Kisah Nurul: Dari IPK 2,97 ke Guru Besar UGM

Perjalanan Nurul Indarti: Dari IPK di Bawah 3,00 Hingga Menjadi Guru Besar

Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., adalah seorang dosen yang kini resmi menjadi guru besar perempuan pertama dalam bidang manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pengukuhan ini terjadi tepat satu tahun lebih setelah ia diangkat sebagai guru besar pada bulan Agustus 2024. Meskipun kini menjadi sosok yang dihormati dalam dunia pendidikan tinggi, perjalanan akademik Nurul tidak selalu mulus.

Awal Kehidupan Akademik yang Tidak Terduga

Nurul lahir di Yogyakarta pada tahun 1976 dan sejak kecil menempuh pendidikan di kota tersebut. Ia lulus dari SMA Negeri 8 Yogyakarta dengan jurusan IPA. Namun, saat memasuki bangku kuliah, ia memilih untuk mengambil jurusan ekonomi, meski awalnya merasa bahwa hal itu akan mudah baginya. Nyatanya, ia menghadapi tantangan berat.

Bacaan Lainnya

Di semester pertama perkuliahan, IPK Nurul hanya mencapai 2,97, di bawah angka 3,00. Hal ini membuat ayahnya menyampaikan pesan penting kepadanya, bahwa IPK yang rendah bisa memengaruhi masa depannya. Di sisi lain, Nurul juga aktif sebagai aktivis di Ikatan Pelajar Muhammadiyah sejak SMA, sehingga ia sering kali terlibat dalam kegiatan hingga larut malam.

Perubahan Sikap dan Pemahaman Ilmu

Pada suatu titik, Nurul menyadari bahwa ia harus lebih serius dalam menjalani studi. Ia pun mundur dari kegiatan organisasi dan fokus pada perkuliahan. Hasilnya, IPKnya meningkat, dan ia lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 1998.

Setelah lulus, Nurul melanjutkan studi S2 di Norwegia, tempat ia meraih gelar Master of Business Administration (Sivilokonom) pada tahun 2002. Selanjutnya, ia melanjutkan studi S3 di Belanda dan berhasil meraih gelar Doktor (Ph.D) dalam bidang Knowledge Management and Innovation pada tahun 2010.

Perjalanan Menuju Jabatan Guru Besar

Proses pengukuhan sebagai guru besar tidak berjalan mulus bagi Nurul. Ia mengajukan usulan guru besar pada tahun 2017, tetapi tidak lolos di tingkat universitas. Setelah beberapa tahun berusaha, ia kembali mengajukan usulan pada tahun 2019 dan akhirnya mendapatkan SK guru besar pada tahun 2020.

Menurut Nurul, jabatan guru besar bukanlah tujuan utama, melainkan konsekuensi dari menjalankan tanggung jawab sebagai dosen dengan baik. Ia menjalani tridharma perguruan tinggi dengan sungguh-sungguh, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Fokus pada Kewirausahaan Kelompok Marjinal

Nurul dikenal sebagai dosen yang memiliki fokus khusus pada kewirausahaan, terutama bagi kelompok marjinal seperti perempuan dan penyandang disabilitas. Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar, ia menyampaikan tema “Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial”.

Ia mengatakan bahwa kewirausahaan etnis, perempuan, dan sosial sering kali dipinggirkan karena berbagai faktor struktural dan budaya. Kelompok-kelompok ini sering menghadapi hambatan akses terhadap peluang dan sumber daya yang dimiliki oleh kelompok mayoritas.

Kontribusi dalam Dunia Pendidikan

Selain fokus pada penelitian, Nurul juga aktif dalam pengembangan kurikulum. Pada tahun 2004, ia mengembangkan kurikulum kewirausahaan menjadi wajib bagi mahasiswa program sarjana prodi manajemen. Pada tahun 2011, ia mengembangkan konsentrasi kewirausahaan di Magister Manajemen UGM. Selain itu, ia juga menginisiasi kurikulum keberlanjutan dalam program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM) MM FEB UGM.

Tanggung Jawab Sebagai Guru Besar

Dengan jabatan guru besar, Nurul merasa tanggung jawabnya semakin besar. Ia ingin menjadi teladan bagi mahasiswa dan memberikan nilai-nilai positif bagi dunia akademik. Ia percaya bahwa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus dilakukan secara optimal agar dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Pos terkait