Isi Artikel
JAKARTA — Dunia akan lebih damai jika antarumat beragama saling menyayangi. Para pemimpin negara bisa bekerja sama, mengendurkan persaingan kuasa. Pesan ini disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP), Said Abdullah, dalam rangkaian perayaan Hari Raya Natal 2025.
“Perbedaan keyakinan tidak menjadi dinding pemisah, sebaliknya, dimaknai sebagai keragaman keyakinan dan kebudayaan, dan agar kita bisa mengambil hikmah satu sama lain,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (25/12/2025).
Menurut Said, sikap seperti ini penting untuk ditumbuhkan karena dunia saat ini menghadapi tantangan ekologis yang semakin merosot, persaingan persenjataan, perdagangan, dan blok militer yang justru mengancam eksistensi umat manusia. “Kita semua, umat manusia justru membutuhkan kerja sama, dan terus mengedepankan teladan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Isa,” tambahnya.
Pentingnya Keragaman dan Kesadaran Bersama
Said menekankan bahwa antarumat beragama harus semakin kosmopolit, mampu berpikir luas, dan keyakinan personal tidak boleh menghalangi hubungan sosial. Dalam kapasitasnya sebagai Muslim, ia mengajak tumbuhnya Islam Kosmopolitan, sebagaimana yang diteladankan oleh almarhum Gus Dur.
Gus Dur, menurut Said, bisa bergaul dan bekerjasama dengan siapa saja, tidak hanya sesama muslim, tetapi juga menerobos dinding rumah ibadah, bisa “berteman mesra” dan bekerja sama dengan para romo, pastur, bante, dan bedande, bahkan tokoh-tokoh keyakinan lokal.
“Kita perlukan semangat Natal sebagai tanda untuk mengingat kebesaran Allah SWT. Pada saat yang sama kita perlu merawat kisah natal, tentang kelahiran Isa, dimensi untuk menerobos ruang dan waktu, menjahit kita semua lebih utuh sebagai sesama manusia yang perlu terus bisa menjadi rahmah bagi sekalian alam,” ujar dia.
Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Kasih Sayang
Lebih lanjut, Said menjelaskan bahwa energi spiritual yang dimiliki oleh Nabi Isa sepenuhnya didedikasikan untuk membantu sesama. Mereka yang menderita, dan senantiasa menumbuhkan sikap welas asih. “Sikap peduli, welas asih atau saling menyayangi inilah yang perlu terus kita rawat,” katanya.
Said mengisahkan bahwa pada 25 Desember 4 tahun sebelum Masehi, atau 4 Dzulhijjah 645 Hijriyah dalam kalender Islam, bayi Isa, atau Yesus anak Allah dalam kepercayaan Nasrani dilahirkan oleh Maryam, atau Bunda Maria. Isa yang kelak menjadi nabi menurut kepercayaan Islam dilahirkan oleh Maryam di sebuah kandang domba, di Kota Bethlehem.
Kelahiran Nabi Isa yang Tidak Memiliki Keistimewaan
Said menyebut bahwa Nabi Isa sebagai seorang pencerah dan mesiah tidak mendapatkan keistimewaan (previllages). Dia tidak dilahirkan dari seorang bangsawan yang bertahtah di istana. Namun Allah SWT memilih Maryam, seorang perawan suci, yang sederhana sebagai ibu kandungnya.
Derita Maryam tidak berhenti di kandang domba. Bani Israil menuduh bayi Isa dilahirkan dari perzinaan. “Kita bisa membayangkan jika berada di posisi Maryam. Dituduh berzina, dan Isa anak haram. Namun Allah SWT memberikan mukjizat kepada bayi Isa,” tutur Said.
Oleh Allah SWT, bayi kecil nan mungil yang masih orok itu bisa berbicara, “inni abdullah”, sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Ucapan ini laksana petir yang membangunkan kesadaran manusia, bahwa mukzizat yang diberikan Allah SWT kepada Isa saat itu adalah wujud kebesaran Tuhan.
Makna Mukjizat dan Keberanian Nabi Isa
“Ucapan Isa itu sekaligus manifestasi proklamasi teologis, tentang tanda tanda kenabiannya yang diberikan Allat SWT,” kata Said. Perjalanan Nabi Isa menyampaikan klaim ilahi penuh dengan derita. Nabi Isa mendapatkan tentangan dari kaumnya sendiri, Bani Israil. Namun tentangan itu dibalas dengan kasih sayang, seraya Allah SWT menunjukkan tanda tanda kebesaranNya, melalui mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa.
Doa Nabi Isa yang memohon kepada Allah SWT agar orang yang buta ditemuinya bisa melihat kembali, bahkan orang yang telah meninggal hidup kembali, yang semua atas izin Allat SWT, wujud betapa belas kasihnya Nabi Isa. Mukjizat yang diberikan Allat SWT, dan yang dimohonkan oleh Nabi Isa bermakna transendensi, sekaligus antroposentri.
Makna Transendensi dan Antroposentri
Menurut Said, bermakna transendensi, karena mukjizat yang diberikan Allah SWT menunjukkan atas kebesaran Allah SWT yang nyata, sebaliknya Nabi Isa mengabdikan mukjizat untuk menolong sesama manusia, terhadap mereka yang mengalami musibah, atau kesusahan.
