PURWOREJO, — Suara terompet yang biasanya memeriahkan pergantian tahun kini kian jarang terdengar, bahkan kini tak lagi berbunyi.
Di balik senyapnya suasana menjelang Tahun Baru 2025, tersimpan kisah pilu para penjual terompet tradisional yang harus berjuang keras agar dapur tetap mengepul.
Salah satunya dialami Budi Kurniawan (55), perajin sekaligus penjual terompet asal Desa Baledono, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.
Bertahun-tahun menggantungkan hidup dari terompet Tahun Baru, Budi kini harus menelan kenyataan pahit, lapak sepi, pembeli nyaris tak ada.
“Pernah gagal total. Modal sampai Rp15 juta habis, tapi terompet tidak laku,” tutur Budi pada Rabu (31/12/2025).
Pengalaman pahit itu terjadi beberapa tahun lalu saat ia berjualan di wilayah Kutoarjo bersama sekitar 20 pedagang terompet lainnya.
Kala itu, hasil penjualan nihil. Meski sempat terpukul, Budi memilih tidak sepenuhnya meninggalkan keahlian yang telah ia tekuni sejak puluhan tahun lalu.
Memasuki awal 2025, Budi kembali mencoba peruntungan. Dengan modal yang jauh lebih kecil, sekitar Rp2 juta, ia memproduksi sekitar 200 terompet hasil buatan tangannya sendiri.
Terompet-terompet tersebut dijual dengan harga Rp10 ribu per buah, jauh lebih murah dibandingkan produk pabrikan.
Namun kenyataan kembali tak berpihak. Dari pagi hingga sore hari, saat ia duduk menunggu di lapak sederhana, belum satu pun terompet berpindah tangan.
“Dari pagi sampai sore, belum ada yang beli,” ucapnya pelan, sembari menata terompet berwarna-warni yang menggantung rapi di lapaknya.
Menurut Budi, perubahan pola hiburan masyarakat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat terhadap terompet Tahun Baru.
Kehadiran telepon pintar berbasis Android membuat masyarakat lebih memilih hiburan digital dibandingkan tradisi lama menyambut pergantian tahun.
“Sekarang orang lebih asyik main HP. Terompet itu identiknya cuma buat Tahun Baru. Dulu masih bisa dipakai untuk acara lain,” keluhnya.
Meski demikian, Budi menegaskan bahwa terompet buatannya murni untuk hiburan. Ia menolak jika terompet dikaitkan dengan kepentingan politik atau agama.
Harapannya sederhana, bisa mendapatkan penghasilan yang sae, atau layak, untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Tak banyak yang tahu, Budi bukan penjual terompet biasa. Sejak 1990, ia telah menekuni dunia perajin terompet dan dikenal sebagai salah satu pakar terompet tradisional di Purworejo.
“Sudah lama kalau menekuni bisnis ini, ini jadi salah satu penyambung hidup saya,” kata Budi
Tangannya piawai menciptakan berbagai desain unik, mulai dari bentuk naga, karakter hewan, hingga model kreatif lain yang menjadi ciri khas karyanya.
Keahliannya membuat Budi kerap menjadi rujukan para pedagang terompet dari berbagai wilayah, seperti Kemiri, Katerban, hingga Kutoarjo, yang datang untuk belajar teknik pembuatan terompet darinya.
Sebelum fokus sebagai perajin, Budi juga pernah menjalani profesi sebagai penjual mainan keliling, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menyambung hidup.
Kini, meski usia tak lagi muda dan pasar kian menyempit, ia tetap bertahan dengan keterampilan yang dimilikinya.
“Sebelum jual terompet, dulu jual mainan keliling, tapi sudah lama sekali,” kata Dia.
Kisah Budi Kurniawan menjadi potret nyata ketangguhan pelaku usaha kecil di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Di balik sunyinya bunyi terompet Tahun Baru, tersimpan harapan sederhana seorang perajin agar tradisi tak sepenuhnya hilang, dan jerih payah tangan tetap dihargai.
“Ya semoga ke depan dapat lebih baik, anak-anak bisa main terompet seperti dulu lagi,” tutupnya.
