Hari ini sangat kacau, hampir saja rumah hangus menjadi abu jika aku tidak secepatnya sadar. Ini bukan hanya tentang sebuah keberuntungan, tetapi keteledoran yang bisa merugikan miliaran rupiah.
Saat rumah kebakaran, tidak menutup kemungkinan bisa merembet ke rumah sebelah. Terlebih aku tinggal di cluster yang mana dinding rumah saling berdampingan.
Ketika Air dan Api Mampu Menghancurkan Sebuah Rumah
Sekitar Pukul 08.30, aku mengajak si kecil membeli bubur ayam untuk sarapan, sekaligus mengambil pakaian di laundry. Saat musim hujan tiba, aku memang lebih suka cuci-laundry karena lebih praktis dan pakaian cepat kering.
Lokasi dari tempat Laundry ke Tukang Bubur Ayam langganan sekitar 15 menit. Saat di motor aku bilang ke anak-anak, kalau makan buburnya di tempat saja.
Setelah ambil laundry, perjalanan dilanjut menuju Tukang Bubur Ayam. Aku memesan 2 mangkok bubur yang satu tanpa daun bawang dan kacang khusus si kecil, sedangkan punyaku paket komplit.
Di sini aku masih santai melahap bubur ayam hingga tidak menyisakan bubur sedikit pun. Bubur si kecil juga habis tak bersisa, sepertinya memang anak-anak kelaparan.
Hampir 30 menit makan bubur ayam, aku membayar dulu. Tenang saja aku bukan tipe Darmaji (Dahar Lima Ngaku Hiji) alias makan lima mengaku satu. Lagian siapa juga yang sanggup makan bubur ayam 5 mangkuk sekaligus. Memang ada?
Saat aku menyalakan motor, sempat kesal karena ada mobil masuk dari arah yang salah, karena arah tersebut untuk keluar kendaraan. Tidak lama datang juga satu mobil dari arah untuk keluar tersebut, gimana tidak bikin bad mood.
Hampir keluar kata-kata kasar, tetapi harus sabar karena aku lagi sama anak-anak. Jadi, posisi bubur ayam ini di hook pas arah keluar kendaraan, sehingga kalau ada mobil masuk dari arah yang tidak seharusnya bahaya untuk kendaraan lain.
Sudah 50 meter menjauh dari tempat bubur ayam, aku tiba-tiba teringat satu hal. Air.
Ya! Aku lagi masak air dan saat keluar kompor belum aku matikan.
Seketika aku naikkan speed motor, walau dari kejauhan tidak ada asap yang membumbung di sekitar rumahku. Kebetulan posisi jalan yang kulalui lebih tinggi dari rumah, sehingga kelihatan cluster-cluster di bawahnya.
Pikiran kacau dan mulai deg-degan. Masalahnya saat aku masak air, posisi api besar. Dengan jarak tempuh hampir satu jam semenjak keluar rumah, di dapur pasti sudah ada yang terbakar.
Sesampainya di depan rumah, aku parkir cukup jauh dari garasi dan anak-anak suruh tunggu di motor dulu. Lalu, aku berlari dan secepat kilat membuka pintu yang terkunci.
Asap! Dapur dan ruang tamu mulai penuh dengan asap, bahkan pintu menuju dapur yang terbuat dari kaca sudah mulai berembun.
Kutarik kain apa saja yang ada dekat pintu dan aku basahi air. Api belum menyebar, hanya saja teko yang biasa aku gunakan untuk masak air mengeluarkan api besar.
Segera kututup dengan kain basah dan api perlahan mati. Kompor juga masih aman, hanya teko yang hitam dan rusak parah.
Hari ini memang sangat kacau, tetapi Tuhan memberi petunjuk sehingga kebakaran besar dapat terhindarkan. Dari sini aku belajar untuk lebih hati-hati dan walau sudah tua jangan mudah lupa juga.
Jangan tanya kenapa masak air masih tradisional pakai teko dan air, padahal sudah pakai dispenser. Praktis dan anti ribet.
Betul! Aku memang tidak pernah pakai dispenser untuk air panas, hanya air dingin biasa. Tujuannya lebih hemat energi dan kebetulan juga lokasi tempat dispenser ke colokan jauh, sedangkan untuk buka jalur stop kontak harus izin sama pengembang cluster. Lebih ribet dan perlu dana tambahan.
Sekarang aku hanya menyiapkan mental mendengarkan ocehan Ibuku, karena kain handuk yang aku pakai untuk memadamkan api punya makhluk terkuat di Bumi.
Byw, kepikiran juga buat sedia APAR di rumah.
