— Mantan Wonderkid Persebaya Surabaya buka suara setelah timnya Persijap Jepara menelan kekalahan telak di markas Persebaya Surabaya. Dicky Kurniawan mengakui Persijap Jepara banyak buang peluang sehingga gagal memberi perlawanan berarti pada laga tersebut.
Laga tunda pekan ke-8 Super League 2025/2026 itu digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (28/12/2025). Persijap Jepara harus puas digunduli tuan rumah Persebaya Surabaya dengan skor menyakitkan 4-0.
Persebaya Surabaya tampil lebih efektif sepanjang pertandingan dengan memaksimalkan hampir setiap celah yang tercipta.
Sebaliknya, Persijap justru kesulitan mengubah peluang menjadi gol meski sempat menguasai permainan di sejumlah momen.
Pemain kelahiran Surabaya 23 tahun silam ini tampil sebagai salah satu pemain yang paling disorot. Statusnya sebagai mantan wonderkid Persebaya Surabaya membuat setiap pernyataannya usai laga langsung menyita perhatian.
Gelandang muda itu tidak menutup mata terhadap performa timnya, terutama pada babak pertama. Ia menilai Persijap sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengubah jalannya pertandingan sejak awal.
“Dari saya dan teman-teman, banyak peluang tadi di babak pertama, tidak ada gol, sayang sekali,” katanya. Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan mendalam atas peluang yang terbuang percuma.
Kegagalan mencetak gol di awal laga membuat tekanan justru berbalik ke Persijap Jepara. Persebaya Surabaya memanfaatkan situasi tersebut untuk tampil lebih percaya diri dan disiplin.
Gol demi gol yang tercipta membuat mental pemain Persijap semakin tertekan. Alur permainan pun perlahan sepenuhnya dikuasai Persebaya Surabaya hingga peluit panjang dibunyikan.
Dicky tidak ingin larut dalam hasil buruk tersebut dan memilih bersikap realistis. Ia menilai evaluasi menjadi langkah paling penting agar kesalahan serupa tidak kembali terulang.
“Kami akan evaluasi sama tim pelatih,” tuturnya. Kalimat singkat itu menegaskan komitmen pemain untuk segera bangkit.
Sebagai mantan bagian dari Persebaya Surabaya, Dicky tentu memahami atmosfer Gelora Bung Tomo yang dikenal intimidatif. Bermain di stadion tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemain muda seperti dirinya.
Namun pengalaman tersebut juga menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan kariernya. Ia belajar menghadapi tekanan besar sekaligus tuntutan performa di level tertinggi kompetisi nasional.
Kekalahan ini menjadi pengingat keras bagi Persijap Jepara soal pentingnya efektivitas di depan gawang. Dominasi permainan tanpa gol terbukti tidak cukup untuk mengimbangi lawan yang klinis.
Persebaya Surabaya menunjukkan kedewasaan tim dengan memanfaatkan setiap peluang secara maksimal. Efektivitas itu menjadi pembeda paling mencolok antara kedua kesebelasan.
Bagi Persijap, laga ini menyisakan pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Konsistensi, penyelesaian akhir, dan ketenangan menjadi aspek yang perlu segera dibenahi.
Dicky Kurniawan berharap proses evaluasi berjalan jujur dan menyeluruh. Ia ingin Persijap tampil lebih matang pada laga-laga berikutnya di Super League 2025/2026.
Kekalahan 4-0 memang terasa berat, tetapi kompetisi masih panjang. Persijap Jepara masih memiliki kesempatan memperbaiki posisi dan membuktikan kualitas sebenarnya.
Suara jujur Dicky menjadi cerminan ruang ganti Persijap pascalaga. Dari pengakuan itulah harapan untuk bangkit perlahan kembali tumbuh.
