Ketika Ibu Melindungi Bumi

Ibu bumi telah memberi, ibu bumi dilindungi, ibu bumi yang adil.

Lagu sedih dari nyanyian lembut petani Kendeng. “Ibu bumi telah memberi, ibu bumi terluka, ibu bumi yang memutuskan”.

Bacaan Lainnya

Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi, telah menjadi lambang penuh makna bagi bangsa Indonesia. Menurut mitos, konsep ini berasal dari kepercayaan Hindu-Budha yaitu Dewi Prithvi, dewi yang melindungi bumi. Meskipun kini istilah Ibu Pertiwi sering digunakan untuk menyampaikan rasa hormat dan cinta terhadap tanah air, namun makna Ibu sebagai pelindung bumi tetap tak pernah pudar seiring berjalannya waktu.

Dalam film pendek Our Mothers’ Land karya The Gecko Project dan Mongabay, jurnalis Febriana Firdaus melakukan perjalanan untuk bertemu dengan perempuan-perempuan tangguh yang berjuang melawan kerusakan lingkungan. Para perempuan ini, yang juga sebagai ibu, memimpin gerakan sosial, menghadapi kekerasan, ancaman penjara, serta hukuman saat memperjuangkan hak-hak mereka. Ada ratusan komunitas pedesaan yang sedang berselisih dengan perusahaan yang berusaha menguasai sumber daya mereka, dipimpin oleh emak-emak yang mencintai alam. Perjalanan mereka penuh tantangan, bahkan harus menghadapi kemarahan pemerintah.

Di seluruh nusantara, ibu menjadi pelindung utama bumi dari ancaman kerusakan lingkungan. Tindakan berani para ibu dalam melawan aturan patriarki, bahkan menghadapi ancaman kekerasan dan kematian. Perjuangan ini sering disebut sebagai ekofeminisme, istilah yang rumit namun diimplementasikan dengan sederhana oleh para ibu. Ekofeminisme tak terlepas dari peran Vandana Shiva, aktivis perempuan asal India yang memulai gerakan chipko, yaitu aksi memeluk pohon untuk menjaga hutan tradisional.

Cerita dimulai dengan Febriana Firdaus, seorang jurnalis yang melakukan perjalanan panjang untuk belajar dari para perempuan penjaga bumi. Film berdurasi 55 menit ini mengungkap kisah di balik tindakan para perempuan Kendeng yang melangkah kaki mereka sebagai bentuk protes terhadap perusahaan semen. Mereka berasal dari Desa Tegadowo, dan sebagian besar peserta aksi adalah petani yang bergantung pada alam, serta menyadari bahwa kerusakan pegunungan karst akan menghilangkan sumber air di sekitarnya.

Warga Pegunungan Kendeng mempercayai ajaran Samin, yang menyatakan bahwa tanah, air, dan hutan adalah milik bersama. Sukinah, seorang perempuan petani yang ikut dalam aksi protes, tidak pernah meninggalkan Desa Tegaldowo, Kendeng, namun ia menyadari desanya akan dieksploitasi akibat pembangunan pabrik semen, sehingga ia berani menyampaikan pendapatnya. Seorang ibu rumah tangga dengan topi lebar untuk melindungi diri dari terik matahari, pergi ke Tuban dan menyaksikan bagaimana pabrik semen telah merusak lingkungan. Sukinah beserta delapan perempuan lainnya dikenal sebagai 9 Kartini Kendeng yang berani menentang pembangunan pabrik semen. Meskipun salah satu dari mereka, Yu Patmi (48 tahun), meninggal akibat aksi tersebut, mereka tetap teguh dan tak takut menghadapi tantangan.

Pada Juni 2014, saat pembangunan pabrik dimulai, sebanyak 100 perempuan melakukan aksi. Para perempuan ini selama beberapa bulan melakukan protes dengan alunan alu yang memiliki melodi seperti tumbukan gabah yang sangat indah, seolah-olah penduduk sedang membantu Roro Jonggrang dari cengkeraman Bandung Bondowoso. Perempuan-perempuan yang berada di garis depan perjuangan lingkungan menjadi simbol anti anarki, menunjukkan bahwa tidak perlu menunggu laki-laki untuk menjaga lingkungan.

Cerita kemudian berpindah ke Mollo, Nusa Tenggara Timur, di mana para perempuan menenun benang-benang untuk melindungi Gunung Mutis selama berminggu-minggu demi menghalangi aktivitas pertambangan marmer. Bagi masyarakat adat Mollo, gunung tersebut sangat dihormati. Dalam kearifan lokal Timor, batu, hutan, air, dan tanah dianggap seperti tubuh manusia atau fatu, nasi, noel, afu amsan a’fatif neu monit mansion.

Aleta Baun, yang sering dipanggil Mama Aleta, adalah seorang perempuan Mollo yang memimpin aksi menjaga gunung dari ancaman korporasi. Di Timor, masyarakat memiliki budaya patriarki yang kuat, namun kehadiran Mama Aleta menjadi bentuk perlawanan yang berhasil menginspirasi perempuan Mollo lainnya. Gerakan ini akhirnya mendapatkan dukungan dari para laki-laki dan suami mereka. Upaya non-kekerasan Mama Aleta mendapat apresiasi internasional berupa penghargaan The Goldman Environmental Prize di San Fransisco dan Yap Thiam Hien Award. Perlawanan ini berhasil menggerakkan hampir 150 perempuan penenun di kawasan pertambangan marmer.

Cerita selanjutnya berpindah pada tokoh Eva Bande, seorang aktivis perempuan asal Sulawesi Tengah yang dijadikan tersangka karena perjuangannya menentang pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan, dan masalah hak agraria. Ia menghabiskan 4 tahun di penjara akibat melindungi para petani Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, meskipun kemudian ia mendapatkan grasi dari Presiden Jokowi.

Kisah berakhir di ujung Barat Indonesia yang diceritakan oleh Farwiza Farhan, seorang aktivis lingkungan dari Aceh yang gigih dalam menjaga kelestarian kawasan Leuser. Wiza, demikian ia biasa disapa, adalah tokoh yang aktif menentang deforestasi khususnya di wilayah Leuser, Aceh. Berbagai penghargaan telah diraihnya atas dedikasinya dalam melindungi hutan, termasuk Whitley Award dari Whitley Fund for Nature yang diberikan oleh Sir David Attenborough, tokoh lingkungan yang juga menjadi idola masa kecil Wiza.

Perjuangan para perempuan dari Aceh, Kendeng, Toili dan Mollo semua berpusat pada komunitas perempuan yang menjaga bumi. Perempuan tidak lagi menyerah pada keterikatan patriarki, tetapi mampu mandiri dalam berjuang demi keadilan lingkungan. Para ibu sebagai pelindung bumi menunjukkan bagaimana konstruksi sosial perempuan sebagai pelindung dan kembali menciptakan keseimbangan antara ibu dalam lingkaran ekologis.

Selamat Hari Ibu bagi para ibu yang menjadi pelindung bumi!

Identitas film: Tanah Ibu Kita; Proyek Bunglon; Tayang perdana pada 3 November 2020; tautan untuk menonton di sini.

Pos terkait