Kisah di Bandara

Perjalanan Akhir Tahun: Ritual Kembali ke Rumah

Setiap akhir tahun, perjalanan ini selalu terulang. Seperti kalender yang setia menandai tanggal merah, tubuh dan hati saya otomatis tahu: sudah waktunya pulang. Perjalanan di penghujung tahun—Natal dan Tahun Baru—bukan sekadar agenda, melainkan ritual. Ritual yang entah sejak kapan tertanam kuat sejak saya beranjak dari kampung asal dan mulai mengenal kata “pergi” sebagai bagian dari hidup.

Bandara menjadi altar kecil ritual itu. Tempat segala rindu dikemas dalam koper, dibungkus jaket tebal, dan diselipkan di antara boarding pass. Anehnya, meski sering dilakukan, perjalanan ini tak pernah membosankan. Mungkin karena tujuannya selalu sama: pulang. Pulang untuk bertemu keluarga besar, mencicipi lagi rasa rumah, dan—yang paling sulit dijelaskan—menikmati kembali kenangan masa kecil yang rasanya selalu lebih hijau, lebih segar, dan lebih jujur.

Bacaan Lainnya

Di kampung, hutan bukan sekadar deretan pohon, tapi halaman bermain. Sungai bukan hanya aliran air, melainkan guru renang pertama sekaligus saksi bisu luka-luka kecil yang kini tinggal cerita. Buah-buahan bukan hasil belanja, melainkan hasil petualangan: memanjat, berlari, dan kadang dimarahi karena pulang dengan baju penuh getah. Semua itu seperti menunggu untuk disapa kembali setiap akhir tahun.

Sering kali perjalanan ini saya lakukan bersama keluarga. Rombongan kecil dengan logistik berlebih, suara ribut, dan drama koper yang selalu kelebihan berat. Namun kali ini berbeda. Kali ini saya sendiri. Tidak ada yang mengingatkan tiket jangan sampai tertinggal, tidak ada yang bertanya “sudah boarding belum?” setiap lima menit. Tapi anehnya, rasa “balek kampung” itu tidak berkurang sedikit pun. Rindu tetap penuh, bahkan mungkin lebih hening dan dalam.

Bandara hari itu ramai, tapi bukan ramai yang asing. Ada kehangatan yang samar-samar terasa. Wajah-wajah penumpang tampak lelah, tapi matanya menyimpan cahaya yang sama: harapan. Dari percakapan yang sempat tertangkap telinga, hampir semuanya mengarah ke tujuan yang serupa—mudik, pulang kampung, bertemu keluarga. Ada yang berbicara tentang ibu yang sudah menyiapkan masakan favorit, ada yang bercerita soal anak yang sudah lama tak dipeluk, ada pula yang diam, tapi senyumnya cukup menjelaskan segalanya.

Di kursi tunggu, saya melihat seorang bapak dengan jaket lusuh memeluk tas kecilnya erat-erat, seperti menyimpan seluruh hidup di dalamnya. Tak jauh, sepasang anak muda sibuk bercanda sambil sesekali mengecek jam, takut ketinggalan pesawat—takut terlambat bertemu orang-orang tersayang. Seorang ibu terlihat mengelap layar ponselnya, mungkin membaca pesan yang sama berulang kali: “Hati-hati di jalan. Kami tunggu.”

Bandara, yang biasanya identik dengan perpisahan, di akhir tahun justru menjadi ruang pertemuan rasa. Semua orang sedang menuju pulang, meski definisi “pulang” bisa berbeda-beda. Ada yang pulang ke rumah orang tua, ada yang pulang ke kampung halaman, ada pula yang pulang ke kenangan—menyusuri kembali siapa dirinya sebelum dunia menjadi terlalu cepat.

Saya tersenyum sendiri saat menyadari betapa perjalanan ini sudah menjadi bagian dari identitas. Seolah-olah, tanpa ritual pulang ini, akhir tahun terasa kurang sah. Natal tanpa aroma dapur kampung, Tahun Baru tanpa suara sungai atau jangkrik malam, rasanya seperti kopi tanpa gula—tetap diminum, tapi ada yang hilang.

Ketika pengumuman boarding terdengar, suasana bandara berubah. Raut wajah yang tadi santai mendadak serius. Semua berdiri, berbaris, dan menggenggam tiket seperti memegang kunci menuju kebahagiaan kecil. Saya ikut berdiri, menarik napas panjang, dan merasa ringan. Perjalanan ini bukan tentang jarak, melainkan tentang kembali—kembali menjadi diri sendiri, meski hanya sebentar.

Di dalam pesawat, saya memandang keluar jendela. Lampu-lampu bandara perlahan menjauh, seperti kota yang melepas anak-anaknya pulang. Di dada, rasa syukur menghangat. Tidak semua orang punya kesempatan untuk pulang, dan menyadari itu membuat perjalanan ini semakin bermakna.

Setiap akhir tahun, perjalanan ini memang selalu terulang. Namun seperti cerita yang baik, pengulangan tidak membuatnya basi. Justru di sanalah maknanya bertambah. Bandara hanya persinggahan, pesawat hanya alat, tapi rindu—rindu adalah bahan bakarnya. Dan selama rindu itu masih ada, perjalanan pulang akan selalu layak dinanti.

Pos terkait