Isi Artikel
Pertemuan Penting PBNU di Ponpes Lirboyo
Pertemuan antara petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, berlangsung dengan suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan. Dalam pertemuan tersebut, Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sepakat untuk mengakhiri konflik yang sebelumnya terjadi. Mereka memutuskan bahwa Muktamar akan menjadi jalan keluar bersama dalam menyelesaikan masalah yang ada.
Suasana Pertemuan yang Damai
Ma’ruf Amin, mantan Wakil Presiden RI, menyebut bahwa pertemuan ini berakhir dengan hasil yang baik. Ia menegaskan bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk tidak lagi melanjutkan konflik. Menurutnya, Rais Aam dan Gus Yahya akan bekerja sama dalam mempersiapkan pelaksanaan Muktamar. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya sudah saling berbaik hati dan siap menjalankan tugas masing-masing secara bersama-sama.
“Pertemuan ini berakhir bagus. Ujungnya itu kan ada kesepakatan segera diadakan Muktamar yang tidak satu pihak, tapi bersama. Jadi finalnya adalah Muktamar,” ujar Ma’ruf Amin.
Peran Mustasyar dan Syuriah
Mustasyar dan Syuriah PBNU juga turut serta dalam proses penyelesaian konflik. Mereka memfasilitasi agar semua pihak bisa berjalan menuju tujuan yang sama, yaitu menyelenggarakan Muktamar sebagai solusi utama. Dengan adanya kesepakatan ini, Ma’ruf Amin menegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi konflik antara Rais Aam dan Gus Yahya.
“Mustasyar, kiai sepuh hanya memfasilitasi ke arah yang sama, menghilangkan konflik dengan menyelenggarakan muktamar. (Kini) sudah tidak ada konflik,” tambahnya.
Proses Persiapan Muktamar
Hasil pertemuan ini juga sejalan dengan kesepakatan dalam rapat sebelumnya, yang dihadiri oleh jajaran pengurus wilayah dan cabang NU. Dalam rapat tersebut, fokus utamanya adalah bagaimana menyelesaikan konflik dengan cara yang tepat, yaitu melalui Muktamar.
Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa konflik memang biasa terjadi, tetapi yang penting adalah bagaimana para tokoh dapat bermusyawarah dan mencari solusi terbaik. “Saya kira, biasa awalnya kan perdebatan-perdebatan, ujungnya harus selesai dan itulah yang diharapkan oleh kita, kembali ke arah yang sama,” katanya.
Dinamika Internal PBNU
Pertemuan antara Rais Aam dan Gus Yahya ini digelar setelah sebelumnya muncul dinamika dan ketegangan internal PBNU. Isu pengelolaan tambang menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan, termasuk para kiai sepuh, Mustasyar, Syuriah, hingga warga nahdliyin.
Adapun beberapa tokoh nasional dan ulama senior juga hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk Ma’ruf Amin. Kehadiran mereka menunjukkan pentingnya forum Rapat Konsultasi antara Syuriyah PBNU dan Mustasyar PBNU yang digelar di salah satu pesantren terbesar di Indonesia.
Tujuan Rapat Konsultasi
Rapat konsultasi ini merupakan kelanjutan dari proses dinamika internal PBNU pasca pelaksanaan Rapat Pleno sebelumnya. Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, K.H. Abdul Mu’id Shohib atau Gus Mu’id, membenarkan adanya pertemuan tersebut.
“Benar, pertemuan sedang berlangsung (Kamis siang),” ujar Gus Mu’id saat ditemui di lokasi acara. Ia menjelaskan bahwa agenda ini diinisiasi langsung oleh Rais Aam PBNU melalui pengiriman surat undangan kepada para Mustasyar PBNU.
Dalam undangan tersebut dijelaskan bahwa rapat konsultasi bertujuan memaparkan secara menyeluruh latar belakang, tahapan, serta mekanisme pengambilan keputusan yang telah dilakukan dalam Rapat Pleno PBNU. Selain itu, hasil dan substansi keputusan Rapat Pleno juga disampaikan kepada para Mustasyar dan kiai sepuh sebagai bagian dari upaya transparansi serta penguatan musyawarah di lingkungan jam’iyah NU.
Hasil Kesepakatan Bersama
Gus Mu’id menambahkan, pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan menghasilkan sejumlah kesepakatan penting bagi organisasi. “Alhamdulillah, pertemuan ini menghasilkan kesepakatan bersama dari kedua belah pihak,” ujarnya usai agenda selesai.
Ia menegaskan seluruh pihak sepakat mengedepankan persatuan dan menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama. Salah satu hasil utama dari pertemuan tersebut adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dalam waktu sesegera mungkin.
“Muktamar ke-35 NU akan dilaksanakan secepatnya dan pelaksanaannya diserahkan kepada PBNU, yakni Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya,” jelasnya.
