Kenapa orang tetap membuat resolusi tahun baru padahal sering gagal?

Momen pergantian tahun sering kali menjadi titik balik bagi banyak orang untuk menyusun daftar harapan baru.

Mulai dari keinginan menurunkan berat badan, berhenti merokok, hingga menabung lebih banyak, fenomena ini kita kenal sebagai resolusi tahun baru.

Bacaan Lainnya

Namun, di balik semangat yang meluap di awal bulan Januari, tersimpan sejarah panjang ribuan tahun dan alasan ilmiah mengapa daftar keinginan tersebut kerap berakhir menjadi wacana belaka.

Sejarah resolusi tahun baru

Dikutip dari History.com, sejumlah catatan menyebut tradisi resolusi sudah dilakukan sekitar 4.000 tahun lalu oleh masyarakat Babilonia kuno.

Dalam perayaan tahun baru mereka, orang-orang membuat janji, misalnya membayar utang atau mengembalikan alat pertanian yang dipinjam, sebagai bagian dari upaya meraih dukungan para dewa.

Jika janji ditepati, dewa diyakini akan memberikan berkah sepanjang tahun.

Konsep ini berlanjut pada masa Romawi Kuno.

Dirangkum dari Britannica, Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun sekitar tahun 46 SM.

Nama Januari diambil dari Janus, dewa bermuka dua yang melihat ke masa lalu dan masa depan.

Orang Romawi memberikan persembahan kepada Janus dan berjanji untuk berkelakuan baik di tahun mendatang.

Seiring berjalannya waktu, elemen keagamaan dalam resolusi mulai bergeser.

Pada era modern, resolusi lebih bersifat sekuler dan berfokus pada pengembangan diri atau kesehatan fisik individu.

Kenapa resolusi tahun baru terasa menjadi hal yang penting?

Dikutip dari Psych Reg, secara psikologis, resolusi tahun baru terasa penting karena mencerminkan keinginan bawaan untuk peningkatan dan pertumbuhan diri.

Ini bukan sekadar tentang tujuannya, tapi sebagai simbol permulaan dan memberikan harapan serta kemungkinan-kemungkinan baru.

Dengan menetapkan resolusi tahun baru, kita akan merasa adanya kemungkinan untuk aktualisasi diri dan pemenuhan potensi pribadi.

Artinya, resolusi tahun baru adalah tentang memiliki harapan.

Mengapa resolusi tahun baru sering gagal?

Meski dibuat dengan niat dan harapan untuk lebih baik, statistik menunjukkan bahwa mayoritas resolusi justru gagal di tengah jalan. Bahkan hanya 12 persen yang benar-benar bisa dilakukan.

Banyak orang mengira kegagalan resolusi semata karena kurang disiplin.

Padahal, dikutip dari Psychology Today, beberapa pola umum yang menyebabkan kegagalan adalah resolusi terlalu besar, terlalu kabur, dan tidak punya ukuran harian yang bisa dipenuhi.

Ini membuat motivasi cepat turun ketika tidak melihat kemajuan besar.

Masalah lain adalah resolusi sering dipasang seperti “perombakan identitas” dalam satu malam.

Resolusi yang sifatnya “overhaul” atau berbasis rasa malu cenderung rapuh, karena mendorong perubahan besar tanpa fondasi rutinitas yang realistis.

Secara garis besar, 4 faktor yang membuat resolusi tahun baru sering gagal adalah:

1. Tujuan yang terlalu ambisius

Banyak orang membuat target yang tidak realistis tanpa mempertimbangkan kapasitas harian mereka.

2. Kurangnya rencana spesifik

Menuliskan keinginan “Saya ingin lebih sehat” jauh lebih sulit dicapai dibandingkan “Saya akan berjalan kaki 30 menit setiap pagi”.

3. False hope syndrome

Adanya ekspektasi bahwa perubahan perilaku akan mengubah hidup secara instan. Ketika hasil tidak terlihat cepat, motivasi pun menurun.

4. Kesiapan mental

Perubahan perilaku memerlukan kesiapan sistem saraf pusat untuk membentuk kebiasaan baru, yang sering kali membutuhkan waktu lebih dari sekadar hitungan minggu.

Cara membuat resolusi tahun baru yang lebih masuk akal

Dirangkum dari laman American Psychological Association (APA), perubahan yang lebih mungkin bertahan biasanya dibangun dari target kecil yang realistis, bukan satu target besar yang terasa berat sejak hari pertama resolusi.

APA juga menekankan pentingnya membuat tujuan yang dapat dijalankan dan dipantau, bukan sekadar niat umum.

Berikut tips agar resolusi tahun baru bisa terlaksana.

1. Ubah jadi langkah kecil

Salah satu saran kunci dari APA adalah memecah target besar menjadi langkah kecil yang dapat dicapai.

Target kecil membantu seseorang membangun rasa mampu (self-efficacy) karena ada progres yang bisa dirasakan, lalu progres itu menjadi bahan bakar untuk konsistensi.

Langkah-langkah kecil ini akan membentuk kebiasaan yang lebih efektif. Keberhasilan kecil juga memicu dopamin yang mendorong untuk terus melakukannya.

2. Dibuat spesifik dan terukur

Dilansir dari Psychology Today, tujuan yang jelas dan bisa diukur cenderung lebih mudah dijalankan dibanding resolusi yang terlalu umum seperti “harus lebih sehat” atau “harus lebih produktif”.

Anda bisa menuliskan resolusi yang lebih spesifik misalnya “jalan pagi 30 menit pukul 06.00” atau “membaca buku X 5 halaman sebelum tidur”.

3. Fokus pada satu perubahan

Mencoba mengubah seluruh aspek hidup secara bersamaan akan menguras willpower atau tekad.

Fokuslah pada satu resolusi utama hingga menjadi kebiasaan otomatis sebelum beralih ke target berikutnya.

4. Pilih langkah antisipasi

Selain itu, perencanaan juga perlu menyentuh situasi nyata yang sering menjebak.

Contohnya, jika resolusi adalah mengurangi konsumsi gula, rencana tidak cukup berhenti pada “mulai besok”. 

Tetapi, Anda juga perlu menyiapkan respons saat menghadapi pemicu seperti rapat yang selalu menyediakan kudapan manis.

5. Antisipasi kegagalan

Kegagalan kecil adalah hal wajar dalam proses perubahan.

Jika Anda melewatkan satu hari olahraga, jangan anggap resolusi tersebut gagal total. Segera kembali ke rutinitas pada kesempatan berikutnya.

Dikutip dari Time, kegagalan kecil itu wajar dan resolusi masih bisa di-restart kapan saja dengan strategi yang lebih tepat.

Pada akhirnya, resolusi tahun baru bukan soal membuat daftar panjang.

Yang lebih menentukan adalah apakah resolusi itu bisa diulang besok, lusa, dan minggu depan, tanpa bergantung pada semangat sesaat di awal Januari.

Pos terkait