Isi Artikel
Jakarta, IDN Times– Kondisi beberapa daerah di Aceh pasca banjir bandang masih mengalami pemadaman listrik yang berulang dan parah. Pemerintah Provinsi Aceh berkomitmen untuk mempercepat perbaikan di sektor energi. Fokus penanganan difokuskan pada normalisasi pasokan listrik, distribusi bahan bakar minyak (BBM), serta pendistribusian LPG untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.
“Kondisi pasokan listrik di Aceh memang masih gelap dan mengalami pemadaman bergilir yang sangat parah. Hal ini terjadi karena robohnya beberapa menara transmisi dan terputusnya jaringan listrik akibat bencana,” kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Taufik, di Kantor Gubernur Aceh, dalam keterangan pers yang dirilis pada Rabu (17/12/2025).
1. Pemerintah Aceh bersama PLN melakukan perbaikan pada jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)
Pemerintah Aceh bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus bekerja sama untuk memperbaiki jaringan yang menyebabkan pemadaman listrik. Contoh perbaikan yang telah selesai 100 persen dan beroperasi normal adalah jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Peusangan Bireuen, yang sebelumnya mengalami kerusakan empat menara dan satu menara mengalami perubahan bentuk.
Selain itu, perbaikan pada jalur SUTT Bireuen–Arun disebut oleh Taufik telah selesai. Namun, masih terdapat kendala teknis pada jalur SUTT Brandan–Langsa, meskipun proses perbaikannya telah mencapai 86 persen.
“Rekan-rekan PLN terus berupaya menyelesaikan masalah agar sistem kelistrikan Aceh mulai pulih dan kembali normal. Kami tetap memberikan dukungan dan berharap proses ini dapat selesai tanpa kendala yang berarti,” ujar Taufik.
2. Pasokan bahan bakar minyak di Aceh dianggap aman, Pertamina berupaya menyediakan BBM melalui jalur udara
Selain sisi kelistrikan, pasokan bahan bakar minyak di Aceh secara umum dianggap dalam kondisi aman. Dari 23 kabupaten/kota, 19 wilayah sudah berada dalam keadaan normal. Empat kabupaten lainnya, yaitu Aceh Tamiang, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, masih dalam proses pemulihan.
Di Aceh Tamiang, empat dari tujuh pom bensin telah beroperasi dengan normal, sementara tiga lainnya masih dalam proses perbaikan fasilitas pendukung. Di Gayo Lues, lima dari tujuh pom bensin beroperasi, sedangkan dua lainnya mengalami hambatan akses jalan yang terputus. Untuk Bener Meriah dan Aceh Tengah, fasilitas pom bensin sudah siap secara sarana pendukung, tetapi distribusi BBM masih menghadapi kendala akses darat yang terbatas.
“Pertamina terus berupaya menyediakan bahan bakar minyak melalui jalur udara, meskipun kapasitasnya sangat terbatas. Ketika akses darat tersedia, distribusi akan segera ditingkatkan,” kata Taufik.
3. Distribusi LPG telah mulai beroperasi secara normal
Sementara itu, pendistribusian LPG dari agen ke pangkalan secara umum telah kembali berjalan lancar. Namun, penyaluran ke Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, yang terbilang terpencil, masih dilakukan melalui jalur udara menggunakan pesawat dan helikopter.
Selanjutnya, Pemerintah Aceh telah mengirimkan 154 tabung LPG untuk dapur umum di kedua kabupaten tersebut serta menyiapkan pengiriman tambahan sebanyak 180 tabung. Untuk wilayah Banda Aceh dan Pantai Barat, distribusi dilakukan melalui jalur laut karena putusnya Jembatan Kota Blang.
Meskipun demikian, Taufik mengakui masih terdapat antrean LPG di lapangan karena meningkatnya kebutuhan setelah bencana dan keterbatasan jalur distribusi. Namun, mereka memastikan bahwa persediaan dan kuota LPG serta BBM dalam kondisi cukup.
Sebelumnya, Gubernur Aceh telah mengirim surat kepada Menteri ESDM dan BPH Migas guna mempersiapkan penambahan kuota apabila diperlukan. Permintaan tersebut telah mendapat respons berupa pembukaan akses penuh dalam penyediaan BBM dan LPG di Aceh.
Beberapa Jalur Jalan di Aceh Sudah Bisa Digunakan untuk Akses antar Wilayah Aceh Mengirim Surat ke PBB, Anggota DPR: Pemerintah Daerah Tidak Berwenang Meminta Bantuan Luar Negeri Listrik Aceh Diharapkan Kembali Normal dalam Beberapa Minggu
