Dari Thread netizen Indonesia yang rumah tangganya akhirnya berujung perpisahan, banyak hal-hal aneh tentang alasan perceraian. Lucu rasanya, karena yang mereka ceritakan hampir selalu sama, bukan soal uang. Bukan soal siapa yang gaji lebih besar. Tapi soal hal kecil yang lama-lama menggerogoti hati.
Dan ternyata data nasional pun bergerak ke arah yang sama. Data dari Pengadilan Kementerian Agama yang dirangkum BPS mencatat 394.608 perceraian di Indonesia pada 2024. Yang bikin kaget, 251.125 kasus (64%) terjadi bukan karena masalah ekonomi, tapi karena perselisihan yang tidak pernah tuntas.
Cara pasangan saling bicara, cara mereka menahan amarah, cara mereka diam, itu semua justru jauh lebih mematikan dibanding kurang uang.
Kadang jadi bertanya sendiri, apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah-rumah orang Indonesia? Coba kita ulik yuk!
Tidak Ada Komunikasi Emosi
Yang sering terjadi begini, seseorang tidak berani bilang bahwa dia sebenarnya kecewa, takut, atau butuh dukungan. Jadi perasaan itu menumpuk. Hal sepele seperti suami tidak peka hingga menghabiskan lauk, atau istri yang tidak mengungkapkan perasaannya saat lauknya habis dimakan suami, bisa berubah jadi ledakan besar.
Dan kata DeVito, itu semua hanya gejala. Akar utamanya bukan sering bertengkar, tetapi gagal mengungkapkan perasaan dengan jelas. Bukan masalahnya yang besar, tapi emosi yang tak pernah diucapkan. Dan saat emosi menumpuk, dia berubah menjadi bom waktu. Meledak tiba-tiba. Menciptakan jarak yang akhirnya sulit dijembatani.
Hilangnya Ngobrol Berdua dengan Pasangan
Kenapa ngobrol berdua sama pasangan itu sekarang rasanya makin sulit ya? Padahal kalau kata Hargie, pakar komunikasi, komunikasi yang baik itu butuh lima hal mendengarkan, empati, keterbukaan diri, umpan balik, dan bahasa tubuh. Kedengarannya sederhana, tapi prakteknya, jauh dari kata mudah.
Anehnya, banyak orang justru lebih gampang mendengarkan orang luar daripada pasangannya sendiri. Ibunya, saudaranya, teman kerja, orang yang baru kenal di internet, bahkan kadang curhat ke orang asing terasa lebih enteng daripada curhat ke pasangan. Entah kenapa. Mungkin karena di rumah kita merasa lebih gampang tersinggung, atau justru terlalu nyaman sampai lupa caranya mendengarkan dengan niat.
Padahal, suami dan istri itu harusnya saling mengerti satu sama lain. Kalau mau dibilang fair, dua-duanya perlu effort. Nggak bisa cuma salah satu. Kadang yang bikin ribut itu cuma hal sepele, sendok yang nggak dirapikan, nada bicara yang agak tinggi, pertanyaan kecil yang muncul di waktu yang salah. Tapi di balik itu semua, sebenarnya mereka lagi butuh dipahami.
Kalau dua-duanya mau sedikit lebih sabar, komunikasi pelan-pelan akan berubah. Tidak dramatis, tidak instan, tapi terasa setelah beberapa waktu.
Kadang perubahan kecil itu yang justru panjang dampaknya. Bisa bikin rumah terasa lebih ringan, bisa bikin hati nggak seketat sebelumnya.
Ya intinya, ngobrol itu perlu.Dan ngobrol yang benar-benar hadir, bukan sekadar saling menunggu kapan bisa balas bicara.
Tidak Lagi Bicara Dalam Bahasa yang Sama
Kadang, yang bikin rumah tangga itu terasa berat bukan cuma uang, bukan masalah eksternal, tapi hal-hal kecil yang menumpuk tanpa disadari. Misalnya begini, ada suami yang dari kecil diajari bahwa cinta itu dibuktikan lewat kerja keras. Jadi dia bangun pagi, pulang malam, badan remuk, tapi dalam hati merasa, “Aku sudah lakukan semua ini buat keluarga.” Dia benar-benar percaya itu bentuk sayang yang paling nyata.
Tapi di rumah, istrinya menunggu hal lain. Dia butuh kehadiran, bukan cuma fisik, tapi perhatian yang benar-benar hadir. Kadang cuma ingin ngobrol lima menit, atau duduk bareng tanpa gangguan. Bukan karena manja, tapi karena itu bahasa cintanya. Dia merasa dicintai ketika suaminya mau mendengarkan, bukan ketika pulang membawa belanjaan atau cerita soal kerja.
Dua orang yang saling sayang, tapi bahasa cintanya beda total. Dan mereka nggak pernah benar-benar ngomong soal itu.
Suami akhirnya merasa, “Lho, kok aku masih dianggap kurang? Padahal aku sudah begini capeknya.” Istri merasa, “Aku cuma ingin ditemani sebentar… kenapa itu rasanya berat banget?”
Kalimat-kalimat seperti ini jarang keluar dari mulut, tapi sering banget berkeliaran di kepala masing-masing. Dan kalau keduanya sama-sama diam, jarak kecil itu pelan-pelan jadi tembok.
Rumah jadi melelahkan bukan karena banyak konflik. Kadang malah nggak ada ribut sama sekali. Justru itu masalahnya, hening yang lama-lama jadi dingin. Suami sibuk dengan caranya menyayangi, istri menunggu dengan caranya dicintai. Dua-duanya merasa benar, dua-duanya merasa tidak salah.
Perceraian Tidak Lahir dari Satu Pertengkaran Besar.
Perceraian muncul dari seribu komunikasi kecil yang gagal, yang dibiarkan berlarut-larut. Menurut DeVito, komunikasi buruk membentuk pola destruktif, pasangan saling menjauh, menarik diri, atau yg lain terus menyerang dengan kata-kata. Masalah yang harusnya bisa dikomunikasikan pun berubah menjadi hukuman emosional.
Napas Pernikahan Terletak Pada Komunikasi
Pada akhirnya banyak pernikahan tidak tumbang karena kemiskinan, tetapi karena miskin komunikasi. Cinta saja tidak cukup. Uang juga tidak selalu mampu menyelamatkan. Yang membuat pernikahan bertahan adalah kemampuan untuk mengenali emosi sendiri, mendengarkan dengan empati, berbicara jujur, menyelesaikan konflik dengan dewasa.
