orang per hari.

“Ini salah satu tempat rekreasi yang nyaman di tengah kota. Luas, pohonnya banyak,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bandung pun menegaskan kawasan ini tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

“Bentuknya ruang terbuka hijau, ya kebun binatang,” kata Sulhan.

 Pihaknya mengaku sejalan dengan kebijakan Pemkot. Meski demikian, pembukaan ini masih bersifat sementara.

Evaluasi dilakukan setiap hari dan hasilnya akan diumumkan melalui media sosial pengelola.

“Kalau tidak memungkinkan, bisa saja besok ditutup lagi,” ujarnya. (*)

Donasi Publik Topang Perawatan 711 Satwa

Sejumlah pengunjung, termasuk anak-anak, tampak antusias berinteraksi dengan seekor unta punuk satu di Bandung Zoo, saat satwa berleher panjang itu menjulurkan kepala mendekati pagar kandang.

Dengan tangan kecil yang terulur membawa daun, mereka menyaksikan unta memakan pakan yang diberikan.

Unta punuk satu atau dromedary (Camelus dromedarius), satwa gurun yang dikenal mampu bertahan di lingkungan ekstrem.

Unta ini hidup di wilayah gurun pasir dengan makanan utama berupa rumput kering dan tanaman gurun, serta memiliki punuk yang berfungsi menyimpan lemak sebagai cadangan energi dan air ketika kondisi sulit.

Bandung Zoo kembali dibuka untuk publik setelah sempat ditutup sementara, menghadirkan suasana berbeda di kebun binatang yang berada di jantung Kota Bandung itu.

Sejak pagi, keluarga dan anak-anak mulai memadati jalur pejalan kaki, berhenti di depan kandang satwa, dan mengabadikan momen yang sempat tertunda selama beberapa bulan.

Bagi Niko, salah seorang pengunjung yang mengaku terakhir kali datang setahun lalu, melihat perubahan pada kondisi satwa.

“Kelihatannya lebih kurus dibanding sebelumnya. Dulu tuh hewan-hewannya kelihatan lebih segar,” katanya.

Ia menyebut kebersihan kawasan justru terasa lebih baik. Namun, kondisi fisik satwa memunculkan keprihatinan tersendiri.

Sementara itu, Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, mengatakan, dalam satu bulan, Bandung Zoo menggelontorkan dana hingga Rp415 juta per bulan, atau setara Rp15 juta per hari untuk 711 satwa untuk pakan.

Selama masa pembukaan berbasis donasi, masyarakat ikut menopang kebutuhan tersebut. Dalam tiga hari, donasi yang terkumpul disebut sudah lebih dari Rp20 juta.

“Donasi ini khusus untuk pakan, bukan untuk gaji,” ujar Sulhan, Sabtu (27/12/2025).

Selain donasi masyarakat, bantuan juga datang dari Kementerian Kehutanan, yang mulai menanggung kebutuhan pakan satwa.

Meski begitu, pengelola tetap berupaya mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

“Kita punya kolam buat mancing, kebun pisang, kebun rumput. Semua ada di dalam,” katanya.

Soal kondisi kesehatan, Sulhan memastikan seluruh satwa dalam pengawasan dua tim dokter hewan.

“Tidak ada yang mati. Yang sakit sembuh lagi,” ujarnya.

 Ia mencontohkan burung yang sempat terluka akibat perkelahian saat musim kawin, namun kini telah pulih.

Meski secara fisik beberapa satwa belum kembali gemuk, pengelola memastikan kondisi kesehatan tetap terjaga.

Pos terkait