Limbah 50kg jadi pohon Natal di Semarang

Pohon Natal dari Limbah di Semarang

Di halaman Mitra Graha Step Semarang yang dikelola oleh Gereja Isa Al-Masih Jemaat Pringgading, terdapat sebuah pohon Natal yang menjulang setinggi delapan meter. Tampaknya seperti dekorasi biasa, namun semakin dekat, orang-orang akan terkesan dan memperhatikan lebih jeli.

Pohon Natal ini dibuat dari limbah dengan bentuk bunga. Bagian mahkota dan kelopak bunganya terbuat dari bekas mmt dan tas spunbond (tas kain). Sementara bagian tengah bunga terdapat bola plastik yang berisi serutan atau sobekan kertas.

Bacaan Lainnya

Yosmina Yahya, Koordinator Bank Sampah Mulyo Sedoyo, mengatakan bahwa tujuan dari pohon Natal ini adalah untuk mengajak masyarakat melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda.

“Sampah tidak selalu kotor atau harus dibuang. Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan, termasuk membuat pohon Natal yang bisa dinikmati masyarakat,” ujarnya.

Pohon Natal tersebut memiliki bentuk kerucut dengan diameter sekitar 2,5 meter dan tinggi 8 meter. Rangka besi menjadi penyangga utamanya. Seluruh permukaannya ditutup bunga-bunga plastik berwarna hijau, merah, dan kuning. Bunga-bunga ini bukan hasil pabrikan, melainkan karya tangan yang disusun satu per satu.

“Bunga-bunga ini dari banner plastik bekas. Ada yang dari plastik kresek, botol bekas, dan tas bekas souvenir,” kata Yosmina sambil menunjuk detail ornamen.

Total sampah plastik yang digunakan tidak sampai 50 kilogram. “Karena ini rata-rata plastik, jadi beratnya tidak terlalu besar,” ucapnya.

Namun, meskipun ringan di timbangan, proses pembuatannya sangat melelahkan. Yosmina mengaku mulai membuat bunga sejak Januari 2025, jauh sebelum suasana Natal terasa. Ia sudah membayangkan ukuran pohon dan menghitung kebutuhan ornamen sejak awal.

“Saya tahu pohon Natal ini tingginya delapan meter. Diameternya 2,5 meter. Dengan ukuran bunga seperti ini, saya kira butuh kurang lebih 500 bunga,” tuturnya.

Proses pengerjaan melibatkan sekitar tujuh orang kru Bank Sampah Mulyo Sedoyo. Puncaknya terjadi pada pekan kedua November, ketika mereka harus bekerja dari pagi hingga malam.

“Minggu kedua November itu kami benar-benar kerja intens. Dari pagi sampai malam, bareng-bareng,” katanya.

Bahan baku pohon Natal ini dikumpulkan secara bertahap dari nasabah Bank Sampah. Setiap Kamis, bank sampah menggelar penimbangan rutin.

“Setiap hari Kamis kami ada penimbangan. Di saat-saat itulah kami lihat mana sampah yang bisa diambil untuk dikelola dan didaur ulang,” ujar Yosmina.

Pohon Natal dari limbah ini bukan hal baru bagi mereka. Ini sudah tahun keempat gereja tersebut menghadirkan pohon Natal berbahan sampah, dengan konsep yang selalu berubah.

“Tahun pertama, 2022, kami pakai 1.500 botol air mineral. Tahun 2023 semuanya dari bunga, bahannya plastik kresek yang disetrika dan dibentuk jadi daun. Tahun kemarin kami pakai 250 galon air mineral,” ungkapnya.

Menurut Yosmina, setiap pohon selalu membawa pesan yang sama, meski bentuknya berbeda. “Pesan utamanya itu pendidikan kemasyarakatan. Ayo mulai peduli dengan lingkungan,” katanya.

Ia menambahkan, langkah paling sederhana adalah memilah sampah dari rumah. “Kalau kita mau, sampah itu bisa kita kelola jadi sesuatu yang berguna. Bahkan punya nilai,” ujarnya.

Bank Sampah Mulyo Sedoyo sendiri memiliki sekitar 430 keluarga sebagai nasabah. Sebelum pandemi, setiap kali penimbangan mereka bisa mengelola 1,5 hingga 2 ton sampah. Kini jumlahnya menurun.

“Sekarang syukur-syukur sekali penimbangan bisa dapat satu ton,” kata Yosmina.

Di momen Natal ini, ia berharap pohon dari sampah tersebut tak hanya jadi latar foto, tetapi juga meninggalkan pesan yang lebih dalam bagi jemaat dan masyarakat.

“Lingkungan bersih, keturunan kita hidupnya pasti sehat. Kalau lingkungan terjaga, kehidupan ekonomi juga bisa maju, karena sampah dikelola jadi punya nilai,” tutupnya.


Pos terkait