Keputusan Publik yang Abaikan Sains dan Etika

.CO.ID, YOGYAKARTA — Lebih dari 500 guru dari berbagai wilayah Indonesia berkumpul di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, pada Sabtu (20/12/2025), dalam acara Ngkaji Pendidikan yang diselenggarakan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Alih-alih membahas teknik pengajaran terkini, pertemuan ini justru mengajukan pertanyaan pokok: apakah pendidikan Indonesia masih menciptakan manusia, atau hanya mempersiapkan tenaga kerja?

FounderGSM, Muhammad Nur Rizal, menyatakan bahwa tema Human & Education Reset diambil karena pendidikan dinilai terlalu lama fokus pada perbaikan teknis, sementara dasar kemanusiaan diabaikan.

Bacaan Lainnya

Reset bukan restart. Reset berarti mengatur ulang sistem dengan kembali ke kondisi alami manusia: cara berpikir, cara merasakan, dan cara membuat keputusan. Krisis saat ini bukanlah kekurangan teknologi, melainkan krisis akal dan kebijaksanaan,” ujar Rizal.

Untuk memperjelas gagasannya, Rizal mengajak peserta untuk melihat kembali letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Kejadian ini menyebabkan penurunan suhu global yang dikenal sebagai Tahun Tanpa Musim Panas, yang berdampak pada gagal panen, krisis pangan, perpindahan penduduk yang besar, hingga ketidakstabilan politik di Eropa dan Amerika Utara.

“Tambora menunjukkan bahwa bencana bukan hanya kejadian alam. Ia menjadi bencana karena bertemu dengan ketidaksiapan manusia,” kata Rizal.

Kemudian narasi tersebut dihubungkan dengan bencana ekologis di Sumatera saat ini. Data yang

diperlihatkan menunjukkan bahwa deforestasi besar-besaran sejak awal tahun 1990 telah mengubah peran hutan secara signifikan. Ketika hutan masih utuh, koefisien infiltrasi sangat tinggi, sekitar 90 persen air hujan diserap oleh tanah dan hanya 10 persen yang mengalir ke sungai. Setelah terjadi perubahan fungsi yang luas, situasi menjadi berlawanan: hanya sekitar 10 persen air yang terserap, sedangkan 90 persen menjadi aliran permukaan yang menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor.

Ini bukan sekadar kejadian iklim yang aneh. Ini merupakan hasil dari paradigma pembangunan yang memandang hutan…

sebagai tempat transaksi investasi, bukan sebagai sistem ekologis,” tambahnya.

Ironisnya, kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bencana jauh lebih besar dibandingkan keuntungan ekonomi dari pemanfaatan sumber daya alam. Rizal menyoroti data forest rent Indonesia, yaitu nilai ekonomi bersih dari eksploitasi hutan, yang mengalami penurunan dari sekitar 0,81 persen PDB menjadi sekitar 0,4 persen, seiring dengan kerusakan hutan dan menurunnya produktivitas dalam jangka panjang.

Kita merusak hutan, namun tidak mendapatkan keuntungan. Apa yang kita tinggalkan justru kerugian dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” tegasnya.

Forum ini juga menyoroti apa yang disebut Rizal sebagai Dunia yang Berkontradiksi. Di satu sisi,

manusia tinggal di masa kecerdasan buatan dan teknologi paling canggih; di sisi lain, keputusan masyarakat justru semakin sering mengabaikan fakta, ilmu pengetahuan, serta nilai moral.

“AI bukanlah inti permasalahan. Masalahnya terletak pada saat manusia menyerahkan proses berpikir kepada mesin, padahal mesin belajar dari data masa lalu manusia, termasuk bias dan kesalahan yang kita miliki,” kata Rizal.

Menurutnya, pendidikan terlalu menekankan penyesuaian terhadap teknologi, sementara kurang memberikan latihan dalam berpikir jernih, memahami kenyataan, dan membuat keputusan yang bermoral. Akibatnya, tingkat kecerdasan meningkat, tetapi kebijaksanaan tidak berkembang sejalan.

Rizal menganggap manusia pada masa kini telah memegang ‘Api Prometheus’, yaitu akal dan teknologi, tetapi tanpa kebijaksanaan. Oleh karena itu,human reset menjadi prasyarat sebelum education reset dijalankan.

Sebagai solusi, Rizal menekankan kepentingan Reset Pendidikan melalui pendekatanliberal artsbukan sebagai pelajaran yang baru, melainkan sebagai kerangka pemikiran.

Liberal artsbukan kurikulum Barat atau pelajaran tambahan. Ia merupakan alat untuk

memperbaiki cara manusia berpikir, merasakan, dan bertindak,” katanya.

Rizal menyampaikan bahwa sistem pendidikan saat ini kehilangan dua hal sekaligus: alat berpikir

(trivium: logika, bahasa, retorika) serta kesadaran akan ketertiban alam (quadrivium: angka dan harmoni alam). Tanpa keduanya, pendidikan berpotensi menghasilkan manusia yang cakap secara teknis, tetapi lemah secara moral.

Ide ini, menurut Rizal, selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang

menganggap pendidikan sebagai proses membimbing manusia agar utuh dan bebas, bukan hanya sekadar terampil.

Tidak ada penutupan pendidikan dengan pernyataan atau rekomendasi kebijakan. Namun kekhawatiran yang tersisa justru menjadi pesan utamanya.

“Jika pendidikan terus menghasilkan manusia yang cerdas namun tidak bijaksana. Kita tidak sedang”

menciptakan masa depan, bukan mengatur krisis berikutnya,” katanya.

Pertanyaan ini kini ditujukan kepada masyarakat: jika data tersedia, ilmu pengetahuan berkembang, dan teknologi semakin maju, mengapa keputusan yang kita ambil justru semakin merusak? Apakah pendidikan masih membentuk manusia atau justru sebaliknya?

Membahas pendidikan meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Riyanto, seorang guru dan aktivis GSM dari Pekalongan, menyatakan forum ini memberikan refleksi yang jarang ditemukan dalam pelatihan formal.

“Materi semacam ini seharusnya bisa diperoleh oleh guru-guru di Indonesia. Mulai dari awal hingga akhir tidak ada yang meninggalkan tempat duduknya. Acara besar, materi bernilai tinggi, tetapi gratis. Semua peserta hadir dengan biaya sendiri, tanpa SPPD, bahkan dari luar kota dan luar pulau seperti Tangsel, Bogor, Pangandaran, Pemalang, Jepara, Pekalongan, Semarang, Rembang, Surabaya, Bondowoso, hingga Kalimantan,” katanya.

Pos terkait