Pembangunan, Nurani, dan Tubuh yang Selalu Membayar Harga Terakhir
Setiap tahun kita disuguhi kabar baik: pertumbuhan ekonomi positif, indeks pembangunan meningkat, proyek infrastruktur berjalan. Angka-angka itu tampak meyakinkan, bahkan menenangkan.
Namun di luar grafik dan presentasi resmi, ada kegelisahan yang sulit disangkal, kehidupan banyak orang justru terasa makin sempit. Ruang hidup menyusut, rasa aman menipis, dan martabat kerap dinegosiasikan atas nama kemajuan.
Pertanyaan itu bukan tentang menolak pembangunan, melainkan tentang bagaimana pembangunan dijalankan dan siapa yang membayar harganya.
Ketika kemajuan hanya dibaca melalui statistik, sementara pengalaman manusia diabaikan, maka yang tumbuh mungkin adalah angka, bukan kesejahteraan yang sesungguhnya.
Manusia yang Menyusut Menjadi Statistik
Dalam praktik pembangunan modern, manusia sering kali direduksi menjadi grafik. Ia hadir sebagai tenaga kerja, penerima manfaat, atau target program. Jarang sebagai subjek yang utuh, dengan tubuh, sejarah, rasa takut, dan martabat.
Fenomena ini disebut dehumanisasi statistik. Manusia tidak lagi dipandang sebagai pusat pembangunan, melainkan sebagai variabel dalam kurva pertumbuhan.
Ketika ruang hidup hilang, kesehatan menurun, atau komunitas tercerabut dari tanahnya, semuanya dicatat sebagai externality, biaya sampingan yang tak masuk neraca anggaran utama.
Bahasanya rapi. Dampaknya brutal.
Tubuh Manusia sebagai Biaya Termurah
Pembangunan yang hanya mengejar kecepatan dan efisiensi selalu menemukan satu solusi paling murah: mengorbankan tubuh manusia.
Mengapa? Karena tubuh tidak tercatat dalam neraca fiskal. Trauma tidak masuk APBN. Kehilangan martabat tidak muncul dalam laporan kuartalan.
Masyarakat rentan selalu berada di garis depan risiko: petani kehilangan tanah, buruh bekerja tanpa perlindungan, komunitas dipindahkan demi proyek strategis.
Semua dilakukan bukan karena kejahatan individual, tetapi karena nurani dikeluarkan dari desain kebijakan.
Angka Naik, Pilihan Hidup Menyempit
Human Development Report 2025 (UNDP) menegaskan sesuatu yang sederhana namun sering diabaikan:
Pembangunan sejati adalah tentang memperluas pilihan manusia untuk hidup bermakna.
Bukan hanya tentang apa yang bisa dibangun negara, tetapi tentang apa yang bisa dipilih oleh warganya.
Seseorang mungkin hidup di negara dengan pertumbuhan tinggi, tetapi tidak punya pilihan pekerjaan yang bermartabat, akses lingkungan sehat, atau ruang untuk hidup tanpa rasa takut kehilangan tempat tinggal.
Di titik ini, kemajuan menjadi ilusi. Angka bergerak maju, tetapi kehidupan manusia justru menyempit.
Indonesia: Di Antara Capaian dan Kegelisahan
Di Indonesia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025 mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 tahun sebelumnya (BPS). Peningkatan ini mencakup pendidikan, kesehatan, dan standar hidup.
Namun di balik angka itu, realitas lebih kompleks: ketimpangan antarwilayah, kerentanan tenaga kerja, dan pembangunan top-down yang sering berjalan tanpa dialog bermakna.
Bappenas melalui kerangka SDGs menekankan pembangunan inklusif yang menempatkan manusia di pusat. Namun jurang antara kebijakan di atas kertas dan praktik di lapangan masih lebar.
Jurang itu sering diisi oleh tubuh manusia, sebagai penyangga terakhir dari sistem yang ingin terlihat sukses.
Harga Peradaban Terlihat dari Cara Kita Memperlakukan yang Lemah
Ada satu ukuran peradaban yang tidak muncul dalam laporan resmi: bagaimana sebuah negara memperlakukan mereka yang paling rentan.
Ketika pembangunan berjalan tetapi martabat manusia menurun, itu bukan kemajuan, itu regresi yang disamarkan.
Ketika elit menikmati indikator keberhasilan sementara rakyat diminta bersabar demi pertumbuhan, itu bukan visi, itu penundaan nurani.
Dan ketika tubuh manusia terus menjadi biaya termurah dalam mesin pembangunan, persoalannya bukan lagi teknis, tetapi moral.
Menutup dengan Pertanyaan yang Mengikat
Di akhir hari, kita bisa menatap laporan, statistik, dan grafik dengan bangga. Angka memang naik, IPM meningkat, proyek strategis selesai, pertumbuhan tercatat.
Namun jika di balik angka itu ada tubuh-tubuh manusia yang terpaksa menyesuaikan diri dengan sistem, kehilangan ruang hidup, atau kehilangan martabatnya, maka kemajuan itu terasa setengah hampa.
Pembangunan yang sejati bukan sekadar kenaikan angka, melainkan kemampuan sebuah bangsa memastikan setiap orang hidup dengan pilihan, martabat, dan kesempatan yang nyata. Tanpa itu, setiap laporan tahunan hanyalah catatan numerik, sementara kehidupan manusia semakin menyempit.
Maka pertanyaannya tetap relevan, mengikat, dan mendesak:
Ketika angka terus naik, mengapa kehidupan terasa menyempit?
Pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Ia adalah panggilan untuk menata ulang pembangunan, menempatkan manusia di pusat, dan memastikan kemajuan yang tercatat dalam statistik juga tercermin dalam kehidupan nyata, yang bermartabat dan berarti bagi setiap individu.
Penulis: Merza Gamal (Pemerhati Sosial Ekonomi Syariah)
