Sewaktu menggawangi komunitas, saya pernah menyambangi Pondok Lansia di daerah Tiga Raksa Tangerang. Pondok Lansia lokasinya di tengah kampung warga, tempat para manula berkumpul. Mereka datang dari berbagai latar belakang, dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Indramayu, Bogor, bahkan dari Padang Sumatera Barat.
Mengunjungi para lansia di panti, membukakan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Menguak aneka cerita, alasan dibalik kedatangan setiap lansia. Dan yang pasti, luar biasa sabarnya para pengurus panti.
Mereka mengurusi puluhan lansia, sebagian besar fisiknya tidak berdaya. Ada lansia hanya bisa berbaring di ranjang, saat yang lain duduk di teras. Ada yang sudah pikun, kalau diajak ngobrol tidak nyambung.
Ada nenak berjalan dengan ngesot, ada yang musti digendong. Hal yang sama terjadi di kamar para kakek, dibuat terpisah dengan pintu masuk berbeda.
Ada kakek yang seneng ngobrol, tanpa koma menceritakan masa mudanya. Ada yang tak banyak bicara, tetapi kelihatan keras kepalanya. Khusus pada kakek keras kepala ini, ada cerita menarik dari pengurus.
Konon si kakek, adalah lelaki sukses semasa mudanya. Harta dan jabatan dipunyai, tanpa disadari menjadi ujian berat itu. Sehingga di masa tuanya, oleh anaknya dititipkan di panti lansia.
Kali pertama kedatangan, pengurus tidak langsung menerima. Memohon si anak berpikir ulang, sebelum meninggalkan ayahnya di panti.
“Berapapun saya bayar, asal tidak satu rumah dengan dia,”jawab si anak sengit.
Ayah yang sekarang masih muda, sehat, perkasa badannya. Mari berlaku sebagaimana semsetinya ayah, sayangi dan cintai keluarga sepenuh hati. Demikian semesta menghendaki, ayah menjadi pelindung keluarga.
Karena masa senja ayah, perlahan tapi pasti akan tiba.
—- —- —
Dalam sebuah majelis, saya menyimak tausiyah seorang ustad. Bahwa perilaku atau tindakan kita hari ini, bisa dibaratkan sebuah investasi. Layaknya sebuah investasi, maka hasilnya akan dirasakan pelaku di kemudian hari.
Dalam tugas dan peran ayah sebagai kepala keluarga. Apa yang diupayakan ayah hari ini, untuk istri dan anak-anak-nya, tak ubahnya sebuah investasi.
Perhatian dan sayang ayah pada istri, akan direkam di benak anak-anak. Kerja keras dan setiap pengorbanan ayah, dilihat dan dicatat di kalbu istri dan anak-anak. Hal itu yang kelak, menjadi timbal balik bagi ayah di hari mendatang.
Persis seperti hukum tabur dan tuai, bahwa setiap hasil berbanding lurus dengan yang ditaburkan. Karena setiap kejadian di bawah langit, bakalan selaras dengan algoritma semesta. Bahwa setiap kejadian tidak begitu saja datang, melainkan ada sebab akibat yang menyertai.
Masa Senja Ayah Perlahan tapi Pasti Akan Tiba
“Semasa mudanya, kakek ini sukses Pak”ujar pengurus,” punya jabatan di kantor dan sering ke luar negeri”
Mendengar kalimat demikian, saya dibuat miris sekaligus tak percaya. Kakek berperawakan kurus, cenderung tidak berbaur dengan penghuni lain. Namun saya penasaran, kalau sukses mengapa di masa tua ada di panti.
Khusus kakek satu ini, konon hubungan dengan anak istri kurang baik. Semasa berjaya kerap keras dengan istri, berlaku kasar pada anak-anak. Setelah anak- anak besar dan mandiri, sang istri meninggal lebih dulu.
Anak- anak dengan kenangan kekerasan, terlanjur antipati pada si ayah. Selain tidak bisa dekat, sangat sering beda pendapat. Dan itulah alasan, si kakek sampai dititipkan di Panti.
“Susah diatur, Pak. Kalau BAB tidak mau di WC, tetap di kasur,” imbuh pengurus
Soal BAB saya melihat sendiri, ketika menengok ranjang si kakek. Ada kotoran tercecer di lantai, di dekat ranjangnya. Pengurus buru- buru mengambil sarung tangan plastik, membuang kotoran agar baunya tidak ke mana-mana.
Terpujilah pengurus panti lansia, rela mengurus para manula tak berdaya.
—- —-
Sepulang dari panti, saya dibuat introspeksi diri habis- habisan. Mengoreksi sikap dan perilaku kepada istri dan anak-anak, berniat kuat mengubahnya.
Terlebih pada mbarep yang sudah dewasa, cepat atau lambat akan memegang tongkat estafet kehidupan. Sesegera mungkin saya memperbaiki diri, agar anak anak tak segan kepada saya ayahnya.
Karena waktu di dunia ini hanya sebentar, setiap masa berjalan dengan lekasnya. Saya yang sudah setengah abad, secara fisik tidak sebugar dulu lagi. Mumpung masih ada kesempatan, saya ingin menanam kenangan baik pada anak istri.
Saya tidak ingin, di masa masa tua dengan kondisi fisik menurun. Justru dijauhi anak-anak, dimusuhi akibat kelakuan semasa muda. Semesta bekerja sesuai sunatullah, berlaku dengan sangat adilnya. Bahkan sehelai daun yang jatuh, semua atas kehendak-NYA.
Manusia sebagai khalifah di muka bumi, semestinya menjadi kaum yang berpikir. Bahwa setiap perbuatan, niscaya akan mendapatkan balasan. Sikap terbaik ayah menjadi kado terbaik untuk keluarga, impact-nya dirasakan ayah di masa senja.
Yes, masa senja ayah perlahan tapi pasti akan tiba. Semoga bermanfaat.
