Kondisi cuaca pengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali jelang libur Nataru 2025/2026

, MANGUPURA –Kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Indonesia Timur khususnya Bali, Nusa Tenggara Barat hingga Nusa Tenggara Timur (Bali Nusra) mulai pengaruhi tingkat kunjungan wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan nusantara jelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026).

Namun ditengah situasi seperti ini Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) tetap optimis tingkat hunian atau okupansi hotel terjadi peningkatan.

Bacaan Lainnya

“Saya rasa kalau peningkatan okupansi terus terang cukup situasinya cukup menantang karena salah satu isu yang ditanyakan oleh masyarakat adalah mengenai cuaca,” ujar Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Warokka, usai konferensi pers kesiapan ITDC menghadapi libur Nataru 2025/2026 pada Jumat 19 Desember 2025 di The Westin Resort Nusa Dua Bali.

Ia menambahkan ITDC ini mengelola kawasan yang berada di tiga daerah yang berdekatan yakni Bali, NTB, NTT. 

Dimana seorang rekannya asal Jerman yang hendak berlibur ke Bali menanyakan bagaimana kondisi cuaca saat ini seperti apa.

“Saya menghadapi sendiri, bahkan tamu kita yang ada di Jerman kemarin malam juga tanya mengenai cuaca. Jadi bagaimana dengan cuaca yang timbul di Bali, dengan adanya hujan segala macam, termasuk di NTT dan di NTB,” imbuh Troy Warokka.

Lebih lanjut ia menyampaikan kita harus sampaikan narasi yang positif mengenai kondisi cuaca saat ini tetapi bukan berarti menyampaikan cuaca baik-baik saja tetapi kita berikan tips dan trik bagaimana pergi yang nyaman itu adalah kapan.

Contohnya kita memberikan rekomendasi kepada wisatawan untuk keberangkatan dari Jakarta itu pagi hari sebaliknya kepulangan ke Jakarta juga penerbangan pagi.

“Berangkat pagi kemudian dari kota-kota besar seperti Surabaya juga berangkatnya pagi. Nah, kembali dari Bali, dari NTT dan juga NTB, itu juga pagi. Karena kan kalau kita lihat seperti sekarang ini, situasinya pagi sangat bersahabat,” papar Troy Warokka. 

Pihaknya juga terus berkomunikasi dengan BMKG bagaimana kondisi terkini cuaca yang ada di Bali Nusra.

Selain itu juga diskusi dengan InJourney (PT Aviasi Pariwisata Indonesia) supaya semua terjaga dengan baik karena alam tidak pernah bisa diprediksi.

Tapi bagaimana caranya kita bisa melakukan koordinasi dan cocokologi harus benar supaya tidak terlalu berdampak besar bagi pariwisata Indonesia.

“Jadi kalau kita bicara okupansi, saya rasa bergerak (meningkat). Karena kan sekarang cukup banyak himbauan dari pemerintah, misalnya untuk melakukan wisata di negeri sendiri yang dilakukan oleh banyak stakeholder. Nah, itu saya rasa juga cukup hal yang bagus,” ucap Troy Warokka.

Bahkan diungkapkan General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika hingga hari ini belum ada pembatalan pemesanan atau cancel booking hotel dari tamu-tamu yang akan menginap selama periode libur Nataru kali ini.

“Sampai saat ini kita belum terima (informasi cancel booking). Belum ada. Karena biasanya kalau wisatawan yang akan datang ke The Nusa Dua, dia sudah akan prediksikan kira-kira seperti apa rencananya (jadwal kunjungannya disusun dengan matang),” ujar Agus Dwiatmika.

Menurutnya wisatawan tentu akan memilih penerbangan yang mungkin pagi daripada sore hari atau malam yang lebih berisiko, begitupun kepulangannya ke daerah atau negara asalnya.

Pemerintah menurut kami juga cukup responsif karena begitu ada cuaca yang kurang bersahabat, biasanya BMKG sudah menginformasikannya melalui saluran-saluran resmi BMKG bahkan ke masing-masing handphone pemilik yang telah mendownload aplikasi BMKG.

“Jadi itu juga kami sangat apresiasi. Di samping kami juga selalu mengingatkan ke tenant-tenant juga untuk selalu mengingatkan wisatawan yang menginap terkait dengan cuaca. Entah itu yang mengenai gelombang laut maupun mungkin kadang-kadang hujan yang sering datang,” ucapnya.

Menghadapi libur Nataru 2025/2026 pihaknya telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan, lalu terdapat Posko Siaga yang akan beroperasi mulai 24 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026 mendatang. 

Secara operasional Kawasan The Nusa Dua beroperasi selama 24 jam sehari.

Dan siapapun yang datang beraktivitas selalu dalam pengawasan manajemen The Nusa Dua.

Mengenai target kunjungan di The Nusa Dua, Agus Dwiatmika menargetkan sebanyak 3,4 juta kunjungan target okupansi sebesar 77,5 persen kami harapkan angka ini bertahan sampai akhir Desember.

“Okupansi di bulan ini kami target 83 persen. Soal okupansi selama tahun 2025 ini, satu hingga dua persen itu sudah bertumbuh, angkanya sudah cukup tinggi kalau dilihat dari okupansi rate di luar kawasan. Tahun ini kami menargetkan 77 persen (okupansi) dan tercapai. Kami tetap bersyukur melihat angka ini (capaian okupansi) karena di luar kawasan yang cukup stragling di Seminyak, Ubud dan beberapa hotel yg bergantung pada MICE,” urainya. (*)

Pos terkait