Berada di tim pemenang membuat Marc Marquez secara otomatis mengambil target juara. Episode buruk saat GP Indonesia memberinya pelajaran agar jangan terlena.
Ekspektasi juara sebenarnya sudah didapatkan Marc Marquez sejak kembali menang lomba di MotoGP dan bergabung dengan tim pabrikan Ducati.
Marquez menunjukkan bahwa dia masih jauh dari kehabisan tenaga dengan rangkaian kemenangan yang memastikan gelar juara saat tersisa 5 seri.
“Ketika kita mengenakan seragam merah, kita harus berjuang untuk merebut gelar,” ucapnya dalam acara peluncuran tim Ducati Lenovo di Trentino, Italia, Senin (19/1/2026).
“Ini tidak wajib, tetapi kita harus melakukannya. Kita bersama tim yang telah memenanginya menang dalam beberapa tahun terakhir, semuanya di tangan kita.”
Marquez menghadapi tantangan dalam musim pertamanya sebagai juara bertahan MotoGP sejak enam tahun yang lalu.
Seperti pada 2020 silam, Marquez memasuki musim setelah operasi bahu.
Bahu kanannya mesti dibedah akibat kecelakaan dengan Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) pada balapan GP Indonesia, Oktober lalu.
Marquez harus menunggu hingga awal bulan ini untuk kembali berlatih dengan motor di sirkuit dan bukan motor MotoGP.
“Pemulihannya berjalan baik. Dua pekan lalu, saya mengalami kemunduran yang biasa terjadi saat rehabilitasi ketika kita mendorong diri kita sedikit terlalu keras,” tukas Marquez.
“Tubuh kita kemudian memaksa kita untuk lebih pelan-pelan. Saya masih kekurangan stamina, saya bisa berkendara dengan baik tetapi keesokan harinya saya menderita.”
Kecelakaan di Sirkuit Mandalika memberi pelajaran kepada Marquez bahwa segala sesuatu bisa berubah dalam waktu yang singkat.
Marquez terjatuh hanya berjarak sepekan dari keberhasilannya memastikan gelar juara di balapan GP Jepang. Kata lengah pun dihapus dalam kamusnya.
“Lebih baik untuk memulai dengan momentum bagus, tetapi saya belajar bahwa semuanya bisa berubah dari satu balapan ke balapan berikutnya.”
“Kita melihatnya tahun lalu dari Jepang ke Indonesia,” ucap Marquez, yang masih belum bisa menyelesaikan hari Minggu di Mandalika.
Marquez sebenarnya bisa tenang. Saat siklus kontrak mayoritas pembalap berakhir pada tahun ini, dia juga masih punya daya tawar tinggi karenanya dominasinya tahun lalu.
Semua keputusan harus dipertimbangkan matang-matang karena perubahan regulasi ke mesin 850cc dan pemasok ban kejuaraan yang baru pada 2027.
Satu skenario yang bisa terjadi ialah kembalinya duet kakak-adik Marc dan Alex Marquez dalam satu tim seperti pada 2020 di Repsol Honda.
Alex Marquez membuktikan kualitasnya dengan menjadi pesaing utama kakaknya hingga posisi 1-2 dalam balapan dan kejuaraan pun dikuasai mereka musim lalu.
Kepercayaan sudah ditunjukkan Ducati dengan memberi rider tim satelit mereka di Gresini itu dukungan lebih besar berupa motor terbaru pada musim ini.
Namun, Marquez menepis anggapan bahwa dia akan menggunakan pengaruhnya untuk masa depan adiknya yang juga punya status Juara Dunia itu.
“Tidak, tidak pernah, dan saya mengulangi ini karena semua yang telah dikatakan, bahwa saya telah memberi syarat untuk rekan setim saya,” bantahnya.
“Saya fokus dengan proyek saya sendiri, masa depan saya, apa yang sangat saya butuhkan untuk bahagia.”
“Motivasinya tetap sama, tetapi saya telah mendapatkan hal tersulit dalam karier saya, yaitu kembali menang balapan.”
“Dari saat itu, kita tidak bisa memaksakan syarat-syarat terhadap sebuah proyek. Saat ini, rekan setim saya adalah Pecco (Francesco Bagnaia).”
“Saya sungguh menghormatinya dan saya tidak berniat untuk berspekulasi soal siap rekan setim saya di masa mendatang.”
