Kisah Joko Arianto, kerja bakar 500 sate per hari di warung tongseng kambing Bu Soleh Karanganyar

Ringkasan Berita:

  • Joko Arianto (52) menjadi pembakar sate di Tongseng Kambing Bu Soleh Colomadu sejak enam bulan terakhir.
  • Setiap hari ia membakar 300–400 tusuk sate, dan bisa mencapai 500 tusuk saat akhir pekan.
  • Joko bangkit setelah usahanya tutup akibat pandemi Covid-19, menjadikan panggangan sate sebagai simbol harapan baru.

Laporan Wartawan , Mardon Widiyanto

Bacaan Lainnya

, KARANGANYAR –Asap tipis mengepul tanpa henti dari panggangan sate di sudut warung Tongseng Kambing Bu Soleh, Colomadu, Karanganyar.

Di balik bara api yang menyala sejak siang hingga malam, berdiri Joko Arianto, lelaki 52 tahun yang setia membalik tusuk-tusuk sate kambing hingga ratusan setiap harinya.

Tangannya cekatan, wajahnya berkeringat, namun gerakannya tak pernah melambat.

Dalam sehari, Joko bisa membakar 300 hingga 400 tusuk sate di hari biasa.

Saat akhir pekan tiba, jumlah itu melonjak hingga 500 tusuk.

Semua dilakukan dengan ritme yang sudah ia hafal betul.

“Ramai banget kalau weekend atau hari libur,” cerita Joko sambil menyeka keringat di dahinya kepada TribunSolo, Kamis (25/12/2025).

Sudah enam bulan terakhir Joko menjadi bagian dari dapur Tongseng Kambing Bu Soleh, warung legendaris di Jalan Tanujaya, Dusun Klokakan, Desa Gawanan, yang tak pernah sepi pemburu kuliner kambing.

Asap arang dan aroma daging terbakar menjadi saksi kerja kerasnya setiap hari.

Sebelum berdiri di depan panggangan ini, Joko pernah memiliki usaha sendiri.

Namun pandemi Covid-19 datang menghantam tanpa ampun, memaksanya menutup warung yang telah ia bangun.

“Saya pernah buka warung sendiri, namun karena pandemi Covid-19, saya gulung tikar, dan baru gabung 6 bulan yang lalu,” kenangnya dengan senyum getir.

Kesempatan datang saat Bu Soleh membuka pintu.

Dari situ, Joko perlahan bangkit.

Ia bukan sekadar pembakar sate, melainkan bagian dari denyut kehidupan warung yang selalu ramai oleh tawa pelanggan dan denting piring.

Bagi Joko, api di panggangan bukan hanya alat memasak.

Bara itu adalah simbol keteguhan dan harapan yang kembali menyala setelah masa-masa sulit.

“Asal ada api, ada harapan,” katanya lirih, sambil kembali membalik sate di atas bara yang membara.

Dari TikTok ke Meja Makan

Popularitas warung ini melonjak setelah viral di TikTok.

Video singkat tentang menu ekonomis seharga Rp15 ribu—nasi, tongseng, dan es teh—membuat banyak orang penasaran.

Tak heran, banyak pengunjung datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk merasakan langsung sensasi kuliner yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Ara (21), mahasiswi asal Jogjakarta, duduk bersama teman-temannya sambil menunggu pesanan.

Ia mengaku sengaja datang karena ingin membuktikan rasa yang disebut-sebut lezat sekaligus murah.

“Saya tertarik mencoba karena tempatnya dan rasa enaknya sudah viral,” kata Ara.

Bagi Ara, kunjungan ini juga punya makna personal.

Pemilik warung ternyata adalah kakak kelasnya semasa SMP.

“Saya pertama kali ke sini dan coba masakan yang dikelola kakak kelas saya waktu SMP, dan memesan nasi goreng kambing dan tongseng, rasanya enak dan harganya murah,” ungkapnya.

Sosok Pemilik yang Jadi Magnet

Tak hanya menu yang jadi daya tarik, sosok pemilik warung juga membuat pengunjung penasaran.

Harsi (38), salah satu pegawai, menuturkan bahwa banyak anak muda datang bukan sekadar makan, tetapi juga ingin berinteraksi dengan sang pemilik.

“Kadang-kadang yang datang ke sini anak muda seperti mahasiswa, penasaran dengan sosok owner kami, banyak juga yang ngajak ngobrol dan minta foto dengan owner kami,” ujarnya.

Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Otentik

Tongseng Kambing Bu Soleh berhasil mengubah warung sederhana menjadi ikon kuliner baru di Karanganyar.

Dengan harga ramah di kantong dan rasa otentik yang memikat, tempat ini menjadi bukti bagaimana media sosial mampu mengangkat sebuah usaha kecil hingga menjadi fenomena.

(*)

Pos terkait