Isi Artikel
Pengenalan Naskah “Nabila” yang Menyentil Isu Sosial
Sanggar Pelakon yang dipimpin oleh Mutiara Sani menghadirkan pertunjukan teater berjudul “Nabila” di Gedung Kesenian Jakarta pada 19 hingga 20 Desember 2025. Pertunjukan ini memperlihatkan naskah teater terakhir yang ditulis oleh almarhum Asrul Sani, seorang sutradara film dan teater yang terkenal. Naskah ini menyentil isu-isu sosial seperti kejujuran, kekuasaan, kesetiaan, dan pemilihan sikap.
Pertunjukan dimulai dengan suasana rumah gedongan di akhir tahun, menjelang pergantian tahun. Nabila, tokoh utama dalam cerita, pulang terlambat. Biasanya ia selalu menemui suaminya di rumah. Namun kali ini, suaminya agak masygul karena tidak disambut oleh istrinya. Nabila tiba di rumah dengan tas penuh belanjaan barang mahal serta parcel dan hadiah lainnya. Keadaan ini membuatnya bahagia, tetapi suaminya, Saladin, tidak menyukainya. Ia ingin mengembalikan semua hadiah tersebut karena tak ingin merasa berhutang budi kepada orang lain.
Konflik yang Menggambarkan Ketegangan Klasik
Saladin akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Nabila. Ia membiarkan hadiah itu demi kebahagiaan istrinya. Ia berusaha menjadi seorang pimpinan yang jujur dan bersih tanpa harus tersandera hutang budi. Ia sangat mencintai istrinya, namun kebahagiaan itu terasa mengikat. Naskah ini terbagi dalam tiga babak dan disutradarai oleh Jose Rizal Manua dari Teater Tanah Air. Ia memperlihatkan ketegangan klasik tetapi tetap relevan dengan isu-isu yang sedang berkembang saat ini.
Konflik mulai muncul dengan kehadiran dua tokoh penting: Martha dan Suminta. Martha adalah teman sekolah Nabila yang terpuruk setelah ditinggal suaminya yang tidak mencintainya. Suminta, pejabat yang memiliki reputasi buruk di tempat kerja Saladin, juga muncul sebagai tokoh yang memicu ketegangan. Di sinilah konflik mulai muncul secara perlahan, seperti mengupas kulit bawang. Puncaknya adalah ketika Suminta, yang pernah membantu Saladin, meminta Nabila menyampaikan pesan agar suaminya tidak memecatnya.
Perkembangan Cerita yang Penuh Dilema
Saladin telah membuat keputusan untuk tidak memecat Suminta, yang membuat Suminta meledak. Nabila kini dihadapkan pada dilema, sementara dosa masa lalu mulai menghiasi hidupnya. Suminta mengancam akan membocorkan rahasia Nabila tentang tanda tangan palsu yang ia gunakan saat meminjam uang dari bank untuk mengobati suaminya. Ketegangan ini serupa dengan yang sering kita temui dalam sinetron, tetapi dalam konteks yang lebih kompleks dan mendalam.
Akhirnya, Saladin mengetahui aib yang selama ini disembunyikan oleh Nabila. Demi menjaga reputasi dan nama baik, ia membuang perempuan yang telah berkorban untuknya. Adegan ini menampakkan sisi lain dari Saladin, seorang yang tampak jujur tetapi pengecut dan tidak konsisten dengan perkataannya. Nabila yang terluka membuat keputusan yang tak terduga setelah direndahkan oleh suaminya.
Performa Akting dan Tata Panggung yang Solid
Pertunjukan “Nabila” cukup solid dengan akting beberapa aktor senior seperti Ati Cancer yang memerankan tokoh Mbok Suri dan Ayez Kassar. Tata panggung yang digarap oleh Kacit Zarkasih menampilkan visual rumah gedongan era 1980-1990-an. Rumah tersebut memiliki lantai dua dengan pintu klasik lebar dan jendela bergorden di kiri kanannya.
Naskah ini tidak hanya menyentil isu kejujuran, kekuasaan, dan kesetiaan, tetapi juga memberikan sentuhan satir, tragis, romantis, dan komedi. Contohnya, adegan awal ketika Mbok Suri harus mondar-mandir membukakan pintu saat kedatangan tukang parsel membuat penonton tertawa kecil. Meski begitu, adegan ini bisa lebih dieksplorasi dan dihadirkan lebih kekinian.
Penyutradaraan yang Setia pada Naskah Asli
Pertunjukan “Nabila” disutradarai oleh Jose Rizal Manua yang menghabiskan empat bulan terakhir untuk mempersiapkan para aktor. Ia memastikan bahwa semua aspek seperti akting, kostum, ritme, dan kalimat naskah tetap sesuai dengan versi asli. Jose mengatakan bahwa bahasa Asrul Sani sudah sangat indah dan aktual, sehingga tidak ada perubahan yang dilakukan. Meski demikian, ia menyebut bahwa semua disesuaikan dengan kekinian.
Warisan Naskah yang Masih Relevan
Mutiara Sani, istri almarhum Asrul Sani, senang naskah ini dipentaskan. Ia bercerita bahwa suaminya menulis naskah ini sekitar 1987-an dan menulisnya khusus untuknya. Meskipun sempat berlatih selama tiga bulan, kesehatan suaminya menurun, sehingga naskah ini sempat tertunda. Baru pada 1997, naskah ini kembali diulik lagi dengan beberapa penyempurnaan.
Mutiara mengatakan bahwa naskah ini merupakan impiannya, dan suaminya berharap dirinya memainkan naskah ini. Namun, karena kesehatan suaminya, ia tidak sempat mementaskannya hingga akhirnya Asrul Sani berpulang pada Januari 2004. Baru pada awal tahun ini, ia memutuskan untuk mempertunjukkan naskah ini sebagai bagian dari rangkaian perayaan 101 tahun Asrul Sani.
Mutiara berkomitmen untuk terus memperkenalkan naskah-naskah almarhum suaminya kepada generasi muda. Setelah “Nabila”, ia tengah menyiapkan dua naskah lain yang akan dipentaskan tahun depan. Naskah “Nabila” juga akan dipentaskan ulang pada 2027.
